Pola Agroforestry Cibulao, Konservasi Lingkungan Sekaligus Dukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Warga

- Jumat, 14 Oktober 2022 | 17:08 WIB
Pola Agroforestry Cibulao, Konservasi Lingkungan Sekaligus Dukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Warga (Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Pola Agroforestry Cibulao, Konservasi Lingkungan Sekaligus Dukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Warga (Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

BOGOR, AYOBANDUNG.COM -- Hidup dalam keterbatasan tak menghentikan ikhtiar masyarakat di perkampungan pemetik teh Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dengan tetap menjaga lingkungan. Warga yang kala itu umumnya merupakan para pekerja atau buruh pemetik teh di kebun milik perusahaan swasta kini menjadi penanam kopi dan pelestari alam.

Jumpono, salah satu inisiator yang berupaya memulihkan kawasan Puncak itu dari ambang kehancuran bencanala alam, perlahan mengubah perilaku warga sekitar dari perambah hutan menjadi pelaku konservasi hutan. Terlebih hampir separuh kawasan tersebut diselimuti lahan kritis. Tak jarang, kondisi alam di kawasan titik 0 km Ciliwung ini kerap dikaitkan sebagai penyebab banjir di ibu kota, Jakarta.

Namun, seakan enggan memupuk kekesalan atas kegaduhan saling tuduh penyebab bencana, Jumpono dan kawan-kawan membangun kesadaran warga di tempat tinggalnya dengan menanami areal hutan yang masih kosong dengan pohon kopi. Berangkat dari ikhtiar ini, mereka membentuk sebuah Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao.

Jumpono selaku ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao menuturkan, proses merintis kelompok ini dimulai dengan hanya beranggotakan 10 orang warga sekitar. Akhirnya pada 2017, KTH Cibulao mendapat dukungan sebagai mitra potensial dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Barat. Data terbaru di 2022 ini, KTH Cibulao kini beranggotakan 68 orang. Sementara untuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktak) Desa Tugu Utara kini berangkotakan sekitar 300 Kepala Keluarga yang sudah tergabung dalam budidaya kopi.

"Tadinya kawasan ini adalah kawasan hortikultura dan untuk tata ruang memang kurang mendukung. Makanya kami terus berinovasi bagaimana caranya untuk melakukan konservasi hutan. Mengingat kekesalan kami karena banyak dicap jika Ciliwung ini penyebab banjir, padahal itu bisa dibuktikan. Apakah penyebab banjir itu hulunya atau hilirnya, atau di tengahnya. Soalnya kalau kami melihat masalah ekonomi itu gak jauh dengan tata ruang yang konsepnya amburadul. Makanya kami harapkan penetapan kawasan itu sangat diperlukan," ungkap Jumpono saat ditemui wartawan di kampung Cibulao, Kamis (29/9/2022).

"Ke depannya untuk ketahanan pangan, kalau penetapan kawasan itu bisa diarahkan dari pemerintah di mana harusnya kawasan hortiluktura, di mana harusnya kawasan penyangga, itu supaya Jabar lebih unggul, karena dibanding provinsi lain itu sangat memungkinkan dan saya melihat Jabar ini potensinya sangat luar biasa dibandingan provinsi lain untuk kesuburan tanah dan lainnyau. Untuk potensi sangat luar biasa," tambah Jumpono.

Pola Agroforestry Cibulao, Konservasi Lingkungan Sekaligus Dukung Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Warga (Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Jumpono menjelaskan, kawasan Cibulao ini sedianya menjadi areal yang berbatasan dengan Kabupaten Cianjur. Dengan anggota yang kini mencapai 300 KK dari lima kampung di sekitar Kampung Cibulao, beberapa tahun belakangan KTH Cibulao juga dipercaya mengelola areal hutan Perum Perhutani di Cisarua dengan total luas sekitar 610 hektare. Hingga kini, sudah 400 hektare yang dihijaukan, yakni ditanami batang pohon kopi dengan pola agroforestry. Sekadar informasi, pola agroforestry ini adalah program Perhutanan Sosial (PS) yang ditujukan untuk memberikan akses legal bagi masyarakat sekitar untuk turut mengelola kawasan hutan.

Tak hanya itu, Jumpono menyampaikan, KTH Cibulao melakukan konservasi hutan dengan menanam kopi di bawah tegakan untuk penyelamatan hutan. Adapun 200 hektare lahan lainnya ditetapkan untuk jadi hutan alam sekunder di mana di dalammya berbasis jasling atau jasa lingkungan untuk wisatawan.

"Karena kami di sini kawasan Puncak, kawasan wisata tetapi tanpa mengubah fungsi kawasan dan tetap menghijaukan kawasan itu, dan menjadikan pendapatan warga sekitar. Cibulao ini kenapa kita berdiri dan Alhamdulillah hingga difasilitasi menjadi mitra BI, karena berangkat dari keterbatasan, di mana notabenenya kami di sini adalah buruh perkebunan teh," kata Jumpono.

Dia juga menuturkan, sesungguhnya masyarakat sadar bahwa hidup mereka bergantung dari kelestarian alam. Namun, di satu sisi, mereka juga mempunyai kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi yang terkadang memaksa mereka harus merusak lingkungan, salah satunya dengan menebang pohon untuk menambal biaya hidup.

"Masyarakat di sini sebelum berkelompok tani untuk mendapatkan penghasilan tambahan karena upah buruh perkebunan teh kecil alternatifnya adalah hutan. Dulu dari tahun 90-an hingga 2000-an, itu masayarkat mencari alternatif kebutuhan dengan menebang kayu untuk dijual," kata Jumpono.

Jumpono mengatakan, bahkan untu berandai-andai mendapat upah setara UMR pabrik saja terlalu jauh, mengingat upah sebagai buruh pemetik teh yang teramat kecil. Namun, kini untuk beberapa anggota kelompok di tingkat pentani sudah bisa mengantongi upah UMR bahkan UMR sekelas Kota Bandung. Artinya, lanjut Jumpono, konsep agroforestry di Cibulao ini berangsur memberian kontribusi untuk kesejahteraan masyarakat sekitar sebagai upaya menjaga ketahanan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Di sini Alhamdulillah bagi yang sudah mengikuti kelompok tani itu sekarang untuk kesejahteraannya lumayan sangat meningkat, dan perekonomiannya sudah mulai membaik," katanya.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Terkini

X