10 Kasus Pembekuan Darah Otak Usai Divaksin Pfizer dan Moderna Ditemukan di Singapura

- Kamis, 23 September 2021 | 16:40 WIB
Vaksin Covid-19 Pfizer. (Pfizer/BioNTech)
Vaksin Covid-19 Pfizer. (Pfizer/BioNTech)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah Singapura menemukan 10 orang yang diduga mengalami cerebral venous thrombosis (CVT) atau pembekuan darah di otak usai menerima vaksin Covid-19 merk Pfizer dan Moderna.

CVT adalah jenis bekuan darah yang sangat jarang terjadi di pembuluh darah otak, namun dapat terjadi secara alami di luar akibat dari vaksinasi. Terdapat faktor risiko dan CVT termasuk riwayat medis gangguan pembekuan darah, trauma kepala, dan penggunaan obat-obatan seperti kontrasepsi oral dan obat-obatan untuk terapi penggantian hormon.

Tingkat kejadian CVT secara tahunan biasanya terjadi pada populasi umum sekitar 1,3 hingga 2 dari 100.000 orang. Data tersebut dikemukakan oleh Otoritas Ilmu Kesehatan (HSA) Singapura.

Baca Juga: Vaksin Moderna Ciptakan Antibodi Lebih Banyak Dibanding Pfizer

Di antara kasus dugaan CVT terkait vaksin, HSA mencatat tidak ada yang berakibat fatal. Namun, mereka belum dapat menentukan apakah ada peningkatan tingkat CVT terkait dengan penggunaan vaksin berbasis mRNA itu.

Pihak berwenang saat ini sedang memantau kejadian serupa dan meninjau kasus yang dilaporkan dengan para ahli lokal. Kendati begitu, tercatat tidak ada regulator luar negeri yang mengidentifikasi CVT sebagai dampak dari vaksin berbasis mRNA.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menemukan bahwa tingkat kejadian CTV pada orang yang menerima vaksin Pfizer dan Moderna sebanding dengan tingkat dasar CVT di antara populasinya. Hal ini berarti kedua vaksin tersebut tidak ada kaitannya dengan pembekuan darah di otak.

Sementara itu, dalam studi besar lainnya di Inggris, disimpulkan risiko sebagian besar kejadian pembekuan darah secara substansial, lebih tinggi setelah terinfeksi Covid-19 dibandingkan dengan setelah vaksinasi.

Asisten Profesor Christine Cheung dari Fakultas Kedokteran Universitas Teknologi Nanyang mengatakan bahwa selain penggumpalan darah yang terjadi di otak pasca-vaksinasi, gumpalan langka juga ditemukan di area lain, seperti pembuluh darah besar di perut, serta di beberapa arteri yang membawa darah beroksigen dari jantung ke berbagai organ.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Beruang Kutub Akan Punah 79 Tahun Lagi

Senin, 18 Oktober 2021 | 19:03 WIB

Putri Bill Gates Masuk Islam?

Minggu, 17 Oktober 2021 | 14:23 WIB

Apple Tutup Aplikasi Alquran di China, Kenapa?

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 16:00 WIB

Masjid Diserang, 10 Orang Sedang Sholat Ashar Tewas

Kamis, 14 Oktober 2021 | 11:30 WIB

6 Drama Korea Romantis yang Cocok Ditonton saat Hujan

Senin, 11 Oktober 2021 | 15:28 WIB
X