Menatap Meteor Jatuh saat Menuju Bumi Berbahaya, Ini Penjelasannya

- Sabtu, 27 November 2021 | 10:00 WIB
Ilustrasi Hujan Meteor; Bahaya jika manusia mencoba menatap meteor saat menuju Bumi. Astronom merekomendasikan untuk tidak melakukan itu. (Pixabay)
Ilustrasi Hujan Meteor; Bahaya jika manusia mencoba menatap meteor saat menuju Bumi. Astronom merekomendasikan untuk tidak melakukan itu. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Astronom Swinburne dan Direktur Institut Teknologi dan Industri Luar Angkasa Profesor Alan Duffy mengatakan bahaya jika manusia mencoba menatap meteor saat menuju Bumi. Dia merekomendasikan untuk tidak melakukan itu.

“Saran terbaik saya jangan menatap asteroid walaupun itu sulit dilakukan karena ada kecerahan dari benda-benda yang terbakar di atmosfer,” kata Duffy dalam podcast I’ve Got News For You.

Kondisi bahaya manusia menatap asteroid yang sangat cerah ini, akan menyebabkan kerusakan retina. Itu yang terjadi pada orang-orang di Chelyabinsk, Rusia.

Baca Juga: Chord Gitar Buih Jadi Permadani by Zidan dan Tri Suaka Lengkap dengan Lirik Lagunya

Batu ruang angkasa besar terakhir yang masuk ke Bumi adalah Meteor Chelyabinsk yang terbakar di atas Rusia pada Februari 2013. Cahaya dari meteor itu sedikit lebih terang dari matahari dan terlihat hingga 100 kilometer.

Dinukil Republika.co.id, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika (NASA) kini telah memulai misi yang dapat mencegah situasi serupa seperti di Chelyabinsk. NASA akan menembakkan rudal bermuatan bahan peledak ke asteroid besar untuk melihat apakah mereka dapat menjatuhkannya.

Baca Juga: 30 HP Samsung Terbaru, Cek Daftar Harga dan Spesifikasinya

Dilansir News.com.au, Jumat (26/11), misi Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA menembakkan roket SpaceX pada 24 November dengan rudal yang diperkirakan akan menghantam Dimorphos pada September 2022. Namun, Duffy mengatakan seharusnya tidak ada kekhawatiran besar tentang batu luar angkasa raksasa yang menabrak Bumi.

"Asteroid adalah masalah, seperti ukuran milik Dimorphos sekitar 160 meter. Itu dikenal sebagai pembunuh kota yang pada dasarnya bisa menghancurkan seluruh wilayah metropolitan. Hal-hal itu akan menghantam bumi sekitar sekali setiap 1.000 atau 2.000 tahun. Jadi, ini bukan peristiwa yang sangat langka menurut standar geologi, tetapi mungkin bukan sesuatu yang akan kita khawatirkan,” tambahnya.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Foto Rumah Upin Ipin Asli di Dunia Nyata, Benar Ada?

Minggu, 16 Januari 2022 | 21:46 WIB

Link Video Belatung Viral di TikTok dan Twitter

Minggu, 16 Januari 2022 | 08:32 WIB
X