PWI Pusat dan PT Astra Gelar Safari Jurnalistik 'Masa Depan Free to Air di Era Digital dan 5G'

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 20:09 WIB
PWI Pusat dan PT Astra Selenggarakan Safari Jurnalistik bertema Masa Depan Free to Air (Istimewa)
PWI Pusat dan PT Astra Selenggarakan Safari Jurnalistik bertema Masa Depan Free to Air (Istimewa)

“Kami juga meminta masyarakat mulai memahami sistem siaran digital serta apa saja manfaat yang akan mereka peroleh,” ujar Agung Suprio.

Menurutnya, migrasi digitalisasi keniscayaan sehingga media televisi pun dipaksa untuk terus berinovasi.

“Milenial bahkan anak usia 11 tahun cenderung konsumsi konten melalui smartphone, sudah jarang menonton TV dan nangis kalau handphone-nya diambil. Mereka ingin mengendalikan konten melalui smartphone. Inilah perubahan perilaku yang membuat TV free to air ditinggalkan oleh penontonnya walaupun secara subjektif kaum perempuan tetap suka nonton TV Free to air seperti sinetron,” ujar Agung.

Agung berharap agar free to air digital di Indonesia segera bisa dinikmati secara gratis oleh masyarakat Indonesia seperti di Jerman.

“Ini demi menyesuaikan kebiasaan milenial melalui perubahan perilaku mereka seperti yang terjadi di Jerman,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Syafri Nasution menyatakan stasiun TV pada umumnya telah siap dengan peralihan siaran ke digital. Malah, sebagian anggota ATVSI secara bertahap sudah memulainya. Dengan begitu, pada waktu yang ditentukan, 2 November 2022, seluruh siaran televisi berbasis analog betul-betul setop.

“Kami sudah memiliki infrastruktur dan tenaga kerja sumber daya manusia di setiap wilayah siaran contoh saja di RCTI sudah ada infrastruktur dari Aceh hingga Papua namun dari pelaksanaan ASO ini kami tidak mendapatkan semua provinsi sehingga begitu banyaknya investasi sudah dilakukan oleh kami baik itu untuk peralatan bangunan tanah terutama SDM nya akan muazir," tutur Syafri.

Dari sisi TV lokal, Ketua Umum Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Bambang Santoso mengharapkan perlakuan sama dengan TV nasional agar tetap bisa eksis ke depannya.

“Ada tiga hal yang harus dilakukan (pemerintah). Pertama harus mendapat regulasi yang jelas, kedua TV lokal harus mendapatkan perlakuan sama tidak bisa dibedakan karena akan semakin menggerus dan menyulitkan. Ketiga perlindungan investasi jadi tidak hanya TV besar tapi semua media cetak juga,” katanya.

Tantangan TV lokal, menurut Bambang, cenderung teknis karena akan menjadi broadcaster kedua secara konten dan ketiga terkait bisnis.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jadwal Pengisian DRH PPPK Tahap 2, Berikut Panduannya

Senin, 17 Januari 2022 | 13:29 WIB

Gempa Aceh Minggu Siang Terasa di Nagan Raya

Minggu, 16 Januari 2022 | 14:27 WIB
X