Fenomena Media Mainstream Gunakan Medsos untuk Rujukan Berita, Pakar Komunikasi Ingatkan Hal Penting Ini!

- Selasa, 30 Mei 2023 | 12:01 WIB
[Ilustrasi] Berita positif.
[Ilustrasi] Berita positif.

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM - Perkembangan teknologi informasi saat ini banyak mengubah pola hidup masyarakat. Termasuk pencarian informasi dan hiburan yang biasanya mengandalkan media mainstream kini masyarakat bergeser lebih memilih media sosial ketimbang media massa.

Hal inilah yang membuat media mainstream mau tidak mau turut menjadikan media sosial sebagai rujukan pembuatan artikel dan berita. Mengingat, cepatnya informasi yang disebarkan oleh masyarakat melalui berbagai platform media sosial yang dikenal dengan Citizen Journalism.

Pakar Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Encep Dulwahab menegaskan bahwa hal tersebut merupakan dampak dari perkembangan teknologi informasi. Sehingga, banyak media mainstream yang menjadikan media sosial sebagai rujukan pembuatan berita.

Baca Juga: Soal Wacana Kenaikan Gaji PNS 2023, Anggota Komisi II DPR RI : Kalau Gaji Dia Naik, Maka...

"Kondisi ini merupakan imbas dari teknologi komunikasi berkembangnya internet dan banyak platform media sosial. Secara tidak langsung membuat publikasi informasi yang dimiliki oleh masyarakat atau citizen journalism jadi semakin cepat perkembangannya," jelas Encep saat dihubungi Ayobandung.com, Selasa, 30 Mei 2023.

Dalam referensi Encep, hal tersebut menjadi dilema bagi media mainstream.

Di satu sisi, media mainstream dituntut untuk tetap bisa menayangkan informasi yang akurat dan berimbang sesuai dengan kaidah kode etik jurnalistik.

"Di satu sisi, media massa juga melihat fenomena itu. Kalau media massa tidak mengikuti apa yang sedang ramai di media sosial mereka akan ditinggalkan oleh pembaca atau pengikutnya," kata Encep.

Baca Juga: KJP Plus Mei 2023 Kapan Cair? Disdik DKI Akhirnya Buka Suara

Sehingga, Encep menilai bahwa media mainstream harus menjalankan perannya sebagai salah satu dari lima pilar demokrasi di Indonesia. Yaitu menjadi penyeimbang dan menyajikan informasi yang akurat, berimbang dan terverifikasi kebenarannya. Sehingga, kepercayaan masyarakat terhadap media mainstream tetap terjaga.

"Karena belum tentu yang viral di sosial media itu suatu informasi yang utuh. Perlu ditelaah lagi kebenaran informasinya, meski tidak dipungkiri sekarang media sosial menjadi pusat perhatian baik masyarakat mauapun media mainstream sebagai informasi awal dari sebuah kejadian," paparnya.

Encep tidak memungkiri bahwasannya saat ini banyak media mainstream yang membuat pemberitaan berdasarkan rujukan dari media sosial agar tidak ketinggalan informasi.

Namun, ia mengaskan media mainstream perlu mengambil peran sebagai pencari fakta di tengah adaptasi untuk bisa bertahan ditengah gempuran teknologi informasi termasuk media sosial.

"Ini memang berat kita harus mewaspadai dan mengedukasi masyarakat mengenai konten yang berkualitas. Saya pribadi suka greget banyak konten-konten yang berseliweran di media sosial dan mengandung unsur Pornografi. Dan itu sedikit contoh negatif yang ada di media sosial," tutur Encep.

Halaman:

Editor: Aulli Atmam

Sumber: AyoBandung.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X