7 Pesantren Populer di Tasikmalaya, Lahirkan Santri-santri Hebat

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 12:02 WIB
Pesantren Cipasung di Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)
Pesantren Cipasung di Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)

Pesantren Cipasung didirikan KH Ruhiat pada 1931. Saat pendiriannya, santri hanya berjumlah 40 orang. Kebanyakan, santrinya merupakan warga sekitar pondok pesantren atau disebut juga santri kalong.

Baca Juga: Info Daftar Vaksin Tasikmalaya Oktober 2021 Update, Catat Cara Daftar dan Lokasinya!

2. Pesantren Sukahideng

Pondok Pesantren Perguruan KH Z. Musthafa Sukahideng didirikan pada masa penjajahan Belanda tahun 1341 H bertepatan dengan tahun 1922 M oleh KH M. Zainal Muhsin. Sepulangnya dari menuntut ilmu, pada tahun 1922 KH M. Zainal Muhsin mendirikan Pesantren di Kampung Bageur yang bernama Pesantren Sukahideng.

Tanah yang ditempati pesantren merupakan wakaf untuk dijadikan masjid dan sarana berdakwah. Selain aktif menjadi pengasuh pesantren di tempatnya, ia juga rajin memberi pengajian ke kampung-kampung sekitar, seperti Desa Sukarapih maupun di luar desa. KH Zainal Muhsin Wafat pada tahun 1938.

Karena putra pertama beliau, yaitu KH A. Wahab Muhsin masih berusia 17 tahun, maka kepengurusan Pesantren dipimpin oleh salah seorang menantu KH Zenal Muhsin, yaitu KH Yahya Bahtiar Afandi sampai dengan tahun 1945.

Dan dari tahun 1945 sampai dengan tahun 2000 pesantren dipimpin oleh KH A. Wahab Muhsin. Mulai dari tahun 1989 KH M.A. Wahab Muhsin sakit, maka kepemimpinannya dilimpahkan kepada adik beliau yang keenam KH Moh. Syihabuddin Muhsin.

Pada Januari 2007 KH Moh. Syihabuddin Muhsin wafat, maka kepemimpinan Pondok Pesantren Sukahideng diteruskan oleh putra sulung KH Wahab Mushsin, yaitu Prof. Dr. KH T. Fuad Wahab sampai sekarang. Di pesantren ini, ada dua pendidikan, yakni formal dan non-formal. Untuk pendidikan formal di antaranya Madrasah Ibtidaiyah, MTs, SMK, dan Diniyah Takmiliah.

Sedangkan untuk pendidikan non-formalnya, yakni Madrasah Diniyah, Tahfidzil Qur’an dan Tahassus Pendalaman Kitab Kuning. Saat ini, sedikitnya 2.000-an santri dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat dan luar Jawa tengah menimba ilmu di pesantren ini.

Baca Juga: Miras Oplosan Maut Tasikmalaya, Petugas Kebersihan Sekolah Jadi Tersangka

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DIM FEB Unpad Helat Konferensi Internasional Garcombs

Minggu, 2 Oktober 2022 | 19:36 WIB
X