Rekomendasi 4 Wisata Religi di Purwakarta

- Kamis, 7 Oktober 2021 | 18:30 WIB
Kabupaten Purwakarta memiliki destinasi wisata religi yang bisa menjadi pilihan mengisi waktu libur bersama keluarga. (Ayobandung.com/Dede Nurhasanudin)
Kabupaten Purwakarta memiliki destinasi wisata religi yang bisa menjadi pilihan mengisi waktu libur bersama keluarga. (Ayobandung.com/Dede Nurhasanudin)
PURWAKARTA KOTA, AYOBANDUNG.COM — Kabupaten Purwakarta memiliki destinasi wisata religi yang bisa menjadi pilihan mengisi waktu libur bersama keluarga.
 
Sekertaris Dinas Pemuda, Olahraga, Parawisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, Heri Anwar mengatakan, setidaknya ada empat wisata religi yang menjadi rekomendasi bagi wisatawan jika berkunjung ke Purwakarta.
  • Makam Syech Baing Yusuf
Pertama adalah Makam Syech Baing Yusuf berlokasi dipusat kota, tepatnya di belakang masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta.
 
Berdasarkan cerita yang berkembang, Syech Baing Yusuf merupakan salah satu tokoh sejarah yang menyebarkan Islam di Purwakarta.
 
Beliau merupakan guru Syech Nawawi Al-Bantani Ulama Indonesia yang menjadi Imam di Masjidil Haram.
  • Makam Evang Pandita
Kedua Makam Evang Pandita terletak di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta.
 
Makam Eyang Pandita berada di Kawasan Desa Wisata Kampung Tajur, berdekatan dengan Curug Panembahan.
 
"Oleh masyarakat setempat, Eyang Pandita dipercaya sebagai sesepuh Desa Pasanggrahan. Keunikan dari makam ini adalah lokasinya yang berada di atas bukit, sehingga dapat terlihat pemandangan gunung Burangrang, area pesawahan, perkebunan sayur warga dan kawasan hutan," kata Heri, Kamis, 7 Oktober 2021.
  • Makam Dalem Gandasoli
Ketiga, lanjut Heri, Makam Dalem Gandasoli berada di Desa Mekarsari, Kecamatan Darangdan.
 
Berkaitan dengan nama Gandasoli, konon ceritanya berkisar pada tahun 1628.
 
Disebutkan, saat itu datang seorang panglima tentara Mataram bernama Raden Surya Sumadita Angga Yuda atau akrab disapa Eyang Dalem Gandasoli dengan Mbah Balung Tunggal, Mbah Jaksa, dan lainnya.
 
Beserta pasukannya, mereka dengan tujuan untuk menggempur tentara VOC yang berada di Batavia.
 
Sebelum sampai ke tujuan, beliau bersama pasukannya sempat singgah di suatu tempat yang bernama Lembur Kolot (dahulu masuk Desa Gandasoli, sekarang masuk Desa Mekarsari).
 
Pada waktu itu, jalur sungai yang digunakan untuk menuju Batavia menjadi satu-satunya yang melalui Sungai Citarum.
 
"Eyang Dalem Gandasoli meninggal pada tahun 1713. Peralatan dan bajunya sampai saat ini masih ada dan diamankan oleh warga sekitar,"ujar dia.
  • Makam Mama Sempur
Sementara yang keempat adalah Makam Mama Sempur berlokasi di Desa Sempur, Kecamatan Plered.
 
Nama lengkapnya adalah KH. Tubagus Ahmad Bakri bin KH. Tubagus Syeda bin KH. Tubagus Arsyad. Mama Sempur adalah salah satu tokoh muslim di Purwakarta yang menyebarkan agama Islam.
 
Beliau saat ini dikenal sebagai Mama Sempur. Dia mendapat garis layak dari Keraton Banten (Istana Banten), diambil dari garis layak KH. Tubagus Arsyad dari Keraton Banten.
 
Di akhir setiap Zulkaidah (bulan ke-11 tahun Hijriah), tempat itu selalu melaksanakan Haulan, sebuah peristiwa untuk mengingat wafatnya Mama Sempur.
 
"Setiap peringatan wafat Mama Sempur banyak para peziarah yang datang dari berbagai daerah, bahkan tidak sedikit pula dari luar provinsi. Warga sekitar mendapat barokah dari peringatan haul Mama Sempur karena lahan milik mereka disewa untuk lapak berjualan kepada para pedagang di sekitar makam,"ucap Heri.
 
 
Menurut Heri, keberadaan wisata religi tentu berdampak terhadap jumlah kunjungan ke Purwakarta yang setiap tahunnya mengalami peningkatan.
 
Akan tetapi, jumlah wisatawan hari ini menurun drastis setelah merebaknya wabah virus corona di awal 2020 lalu.
 
Apalagi pemerintah sempat memutuskan menutup sementara destinasi wisata sebagai upaya menekan penyebaran Covid-19. [*]
 
 
"Sekarang sudah kembali dibuka, namun prokes wajib diterapkan," tutup Heri. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X