Cerita Sukses Nurhayati Subakat, Pendiri Wardah yang Peduli Pendidikan

- Selasa, 19 Oktober 2021 | 16:48 WIB
Nama Nurhayati Subakat mungkin tidak banyak dikenal orang, namun produk kecantikan Wardah tidak asing di telinga setiap orang. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)
Nama Nurhayati Subakat mungkin tidak banyak dikenal orang, namun produk kecantikan Wardah tidak asing di telinga setiap orang. (Ayobandung.com/Mildan Abdalloh)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Nama Nurhayati Subakat mungkin tidak banyak dikenal orang, namun produk kecantikan Wardah tidak asing di telinga setiap orang.

Terlebih pada tahun lalu produk yang berada di bawah naungan PT Paragon Technology & Innovation tersebut menyumbang Rp40 Miliar untuk penanganan Covid-19 dan jika ditotalkan sampai saat ini jumlahnya mencapai Rp65 miliar.

Nurhayati Subakat merupakan pendiri PT Paragon Technology & Innovation, sosoknya merupakan orang yang peduli terhadap pendidikan. Tidak terhitung banyak masyarakat yang diberi beasiswa selama puluhan tahun.

Putri keempat dari delapan bersaudara (dari pasangan Abdul Muin Saidi dan Nurjanah) tersebut pada mulanya hanya orang biasa, kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru di Padang Panjang.

"Orang tua saya keduanya guru. Pada 1940-an, gaji guru itu minim sehingga mencari tambahan dari berdagang hingga akhirnya berhenti jadi guru dan terus berniaga," ujar Nurhayati saat Bincang Bermakna dalam rangkaian Fellowship Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan, Selasa 19 Oktober 2021.

Sejak kecil, Nurhayati memang secara tidak langsung dididik untuk peduli terhadap pendidikan. Sebagai motivasi, Abdul Muin bahkan setiap hari selalu memberikan cerita tentang Profesor Zakiyah Darajat yang lulusan dari Mesir.

Cerita-cerita tersebut dimaksudkan supaya anak-anaknya termasuk Nurhayati bisa menjadi orang yang terus belajar dan menjadi Zakiyah Darajat lain.

Menginjak usia SMP, Abdul Muin berpulang, namun istrinya tetap menyekolahkan Nurhayati dengan anak-anaknya. Hingga Nurhayati bisa lulus dari Jurusan Farmasi ITB dengan nilai terbaik.

Kisah perempuan kelahiran 27 Juli 1950 tersebut tidaklah semulus yang dibayangkan, menjadi lulusan terbaik dari perguruan ternama di Indonesia tidak menjamin seseorang bisa mendapat pekerjaan idaman.

"Waktu itu, Ibu bilang perempuan lebih baik menjadi dosen," ucapnya.

Perkataan Nurjanah ditambah dengan harapan Abdul Muin agar anaknya bisa seperti Prof. Zakiyah juga melekat di benak Nurhayati.

Modal lulusan terbaik dari ITB, Nurhayati mendaftar menjadi seorang dosen, namun ditolak.

Dia kemudian bekerja di sebuah apotek di Kabupaten Tasikmalaya namun tidak mendapat bayaran.

Akhirnya dia pulang kampung dan menjadi apoteker di sebuah rumah sakit di Padang. Gajinya pada waktu itu hanya Rp20.000 yang bahkan jika dibanding dengan sekarang masih dibawah UMR.

Setelah menikah dengan Subakat Hadi, Nuryhati hijrah ke Jakarta. Di Ibu Kota, dengan memanfaatkan pengalaman sebagai apoteker di Rumah Sakit, dia melamar di sebuah apotek di Kampung Melayu, namun tidak diterima.

"Sepakan setelah ditolak oleh apotek tersebut, saya mendapat informasi ada industri kosmetik yang memerlukan apoteker. Saya melamar di situ dan diterima dengan gaji 4 kali lipat dari apotek tadi," imbuhnya.

Setelah beberapa tahun bekerja, terjadi perubahan dalam perusahaan. CEO perusahaan membuatnya tidak nyaman yang akhirnya menjadikan Nurhayati memutuskan mundur dari pekerjaannya.

Ditambah pada waktu itu, dia telah memiliki tiga orang anak yang harus diurus. Jika dipaksakan terus bekerja, dia khawatir ketiga anaknya akan kurang terurus.

Walaupun Subakat Hadi mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun Nurhayati masih memiliki semangat.

Berbekal pengetahuan yang didapat dari pendidikan juga dari pekerjaan selama ini, dia mendirikan sebuah industri sampo.

Salon yang berada di Tangerang menjadi target pasarnya. Tidak disangka, sampo yang diproduksi diterima baik oleh pasar.

Walaupun pada waktu itu banyak produk sejenis, namun hampir 80 persen salon yang ada di Tangerang menggunakan produk miliknya.

"Itulah pentingnya pendidikan, dengan ilmu yang ada kemudian melakukan modifikasi akhirnya mendapat formula bagus dengan harga bersaing. Itu semua karena adanya pengalaman dan pendidikan, sehingga ada kemudahan berusaha seperti jalan tol," paparnya.

Industri yang didirikan tersebut lumayan berkembang, bahkan dia telah memiliki 25 karyawan pada tahun 90-an.

Namun pada tahun tersebut tempat pembuatan sampo miliknya terbakar. Perusahaan yang dirintisnya bernama PT Pusaka Tradisi Ibu berada di ujung tanduk.

Bahkan Nurhayati sempat berniat menutup usahanya. Namun, yang dia pikirkan adalah 25 orang karyawan yang telah bekerja keras turut membangun perusahaan, puluhan orang tersebut akan turut terimbas jika perusahaan berhenti.

Pinjaman ke bank menjadi pilihan, uang sebanyak Rp50 juta berniat dipinjamnya dari bank. Beruntung, pada waktu itu ada kebijakan khusus dari Bank Indonesia, yang membuat pengajuan pinjaman Rp50 juta namun disuruh Rp150 juta.

Pinjaman Rp150 juta tersebut digunakan untuk membangun pabrik. Pada tahun 1995 Wardah terbentuk, namun belum begitu besar.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cegah Omicron, Indonesia Larang WN dari Hong Kong

Senin, 29 November 2021 | 15:46 WIB

Akhirnya, Toilet SPBU Gratis!

Sabtu, 27 November 2021 | 12:30 WIB

20 Link Twibbon Hari Menanam Pohon Indonesia 2021

Jumat, 26 November 2021 | 20:08 WIB
X