Buzzer dan Suara Bising yang Menggoda

- Rabu, 25 Juli 2018 | 14:13 WIB
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Media sosial jadi “ladang” bagi segala hal. Mulanya hanya berfungsi untuk membangun jejaring, tapi kemudian media sosial menjelma wadah praktik curhat dan ajang pamer. Tak berhenti di situ, kini fungsi media sosial kian bergeser menjadi ajang kampanye politik dan medium promosi paling tokcer.

Kiranya itu yang terjadi selama beberapa tahun ke belakang, hingga kini kita mengenal istilah buzzer. Kamus Merriam Webster mengartikan “buzzer” sebagai sesuatu yang ramai; khusus; perangkat sinyal listrik yang menghadirkan gangguan suara. Dalam lingkup sosial, buzzer diartikan sebagai sebuah subyek—atau seseorang—yang berpotensi menjadi pengeras suara dan menggemakan sebuah wacana.

Awalnya hanya sebuah hobi. Entah itu hobi mencuit di Twitter atau mengunggah foto-foto cantik di Instagram. Kini, hobi itu berubah menjadi segepok rupiah yang nilainya tak sedikit. Pelan-pelan, buzzer seolah-olah menjadi “profesi” yang dilirik banyak orang.

Tak terlalu susah, seorang buzzer hanya bertugas untuk memproduksi konten lewat berbagai medium untuk membantu pihak-pihak tertentu mempromosikan diri atau produknya. Mereka bisa bekerja untuk apa pun, baik itu mempromosikan dagangan cilok sampai membangun personal branding seorang tokoh.

Wajar saja jika penggunaan jasa buzzer kian menggila. Indonesia termasuk ke dalam lima besar pengguna Twitter dan Facebook terbanyak secara global. Penelitian yang dipublikasikan oleh We Are Social bersama Hootsuite pada Januari 2018 lalu menyebutkan sebanyak 130 juta dari 265,4 juta penduduk di Indonesia tercatat aktif menggunakan media sosial. Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu sebanyak 3 jam 23 menit untuk berselancar di linimasa.

Akhirnya, media sosial tumbuh menjadi pasar potensial, baik secara ekonomis maupun politis. Peluang ini pula yang ditangkap oleh berbagai aktor, mulai dari industri periklanan hingga para pemain politik. Para pelaku ini menyuarakan kepentingannya dengan kicauan atau unggahan berbayar melalui para buzzer.

Penelitian yang dilakukan oleh Centre for Innovation Policy Governance (CIPG) mencoba mendefinisikan secara jelas apa yang dimaksud dengan “buzzer”. Penelitian yang dipublikasikan pada November 2017 lalu itu menyebut bahwa buzzer adalah individu atau akun yang memiliki kemampuan atau amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan membangun percakapan untuk motif tertentu. “Ringkasnya, buzzer adalah pelaku buzzing—membuat suara-suara bising seperti lebah,” tulis CIPG.

AYO BACA : Kugantungkan Harapan Bisnisku pada Buzzer

Penelitian itu juga mengklasifikasikan empat karakter buzzer. Pertama, adalah jaringan luas. Artinya, seorang buzzer dipastikan punya akses langsung ke informasi kunci. Kedua, adalah kemampuan memproduksi konten. Ketiga, adalah persuasif. Ini adalah salah satu kunci yang paling diperhatikan para pelaku—baik itu agensi atau perorangan. Dalam hal ini, nilai engagement seorang buzzer menjadi indikator penting. Terakhir, adalah digerakkan oleh motif tertentu, baik itu karena alasan ekonomi ataupun sukarela.

Halaman:

Editor: Asri Wuni Wulandari

Tags

Terkini

X