WHO Pantau Varian Baru Covid-19 Bernama Mu

- Rabu, 1 September 2021 | 13:59 WIB
[Ilustrasi] Pakar mengungkapkan bahwa Indonesia memang berpotensi melahirkan varian baru Covid-19 yang lebih berbahaya ketimbang varian delta. (Freepik)
[Ilustrasi] Pakar mengungkapkan bahwa Indonesia memang berpotensi melahirkan varian baru Covid-19 yang lebih berbahaya ketimbang varian delta. (Freepik)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini sedang memantau adanya varian baru Covid . Varian tersebut dikenal dengan nama Mu.

Varian Covid-19 Mu ditemukan pertama kali di Kolombia pada Januari 2021. Secara ilmiah, Mu dikenal sebagai B.1.621 yang telah diklasifikasikan ke dalam ‘variant of interest’ atau varian yang diwaspadai.

WHO mengatakan varian tersebut memiliki mutasi yang menunjukkan risiko resistensi terhadap vaksin dan menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahaminya.

"Varian Mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan," kata sebuah laporan WHO yang dirilis pada Selasa lalu, dilansir dari France 24, Rabu 1 September 2021.

Baca Juga: Telan Biaya Rp50 M, Proyek Penataan Kawasan Situ Gede Punya Banyak Catatan

WHO mengungkap kekhawatirannya atas munculnya berbagai mutasi virus baru yang mengakibatkan adanya lonjakan infeksi secara global. WHO mengimbau bahwa seluruh virus, termasuk SARS-CoV-2 yang menyebabkan munculnya Covid-19, dapat bermutasi dari waktu ke waktu.

Menurut sumber tersebut, saat ini WHO sedang mengidentifikasi empat varian Covid-19 yang masuk ke dalam variant of interest, termasuk varian Alpha yang sudah ada di 193 negara dan varian Delta yang ada di 170 negara.

“Lima varian, termasuk Mu, harus dipantau. Setelah terdeteksi di Kolombia, Mu dilaporkan telah ada di negara-negara Amerika Selatan lainnya dan di Eropa,” sebut WHO.

Varian Baru Covid C.1.2 Ditemukan, Mampu Terobos Antibodi?

Varian C.1.2, varian baru SARS-CoV-2 terdeteksi di Afrika Utara dan beberapa negara lain di dunia. Varian ini memiliki lebih banyak mutasi dibandingkan variants of concern (VOC) atau variants of interest (VOI) lain yang saat ini sudah terdeteksi di dunia.

Peneliti dari National Institute for Communicable Disease (NICD) dan KwaZulu-Natal Research Innovation and Sequencing Platform (KRISP) mengatakan, varian C.1.2 pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada Mei 2021. Setelah itu, varian ini mulai ditemukan di China, Republik Demokratik Kongo, Mauritius, Inggris, Selandia Baru, Portugal, dan Swiss per 13 Agustus 2021.

Baca Juga: Manfaat Daun Salam untuk Darah Tinggi, Kolesterol Hipertensi Kabur!

Menurut studi yang dimuat dalam repositori MedRxiv dan belum ditinjau sejawat, C.1.2 telah mengalami banyak mutasi bila dibandingkan dengan C.1. C.1 merupakan salah satu varian yang mendominasi infeksi SARS-CoV-2 pada gelombang pertama pandemi Covid-19 di Afrika Selatan.

Peneliti mengatakan, varian C.1.2 memiliki lebih banyak mutasi dibandingkan VOC dan VOI yang saat ini sudah terdeteksi di dunia. Mereka juga menemukan bahwa jumlah sekuens yang terdapat pada C.1.2 mungkin kurang mewakili penyebaran dan frekuensi varian tersebut di Afrika Selatan dan dunia.

Studi tersebut juga menemukan adanya peningkatan yang konsisten pada angka genom C.1.2 di Afrika Selatan setiap bulan. Pada Mei, sekuens genom berkisar di angka 0,2 persen lalu meningkat menjadi 1,6 persen pada Juni dan 2 persen pada Juli.

"Ini mirip seperti peningkatan yang terlihat pada varian beta dan delta di negara tersebut semasa deteksi awal," ungkap peneliti, seperti dilansir Business Standard, Selasa.

Menurut studi, lineage C.1.2 memiliki tingkat mutasi sekitar 41,8 mutasi per tahun. Angka ini dua kali lipat lebih cepat dibandingkan tingkat mutasi yang dialami oleh varian-varian SARS-CoV-2 lain di dunia.

Baca Juga: Update Covid-19 Kota Bandung, Ini Kecamatan-kecamatan Tertinggi Kasus Covid-19 Awal September

Peneliti juga menemukan adanya mutasi N440K dan Y449H pada sekuens C.1.2. Kedua mutasi ini diketahui berkaitan dengan kemampuan virus untuk menghindari antibodi tertentu.

Peneliti mengatakan, kombinasi kedua mutasi ini yang dibarengi dengan beberapa perubahan pada bagian virus berpotensi membantu virus untuk menghindari antibodi dan respons imun. Sejauh ini, karakteristik fenotipe dan epidemiologi C.1.2 masih sedang ditentukan.

"Penting untuk menyoroti lineage ini mengingat konstelasi mutasinya yang mengkhawatirkan," kata peneliti.

Dinukil Republika.co.id, tes laboratorium sedang dilakukan untuk menentukan seberapa baik antibodi bekerja untuk menetralkan virus corona varian baru C.1.2 tersebut. Dr Richard Lessells, pakar penyakit menular dari University of KwaZulu-Natal di Durban, Afrika Selatan menyebut, kemunculan varian C.1.2 menunjukkan pandemi ini masih jauh dari selesai.

Menurut Lesells, virus corona masih terus bermutasi dan berpotensi menjadi lebih kuat dalam menginfeksi. Namun, ia berpendapat, orang tidak perlu terlalu khawatir pada tahap ini.

Dilaporkan Reuters, varian dengan lebih banyak mutasi pasti akan muncul semakin lama pandemi ini berlangsung. Pada Juli, varian C.1.2 menyumbang tiga persen dari sampel dibandingkan 1 persen pada Juni.

Baca Juga: Jadi Tempat Tinggal Presiden, Bima Arya Minta Kota Bogor Diprioritaskan untuk Suplay Vaksin

Sementara itu, varian baru covid delta menyumbang 67 persen pada Juni dan 89 persen pada Juli. Delta adalah varian dari virus corona yang tercepat dan terkuat yang pernah dihadapi dunia.

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Apple Tutup Aplikasi Alquran di China, Kenapa?

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 16:00 WIB

Masjid Diserang, 10 Orang Sedang Sholat Ashar Tewas

Kamis, 14 Oktober 2021 | 11:30 WIB

6 Drama Korea Romantis yang Cocok Ditonton saat Hujan

Senin, 11 Oktober 2021 | 15:28 WIB
X