Dituduh Tak Transparan Soal Asal-usul Covid-19, Epidemiolog China Angkat Bicara

- Jumat, 3 September 2021 | 14:50 WIB
Anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia terlihat mengenakan alat pelindung selama kunjungan lapangan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei untuk kunjungan lapangan satu hari lagi di Wuhan di provinsi Hubei China tengah Selasa, 2 Februari 2021. Tim WHO adalah menyelidiki asal-usul pandemi virus corona telah mengunjungi dua pusat pengendalian penyakit di provinsi tersebut.  ( AP / Ng Han Guan)
Anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia terlihat mengenakan alat pelindung selama kunjungan lapangan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei untuk kunjungan lapangan satu hari lagi di Wuhan di provinsi Hubei China tengah Selasa, 2 Februari 2021. Tim WHO adalah menyelidiki asal-usul pandemi virus corona telah mengunjungi dua pusat pengendalian penyakit di provinsi tersebut. ( AP / Ng Han Guan)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Kelompok intelijen Amerika Serikat (AS) baru saja selesai melakukan penyelidikan selama 90 hari soal asal-usul Covid-19 yang diperintahkan Presiden AS Joe Biden. Hasilnya, mereka rupanya masih terbagi dalam dua teori lama, yaitu virus berasal dari kebocoran laboratorium atau virus dari hewan lalu menginfeksi manusia.

Kendati tinjauan kelompok intelijen AS telah selesai, namun Biden masih menugaskan mereka untuk mencari sebanyak mungkin laporan-laporan soal bagaimana Covid-19 muncul. Biden menegaskan, upaya pihaknya untuk mencari tahu asal-usul virus tersebut tidak akan berhenti.

Baca Juga: Viral Sertifikat Vaksin Covid-19 Jokowi Bocor, Ini Respons Istana dan Warganet

Dalam pernyataan itu, Biden mengkritik China karena tidak lebih transparan dalam membantu penyelidikan, dan kelompok intelijen AS mengatakan kerja sama China sangat diperlukan untuk mencapai kesimpulan yang lebih pasti.

"Informasi penting tentang asal mula pandemi ini ada di Republik Rakyat Tiongkok, namun sejak awal, pejabat pemerintah di Tiongkok mencegah para penyelidik internasional dan anggota komunitas kesehatan masyarakat global mengaksesnya," kata Biden, dilansir dari CNN.

Menanggapi kritikan pedas tersebut, epidemiolog asal China yang juga tergabung dalam penelitian bersama WHO-China di Wuhan pada Januari lalu angkat bicara. Dia adalah Yang Yungui.

Baca Juga: Positif Amphetamine, Coki Pardede Konsumsi Sabu dengan Cara Tak Wajar

Dia mengaku tim epidemiolog gabungan telah mempresentasikan 174 kasus awal Covid-19 di China kepada kelompok ahli epidemiolog WHO di Wuhan. Namun dia menegaskan karena adanya perlindungan privasi, para ahli tidak diizinkan untuk mengambil foto atau menyalin data mentah dari presentasi tersebut.

“Perlindungan privasi merupakan praktik umum dalam dunia internasional, khususnya dalam hubungan penelitian medis,” ujar Yang, dilansir dari CGTN, Jumat 3 September 2021.

Yang juga menyampaikan, dalam bagian epidemiologi molekuler, pihaknya menyediakan data genomik dan metadata pada seluruh kasus awal yang terjadi di China. Dia mengatakan, data geenomik itu bahkan telah disebar untuk umum karena dalam data itu tidak ada privasi pribadi.

Baca Juga: Ganjil Genap Diterapkan Kembali di Pusat Kota Bandung? Begini Kata Polisi

“Para ahli dari kedua belah pihak menentukan metode analisis, merumuskan rencana analisis, dan menginterpretasikan hasilnya secara bersama-sama. Para ahli internasional sangat terlibat dalam diskusi dan sepenuhnya setuju dengan hasil penelitian bersama itu,” pungkas Yang.

Adapun, kata Yang, hasil lengkap dari penelitian bersama itu telah dipublikasikan dalam bentuk laporan bersama WHO-China. Dia menyampaikan untuk saat ini, pihaknya tidak dapat menambahkan data genom pada kasus awal selain dari apa yang telah dikumpulkan dalam penelitian itu.

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Fakta Baru Ed Sheeran, Jadi Artis Terkaya di Inggris

Kamis, 4 November 2021 | 07:29 WIB
X