Unik, Sosialisasi Prokes di Sekolah Tasikmalaya Tampilkan Badut ke Depan Siswa

- Senin, 27 September 2021 | 17:55 WIB
Sosialisasi prokes dengan Badut di sekolah (Ayotasik.com/Heru Rukanda)
Sosialisasi prokes dengan Badut di sekolah (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Komunitas Badut Tasik (Batik) menggelar sosialisasikan protokol kesehatan (prokes) unik kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD) Dadaha, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Senin, 27 September 2021.

Kegiatan yang dilakukan Komunitas Badut Tasik ini bertujuan agar anak-anak khususnya siswa sekolah dasar dapat disiplin menerapkan protokol kesehatan selama berada di lingkungan sekolah.

Sosialisasi protokol kesehatan tersebut dilakukan atas inisiatif anggota Komunitas Badut Tasik yang merasa peduli terhadap anak-anak agar terhindar dari paparan Covid-19.

Ketua Komunitas Badut Tasikmalaya Andi Kusmayadi mengatakan, kelompoknya merasa prihatin dengan adanya kasus Covid-19 di lingkungan sekolah dasar yang ada di Kota Tasikmalaya. Bahkan menurutnya, sampai saat ini belum bisa melakukan pendidikan tatap muka terbatas.

“Tujuannya agar anak-anak di sekolah tidak abai protokol kesehatan. Nah ini diharapkan dengan kejadian tersebut khususnya siswa sd bisa meningkatkan prokes,” ujar Andi, Senin, 27 September 2021.

Ia menuturkan, sosialisasi prokes di sekolah dasar ini sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah dan satuan tugas (sagtas) Covid-19 tingkat kecamatan. Dengan mengenakan aneka macam kostum badut, para badut mendatangi setiap kelas dan mengecek penerapan protokol kesehatan terutama soal pemakaian masker dan menjaga jarak.

“Ada beberapa siswa yang kita temukan tidak memakai masker. Kita ingatkan dengan cara yang ceria yaitu dengan nyanyian agar mudah diingat oleh anak-anak,” ucapnya.

Andi atau dikenal dengan Uncle Otot menambahkan, kegiatan sosialisasi prokes terhadap anak-anak ini akan terus dilaksanakan secara rutin agar anak-anak bisa lebih sadar dan memahami tentang pentingnya prokes di masa pandemi Covid-19 ini.

“Mudah-mudahan kami bisa menyosialisasikan ke lebih banyak sekolah karena kecintaan kami terhadap anak-anak,” kata dia.

Salah seorang guru SDN Dadaha, Ria Arista Budiarti mengatakan, sejak diizinkan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, antusias para siswa untuk belajar sangat tinggi. Menurutnya itu mungkin karena para siswa sudah lama tidak belajar secara langsung dan hanya belajar secara daring.

“Kami dari sekolah selalu mengawasi penerapan prokes anak-anak didik. Namun, yang namanya anak-anak terkadang suka abai sehingga perlu terus diingatkan. Kita saja yang dewasa terkadang suka abai apalagi anak-anak,” ujar Ria.

Dengan adanya sosialisasi prokes dari Komunitas Badut Tasik terhadap anak-anak didiknya, Ria merasa bersyukur ada kelompok yang memang peduli terhadap anak-anak.

“Saya berharap apa yang disampaikan Komunitas Badut Tasik ini akan terus diingat oleh anak-anak sehingga selama berada di lingkungan sekolah, anak-anak bisa lebih disiplin menerapkan prokes,” ucapnya.

Salah seorang siswa kelas 10, Noval mengatakan, ia bersama teman-temannya merasa terhidur dengan adanya badut ke sekolah. Ia menyebut, badut-badut yang datang ke sekolah menyampaikan tentang pentingnya protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun.

“Sebelum masuk kelas suka diingatkan oleh guru untuk menncuci tangan pakai sabun. Alhamdulillah selalu pakai masker kalau sedang di sekolah,” ujarnya.

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X