Dari Mengamen, Adi Supriyadi Bisa Sekolahkan Puluhan Anak Jalanan

- Senin, 29 November 2021 | 15:08 WIB
Adi Supriyadi (kanan), pendiri Yayasan Senja, Cibinong, Kabupaten Bogor. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)
Adi Supriyadi (kanan), pendiri Yayasan Senja, Cibinong, Kabupaten Bogor. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)



LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Sejak belasan tahun lalu, Adi Supriyadi telah mengasuh ratusan anak jalanan. Puluhan di antaranya bisa sekolah.

Adi Supriyadi merupakan pendiri Yayasan Senja, Cibinong, Kabupaten Bogor. Yayasan ini telah didirikan sekitar 12 tahun lalu.

"Saya adalah mantan anak jalanan. Selama 35 tahun saya mengamen," ujar Adi saat webinar Fellowship Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan, Senin 29 November 2021.

Baca Juga: Riset Perguruan Tinggi, Antara Ego Sektoral dan Kebermanfaatan

Selama 35 tahun mengamen dan menjadi anak jalanan, Adi banyak bertemu dengan sesama anak jalanan di pelbagai daerah di Indonesia.

Jalanan menjadi pilihan hidupnya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Walau demikian, dia tidak menjadikan pengamen sebagai profesi.

"Saya mengamen bukan untuk mencari uang, tapi jati diri," ucapnya.

Dari pengalaman itu, Adi banyak mengetahui permasalahan anak jalanan dan pahit manisnya kehidupan.

Walaupun hidup dari jalanan, namun Adi tetap bersekolah kendati harus pindah-pindah mulai dari Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.

Dengan pendidikan yang tidak dilupakan, Adi memiliki rasa prihatin dengan kehidupan anak jalanan yang sebagian besar tidak bisa bersekolah.

"Saya prihatin dengan anak jalanan yang banyak dibunuh, dirudapaksa, ditabrak kendaraan. Akhirnya saya membuat wadah bernama Terjal yang merupakan akronim dari Terbuang di Jalanan," ungkapnya.

Komunitas tersebut merupakan wadah bagi anak-anak jalanan untuk berkumpul. Adi mengajarkan anak-anak binaannya tersebut membaca, menulis dan menghitung.

Suatu ketika, ia bercerita, salah seorang anak binaannya sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Namun, penghasilannya dari mengamen tidaklah cukup untuk membayar biaya pengobatan anak binaannya tersebut.

"Karena tidak bisa membayar, saya marah-marah sampai ribut dengan satpam," ucapnya.

Saat keributan tersebut ada seorang ibu-ibu yang tidak dikenal membawanya ke parkiran.

"Ibu itu tidak tahu siapa namanya. Dia memberikan uang dan bilang, tolong dibikin Yayasan biar mencari uang lebih mudah," katanya.

Baca Juga: Ojol Peduli Anak Jalanan dan Pemulung, Contoh Baik Saat Pandemi Covid-19

Uang pemberian dari ibu tidak dikenal tersebut dijadikan Adi membuat Yayasan Senja. Sampai sekarang sudah berdiri sekitar 12 tahun.

Dari Yayasan Senja, Adi bertemu dengan orang-orang baik, salah satunya adalah PT Paragon yang memberikan bantuan, seperti pembangunan tempat berkumpul anak jalanan yang dibina Adi.

Pelbagai masalah anak jalanan diselesai Adi menggunakan Yayasan Senja. Seperti pembuatan akta kelahiran anak jalanan untuk kepentingan administrasi, sampai menyekolahkan anak-anak jalanan. Baik ke sekolah formal, maupun paket A, B dan C.

Saat ini ada sekitar 22 anak jalanan yang disekolahkan oleh Yayasan Senja, semuanya merupakan anak jalanan, baik yang sengaja dibuang oleh orang tuanya, maupun terbuang di jalanan.

"Kalau yang menetap ada 22 anak, semuanya sekolah. Tapi yang singgah, ada sekitar 130 anak," katanya.

Kesulitan terbesar bagi anak jalanan untuk bisa disekolahkan adalah masalah administrasi. Akta kelahiran, menjadi hal umum diurus oleh Adi untuk bisa menyekolahkan anak asuhnya.

Sejak 12 tahun mengurus dan menyekolahkan anak jalanan, puluhan orang telah mengenyam pendidikan. Beberapa diantaranya ada yang menjadi guru, berwira usaha, atauh bekerja.

"Bagi saya, mereka tidak mengemis dan mengamen juga sudah menjadi keberhasilan. Mereka mau sekolah juga sudah menjadi prestasi," ujarnya.

Dia mempercayai jika diberi kesempatan dan dibujuk, anak jalanan akan mau bersekolah. Namun syaratnya adalah memberi kemudahan bagi anak jalanan untuk bisa mengenyam pendidikan.

Persyaratan administrasi memang banyak menghambat anak jalanan untuk bisa mengenyam pendidikan.

Baca Juga: Penyebab Doa Belum Terkabul dan 6 Cara Doa agar Terkabul

"Syarat di dapodik itu anak harus memiliki NIK. Sementara anak jalanan, tidak memiliki itu. Bagaimana mereka bisa mengenyam pendidikan jika masih disulitkan oleh urusan administrasi," katanya.

Padahal kata Adi, pendidikan akan menguatkan anak jalanan untuk bisa maju dan kembali kepada masyarakat.

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bacaan dan Renungan Katolik Senin 17 Januari 2022

Minggu, 16 Januari 2022 | 17:51 WIB

Renungan Harian Katolik Minggu 16 Januari 2022

Sabtu, 15 Januari 2022 | 17:22 WIB

5 Cara Cepat Dapat Kerja Bagi Fresh Graduate Kuliah

Jumat, 14 Januari 2022 | 16:25 WIB

Bacaan dan Renungan Katolik Sabtu 15 Januari 2022

Jumat, 14 Januari 2022 | 09:39 WIB

Bacaan dan Renungan Katolik Minggu 16 Januari 2022

Kamis, 13 Januari 2022 | 14:57 WIB

Bacaan dan Renungan Katolik Jumat 14 Januari 2022

Kamis, 13 Januari 2022 | 09:37 WIB

2 Pahala Puasa Ayyamul Bidh Menurut Hadis Rosulallah

Selasa, 11 Januari 2022 | 17:15 WIB
X