SMP Djuantika, Penyelamat Angka Putus Sekolah di Cicalengka

- Selasa, 23 November 2021 | 17:58 WIB
Bangunan SMP Djuantika, sekolah yang menjadi penyelamat angka putus sekolah di Cicalengka. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)
Bangunan SMP Djuantika, sekolah yang menjadi penyelamat angka putus sekolah di Cicalengka. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)
 
CICALENGKA, AYOBANDUNG.COM -- Di antara rumah-rumah panggung, terdapat dua bangunan. Tidak terlalu besar, namun cukup kokoh. Dua bangunan tersebut memiliki beberapa ruangan yang terdapat sejumlah kursi tanpa bangku. Bangunan tersebut adalah tempat belajar siswa SMP Djuantika, penyelamat angka putus sekolah di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalngka, Kabupaten Bandung.

Halamannya hanya berbentuk teras, tanpa ada lapangan upacara atau benteng penghalang antara bangunan sekolah dengan pemukiman masyarakat. Nampaknya, bangunan sekolah didirkan di lahan bekas rumah-rumah warga.

Selasa 23 November 2021, nampak tidak ada kegiatan pembelajaran. Tiga orang remaja berusia belasan tahun yang diketahui bernama Aji, Egi dan Ugih hanya duduk di teras sebuah rumah. Mereka adalah siswa SMP Djuantika. "Sekolahnya diliburkan," ucapnya singkat.
 
Baca Juga: Link Download WhatsApp GB APK 2021 dan Fitur Lengkapnya, Bisa Kirim Pesan Terjadwal

Biasanya menurut mereka, sekolah libur pada Jumat dan Sabtu untuk pembelajaran Daring. Berbekal nomor telepon yang didapat dari ketiga siswa tadi, Ayobandung.com mencoba menghubungi Agus Akmaludin, Kepala Sekolah SMP Djuantika. Dia mengonfirmasi jika sedang ada kegiatan di sekolah lain yang mengharuskan seluruh guru mengikuti kegiatan tersebut, sehingga terpaksa sekolah diliburkan dan diganti dengan pembelajaran Daring.

"Kebetulan, sedang ada kegiatan. Jadi diliburkan dulu untuk PTM hari ini," katanya.

SMP Djuantika yang terletak di Kampung Rancabelut, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sekolah yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk tersebut awalnya hanya berupa kegiatan les.

Sekitar tahun 2009, sekelompok Lembaga Swadaya Masyarakat Frekuaensi mencari daerah binaan dengan akses tidak terjangkau pendidikan. Kampung Rancabelut dipilih setelah melihat angka putus sekolah yang tinggi.

"Mulanya hanya dilakukan bimbingan belajar kepada anak-anak," ucapnya.

Pada awalnya, bimbingan belajar dilakukan di rumah-rumah penduduk, namun terus berkembang yang pada akhirnya memiliki sebuah bangunan terbuat dari bambu. Di bangunan tersebut, puluhan anak ikut belajar. Sampai akhirnya berkembang menjadi SMP terbuka yang menginduk ke SMPN 1 Cicalengka.

Ijazah, sampai ujian pun dilakukan di SMPN 1 Cicalengka, hanya proses belajar dilakukan di bangunan semi permanen yang dibangun oleh swadaya relawan dan masyarakat.
 
Baca Juga: 30 HP Samsung Terbaru 2021, Yuk Cek Daftar Harganya

Hingga akhirnya, bimbingan belajar yang berubah menjadi SMP terbuka tersebut bertransformasi menjadi SMP bernama Djuantika dikelola Yayasan yang didirikan oleh para relawan pengajar di SMP tersebut.

"2018 mendapat izin dan pada 2019 terakreditasi B," katanya.

Kondisi pembelajaran siswa SMP Terbuka (cikal-bakal SMP Djuantika). Foto diambil pada 2015. (Ist)

Izin Pendirian Spesial
Jika melihat bangunan sekolah yang berdempetan dengan rumah-rumah penduduk, SMP Djuantika nampaknya sulit mendapat izin operasional dari Dinas Pendidikan. Namun, nyatanya sekolah tersebut sudah berdiri sejak 2018.

Lahannya hanya berukuran lebih kurang 150 meter persegi yang hampir seluruh tanah dijadikan bangunan. Jauh dari standar pendirian sekolah satu lantai dengan 3 rombongan belajar, minimal harus memiliki lahan seluas lebih kurang 2.000 meter persegi.

Bahkan, karena keterbatasan lahan, tidak ada lapangan untuk menggelar upacara bendera setiap senin.

Agus mengakui jika ada perlakuan spesial dari Dinas Pendidikan yang memberi izin operasional untuk pendirian sekolah.
 
Baca Juga: Rekomendasi 7 Link Download Lagu MP3 Gratis dan Resmi Tanpa Aplikasi, Terbaru November 2021

"Memang dimudahkan oleh Dinas Pendidikan. Mungkin karena ada bantuan dari media juga, jadi dipermudah dan mengesampingkan syarat minimal luas lahan," ujarnya.

Perlakuan spesial memang pantas diberikan, pasalnya keberadaan SMP benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Jarak SMP terdekat berada di pusat ibu kota Kecamatan Cicalengka yang berjarak lebih kurang 8 KM. Dengan akses angkutan terbatas, hanya satu dua angkutan yang beroperasi.

Ongkos yang tinggi membuat masyarakat berat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang lebih tinggi, terlebih sebagian besar warga berprofesi sebagai buruh tani.

Dibangun Dengan Swadaya
Dua bangunan tersebut dibagi menjadi 4 ruangan. Tiga ruangan untuk belajar, satu ruangan yang difungsikan untuk ruang guru. Maasing-masing ruangan memiliki luas berbeda.

Agus mengatakan, ruang guru memiliki luas 3X4 meter yang diisi oleh 13 guru dan tenaga pendidik lainnya. Bahkan Kepala Sekolah juga turut di ruangan tersebut. Tiga ruangan lainnya digunakan untuk KBM. Masing-masing memiliki luas 4X6 meter, 4X9 meter dan 8X5 meter.

"Semuanya dibangun atas swadaya," ujarnya.

Keberadaan SMP yang sangat dibutuhkan, memang membuat masyarakat antusias. Mereka bergotong-royong turut membangun sekolah. Termasuk juga para guru yang sampai secara swadaya untuk membeli lahan dari masyarakat.

"Lahannya memang hasil iuran guru, donator dan masyarakat. Dibelinya dari swadaya, atas namanya tetap Yayasan Frekuensi Indoensia," katanya.

Saat ini tiga lokal kelas tersebut digunakan hampir 100 anak untuk belajar yang berasal dari Desa Tangjungwangi, Dampit dan beberapa anak dari Kabupaten Sumedang.

"Siswa kelas VII berjumlah 38 siswa, Kelas VIII 30 siswa dan kelas IX ada 26 siswa," katanya.
 
Baca Juga: HP Oppo Terbaru Siap Rilis, Cek Harga Oppo Reno7 SE

Penyelamat Pendidikan Anak
Walaupun dengan segala keterbatasan dan dibangun dari swadaya, namun SMP Djuantika menjadi penyelamat pendidikan anak dua desa di Kecamatan Cicalengka yakni Desa Tanjungwangi dan Desa Dampit.

Di dua desa tersebut sampai sekarang hanya ada 1 SMP, yakni Djuantika. SMP terdekat berada di desa lain yang berada di wilayah Kabupaten Sumedang.

Sebelum ada SMP Djuantika, sebagian masyarakat memilih tidak menyekolahkan anaknya setelah lulus SD.

"Dulu angka putus sekolah dari SD ke SMP sangat tinggi," ungkapnya.

Namun, kini di dua desa tersebut nyaris tidak ada siswa SD yang berhenti sekolah dengan alasan biaya.

"Kemarin juga kami baru mendapat ucapan terima kasih dari masyarakat, karena sejak ada SMP Djuantika, nyaris tidak ada lagi anak putus sekolah," katanya.

Bahkan, tidak sedikit siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Setidaknya 50% siswa SMP Djuanda melanjutkan ke SMA, SMK atau sederajat, beberapa diantaranya sampai melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebagiannya ada yang bekerja di sektor formal, non formal bahkan ada yang mengabdikan diri di Desa.

Padahal, sebelumnya rata-rata anak hanya sekolah sampai SD. Hal tersebut dikarenakan, selama sekolah siswa terus diberi motivasi untuk melanjutkan pendidikan.

Sejak berdiri, SMP Djuanda telah memiliki alumni lebih kurang 300 orang yang berasal dari warga skekitar. Adanya SMP tersebut, telah menyelamatkan ratusan orang dari putus sekolah.
 
Baca Juga: Link Download MP3 Buih Jadi Permadani Cover by Zidan dan Tri Suaka, Viral di TikTok

Membutuhkan Bantuan
Keterbatasan lahan masih menjadi masalah. Sebanyak 90 lebih siswa harus berdesakan untuk belajar di ruangan sempit. Tidak adanya meja untuk belajar siswa menjadi salah satu cara agar siswa tetap belajar. Ruangan kecil diisi oleh kursi-kursi yang diberi papan kecil pada bagian lengan untuk siswa menulis.

Agus mengatakan, selama PTM terbatas, pihaknya melakukan pengaturan jadwal pembelajaran. Biasanya, KBM dilakukan pagi dan sore.

"Namun kalau PTM sudah normal, mau tidak mau siswa harus berdesakan kembali," katanya.

Bahkan, karena keterbatasan ruangan, tidak jarang guru melakukan inovasi ruang pembelajaran. Kebun, sawah, sungai, atau tempat terbuka lainnya sering digunakan tempat belajar karena ruangan yang penuh.
 
Baca Juga: Info Daftar Vaksin Online Bandung Update November 2021, Termasuk Pfizer, Catat Jadwalnya!

Pembelajaran di luar ruangan, menjadi slogan lain bagi SMP Djuantika. "Ruangan belajar kami seluas bumi dan langit," ucapnya.

Bantuan dari pihak lain sangat dibutuhkan oleh SMP Djuantika yang telah menjadi penyelamat angka putus sekolah di Cicalangka.
 
 

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Perpustakaan di Pelosok Cicalengka Ini Dirintis Remaja

Minggu, 5 Desember 2021 | 19:00 WIB

Cegah Fanatisme Kearifan Lokal Secara Berlebihan

Kamis, 2 Desember 2021 | 14:04 WIB

Aplikasi Parenting, Awasi Anak saat Gunakan Gadget

Kamis, 25 November 2021 | 16:59 WIB

Hukum Berbohong kepada Istri, Simak Penjelasannya!

Jumat, 19 November 2021 | 20:18 WIB

Peringati Maulid Nabi, DKM Ikomah Gelar Lomba Kultum

Minggu, 31 Oktober 2021 | 12:21 WIB
X