Film ‘Wadon Ora Didol’ Angkat Praktik Perkawinan Anak sampai Efeknya

- Selasa, 5 Juli 2022 | 10:12 WIB
Film ‘Wadon Ora Didol’ Angkat Praktik Perkawinan Anak sampai Efeknya.
Film ‘Wadon Ora Didol’ Angkat Praktik Perkawinan Anak sampai Efeknya.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Perkawinan anak masih menjadi masalah di Indonesia. Bahkan Indonesia adalah negara ke-2 tingkat ASEAN dan ke-8 dunia dengan jumlah perkawinan anak terbanyak.

Salah satu daerah yang jumlah perkawinan anaknya tinggi adalah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Di Indramayu, perkawinan anak memiliki sejarah panjang dan sudah muncul sejak zaman dulu.

Baca Juga: Prostitusi Bandung: Bisnis Esek-esek Mulai Rp150 Ribuan

Di sejumlah daerah di Indramayu dikenal istilah ‘kawin gantung’. Semacam perjodohan di masa kini, yang membuat anak-anak berusia 10 tahun dinikah gantung satu sama lain.

Tradisi yang mendorong banyaknya kasus perkawinan anak di Indramayu juga didorong oleh pandangan bahwa anak perempuan sebagai aset dan kemudian bisa dinikahkan dengan orang kaya untuk mengangkat kehidupan mereka.

Tak heran banyak anak perempuan di usia yang sangat belia dinikahkan (secara paksa) dengan laki-laki pilihan orang tuanya (biasanya dengan status ekonomi lebih baik/kaya) agar bisa mengangkat kesejahteraan keluarga.

Menurut Undang-undang nomor 1 tahun 1974, batas usia perkawinan anak 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Tahun 2017, Undang-undang itu dilakukan uji materi (Judicial Review) ke Mahkamah Konstitusi oleh tiga orang perempuan Rasminah, Endang Wasrinah, dan Maryanti.

Baca Juga: Ada 1 Juta Formasi Seleksi CPNS dan PPPK 2022, Catat Rinciannya di Sini!

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X