Ulama Timur Tengah Ini Sebut Maulid Nabi Tak Boleh Dirayakan, Kenapa? 

- Senin, 18 Oktober 2021 | 15:11 WIB
Ulama asal Timur Tengah, Syaikh Wahid Abdussalam Bali menjelaskan, beberapa ulama berselisih pendapat terkait bolehnya merayakan Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. (Tangkapan layar)
Ulama asal Timur Tengah, Syaikh Wahid Abdussalam Bali menjelaskan, beberapa ulama berselisih pendapat terkait bolehnya merayakan Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. (Tangkapan layar)
LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diperingati setiap 12 Rabiul Awal atau tepatnya pada 19 Oktober 2021. Banyak ulama berbeda pendapat mengenai hukum pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW. 
 
Ulama asal Timur Tengah, Syaikh Wahid Abdussalam Bali menjelaskan, beberapa ulama berselisih pendapat terkait bolehnya merayakan Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
 
Dikutip dari kanal Youtube Yufid TV, ketika seseorang bertanya bolehkah merayakan Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Syaikh Wahid Abdussalam Bali menjawab tidak boleh. Mengapa demikian? Berikut penjelasan lengkapnya.
 
 
Menurut Syaikh, benar bahwa Maulid Nabi adalah hari lahirnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah adalah teladan untuk seluruh umat.
 
Melalui Rasulullah, lanjut dia, Allah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya (hidayah).
 
Namun, Rasulullah melarang kita untuk berbuat atau beramal sesuai dengan hasil inovasi dari manusia.
 
"Dalam hal ibadah kita harus mencontoh beliau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), ujar Syaikh Wahid Abdussalam Bali.
 
Maka, dikarenakan dalam hal ibadah mesti mencontoh Rasulullah, Syaikh bertanya, apakah Nabi Muhammaf shallallahu 'alaihi wa sallam merayakan hari kelahirannya seperti memakan daging, minum manisan atau berkumpul di masjid menjelaskan tentang sunnahnya?
 
"Tidak ada riwayat tentang hal itu," lanjut Syaikh.
 
Setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, Syaikh mengatakan, apakah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu anhum merayakan Nabi? Apakah ada riwayat mereka berkumpul di masjid dan mempelajari sunnahnya (khusus untuk hari lahir Nabi)?
 
 
"Tidak ada riwayat yang shahih mengenai mereka (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) merayakan maulid," kata Syaikh.
 
"Padahal mereka jauh lebih mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam daripada kita, sangat jauh sekali," tambahnya.

Lantas Syaikh pun menjelaskan asal muasal munculnya perayaan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 
 
Dia menceritakan, yang pertama kali memulai perayaan Maulid Nabi Muhammad adalah Daulah Fathimiyah. Daulah Fatimiyah berideologi Syiah.
 
Ketika itu, lanjut Syaikh, mereka menguasai Mesir dan membuat suatu perayaan-perayaan tertentu. Dari sinilah perayaan maulid Nabi muncul.
 
Mereka (Daulah Fathimiyah berpaham Syiah) membuat-buat beberapa perayaan maulid, seperti maulid Nabi, maulid Ali, maulid Hasan bin Ali, maulid Husein bin Ali, maulid Fatimah, dan perayaan maulid para pemimpin Daulah Fathimiyah.
 
"Mereka menyibukkan orang-orang dengan ajaran bid'ah berideologi Syiah yang mereka buat saat itu," ujar Syaikh Wahid Abdussalam Bali.
 
 
Jadi, kata Syaikh, generasi terbaik Islam tidak pernah merayakan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tapi yang memproklamirkan ajaran ini adalah orang-orang Syiah Fathimiyah Bathiniyah.

Namun, ada orang yang mengatakan, bagaimana bisa dikatakan bahwa Nabi tidak pernah merayakan maulidnya?

Syaikh menjawab, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya "mengapa Anda berpuasa di hari Senin dan Kamis?". 
 
Syaikh melanjutkan, Rasulullah menjawab, "Aku berpuasa di hari Senin, karena aku dilahirkan pada hari itu dan hari kamis adalah hari saat amalan diangkat kepada Allah, maka aku suka kalau amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa."

Inti dari penjelasan tadi adalah, kalimat hari Senin adalah hari kelahiranku, jadi Nabi merayakan hari maulidnya karena beliau (Rasulullah) berpuasa di hari itu.

Jikalau ada yang hendak merayakan Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Syaikh mengatakan, Nabi dahulu merayakannya setiap pekan (setiap Senin) bukan hanya satu tahun sekali.
 
"Lalu Rasulullah merayakannya hanya dengan berpuasa, tidak dengan aktivitas lainnya," ujar Syaikh Wahid Abdussalam Bali.
 
Baca Juga: Hukum Memperingati Maulid Nabi, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat

Menurutnya, perayaan Maulid ini adalah bid'ah (sesuatu yang diadakan dalam agama) yang mungkar. 
 
"Amalan ini tidak mendekatkan dirimu kepada Allah," tutupnya.
 
Demikian penjelasan ulama Timur Tengah, Syaikh Wahid Abdussalam Bali, yang menyebut tidak boleh merayakan Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Apa Perbedaan Adzan dan Iqamah?

Jumat, 3 Desember 2021 | 11:31 WIB

Apakah Memegang Kucing Membatalkan Wudhu?

Jumat, 26 November 2021 | 11:20 WIB

Jadwal dan Niat Puasa Ayyamul Bidh Desember 2021

Minggu, 21 November 2021 | 13:00 WIB

Macam-macam Sholat Sunnah dan Bacaan Niatnya

Selasa, 16 November 2021 | 10:00 WIB

Hukum Menagih Utang dengan Menyebar Aib Nasabah

Minggu, 14 November 2021 | 05:00 WIB

Ciri Orang Bodoh menurut Islam

Minggu, 14 November 2021 | 04:00 WIB

Dzikir yang Berat Timbangannya dan Penghapus Dosa-dosa

Minggu, 7 November 2021 | 08:00 WIB
X