Serikat Pekerja Nilai Rekomendasi UMP Jabar di Angka 7,88 tidak Ideal, Singgung BBM Naik

- Sabtu, 26 November 2022 | 16:01 WIB
Serikat buruh SPN Provinsi Jawa Barat menggelar aksi damai di depan Pengadilan Negeri (PN) Kelas I Bandung, Jalan L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Serikat buruh SPN Provinsi Jawa Barat menggelar aksi damai di depan Pengadilan Negeri (PN) Kelas I Bandung, Jalan L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

 

AYOBANDUNG.COM -- Angka kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Barat (Jabar) sebesar 7,88 persen akan direkomendasikan ke Ridwan Kamil. Namun, serikat pekerja menilai angka rekomendasi tersebut tidak ideal dan dikaitkan dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Ketua Umum DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat, Roy Jinto Ferianto, mengatakan bahwa seharusnya kenaikan UMP Jabar sebesar 12 persen.

"Kalau dari rekomendasi serikat pekerja dari buruh dalam rapat dewan pengupahan provinsi itu, untuk UMP, itu 12 persen. Inflasi Jabar kan 6,12, pertumbuhan ekonomi Jabar 5,88. Ketika kita menjumlah maka itu sekitar 12 persen," kata Roy saat dihubungi, Sabtu, 26 November 2022.

Roy mengungkapkan, angka kenaikan sebesar 7,88 persen tidak ideal bagi pekerja. Apalagi, kebutuhan masyarakat semakin meningkat seiring dengan naiknya harga BBM.

Baca Juga: Aman dan Nyaman! Link Nonton First Love (2022) Drama Series Jepang Netflix Episode 1-9 HardSub Indonesia

"Sebenarnya tidak ideal, karena kan kemarin tidak naik. Kemudian ada dampak kenaikkan BBM. Penyesuaian kenaikan UMP itu sebenarnya harus mempertimbangkan dampak kenaikan bbm. Kalau kita lihat dampak kenaikan BBM. Belum bisa ideal untuk menjaga daya beli dari temen-temen buruh," ungkapnya.

Roy menuturkan, pihak tidak menyetujui penggunaan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Republik Indonesia nomor 18 tahun 2022 sebagai acuan penyesuaian UMK.

"Penyesuaian kenaikan upah minimum, dengan ada rumus perkalian alpa, maka itu jadi faktor pengurang, sehingga di permen itu maksimal 10 persen itu nampaknya tidak akan ada yang 10 persen. Karena ada pengalian PE dikali Alpa," tuturnya.

Halaman:

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X