Gubenur Jawa Barat Ridwan Kamil Sampaikan Pemulihan Sungai Citarum di Konferensi Dunia COP26

- Selasa, 2 November 2021 | 20:20 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mempresentasikan perkembangan Sungai Citarum pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26. (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mempresentasikan perkembangan Sungai Citarum pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26. (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)
 
GLASGOW, AYOBANDUNG.COM — Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mempresentasikan perkembangan Sungai Citarum pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26.
 
 
Acara tersebut berlangsung pada Selasa, 2 November 2021, di Venue Indonesia Pavilion at COP 26 - UNFCCC, Glasgow, Skotlandia.
 
Ridwan Kamil memaparkan progres keberhasilan pembersihan Sungai Citarum dalam dialog yang bertema “Panel Dialogue: Scaling Up Governance and Collaborative Actions In Combinating Marine Plastic Litter Towards Climate Actions In Indonesia.”
 
Ridwan Kamil menjelaskan, dirinya ditugaskan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo untuk melakukan revitalisasi Sungai Citarum pada tahun 2018. Tepat pada tahun pertama Ridwan Kamil menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
 
“Saya ditugaskan oleh presiden, pada tahun 2018 untuk melakukan revitalisasi dan pembersihan sungai (Citarum) yang pada satu waktu pernah menjadi salah satu sungai terkotor di dunia, ini tantangan yang sangat berat,” ujar Ridwan Kamil pada Selasa, 2 November 2021.
 
Selain itu, ia juga mendapat tugas untuk membuat strategi dan cara untuk mengurangi limbah yang masuk ke Sungai Citarum serta mengurangi sampah plastik yang terbawa ke lautan.
 
Pada saat pertama ditugaskan, ia menyebutkan kondisi Sungai Citarum yang sangat kotor akibat limbah industry, limbah warga hingga perubahan struktur tanah akibat penggunaan lahan di sekitar Sungai Citarum.
 
“Sebagai pemimpin, hal yang paling mahal yang bisa diberikan seorang pemimpin adalah political will. Saya ambil tantangan ini, saya kumpulkan seluruh stake holder di seluruh Jawa Barat. Terbukti, dalam 3 tahun, Sungai Citarum kini sudah memiliki kualitas air yang jauh lebih baik,” bebernya.
 
Selain kualitas air yang jauh lebih baik, menurutnya ikan-ikan yang sempat menghilang akibat polusi kini sudah mulai bermunculan Kembali.
 
Ia menambahkan, untuk masalah pengurangan limbah plastic yang ikut terbuang ke laut pun kini sudah semakin berkurang denga program yang dijalankan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
 
Ridwan Kamil juga menyinggung masalah pengelolaan botol plastik bekas yang didaur ulang dan bisa digunakan kembali.
 
Bahkan, Provinsi Bali dan Sulawesi mengirim limbah botol plastiknya ke Jawa Barat karena fasilitas pengolahan limbah ini hanya ada satu di Indonesia yaitu di Jawa Barat.
 
“Jawa Barat menjadi satu satunya provinsi yang memiliki fasilitas pengolah limbah botol plastik. Harapan saya kepada para stakeholder, mari kita buat lebih banyak lagi (Fasilitas Pengolahan Limbah). Tidak hanya di Jawa Barat namun di setiap provinsi di seluruh Indonesia. 
 
Ridwan Kamil diberi waktu 7 tahun untuk menyelesaikan masalah Sungai Citarum. Namun, dalam waktu 3 tahun saja perubahan drastis sudah terlihat di Sungai Citarum.
 
Sungai Citarum membentang sepanjang 270 kilometer dan merupakan yang terpanjang di Jawa Barat.
 
Air Sungai Citarum itu bersumber dari tujuh mata air di kaki Gunung Wayang yang berkumpul di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung. Citarum kemudian bermuara di Muara Gembong Bekasi menuju Laut Jawa. 
 
 
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mempresentasikan perkembangan Sungai Citarum pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26. (Tangkapan layar acara KTT)
Dahulu kondisinya memang memprihatinkan. Citarum pernah dijuluki sebagai sungai terkotor dan terjorok di dunia.
 
Namun dengan program Citarum Harum dan kolaborasi berbagai pihak, dengan Ridwan Kamil ditunjuk sebagai Ketua Satgas, kualitas air sungai membaik dari asalnya cemar berat menjadi cemar ringan dalam tempo tiga tahun. 
 
Dalam KTT Pemimpin Dunia COP26, Indonesia diharapkan dapat berbagi pembaruan dan kemajuan pencapaian target nasional.
 
Pemerintah juga dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan negara lain dalam aksi kolaboratif memerangi sampah plastik laut. 
 
Hal yang yang dibidik adalah bertukar pandangan tentang tata kelola dan prioritas kebijakan sampah plastik laut, danidentifikasi potensi kerja sama lintas pemangku kepentingan untuk meningkatkan pengembangan kebijakan dan mempercepat pencapaian target nasional. [*]
 

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Na In Woo Gantikan Kim Seon Ho di 2 Days 1 Night

Selasa, 25 Januari 2022 | 13:01 WIB

6 Negara dengan Kenaikan Tajam Kasus Omicron

Minggu, 23 Januari 2022 | 12:21 WIB

Benarkah Bob Saget Meninggal Karena Sakit Jantung?

Senin, 10 Januari 2022 | 12:46 WIB

5 Drama Korea Tayang di Disney+ Januari 2022

Kamis, 6 Januari 2022 | 12:32 WIB

7 Negara dengan Kasus Omicron di Asia, Mana Saja?

Kamis, 16 Desember 2021 | 18:23 WIB
X