Atlet Termuda dan Tertua Olimpiade Tokyo 2020, Bocah 12 Tahun vs Nenek 66 Tahun

- Selasa, 27 Juli 2021 | 07:56 WIB
Logo Olimpiade. Sejarah Olimpiade dari masa ke masa.
Logo Olimpiade. Sejarah Olimpiade dari masa ke masa.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pentas Olimpiade Tokyo 2020 tengah berlangsung walau digelar di tengah pandemi Covid-19.

Namun, ajang empat tahun sekali itu tak menyurutkan semangat para atlet untuk berjuang mengharumkan negaranya masing-masing.

Seperti halnya atlet-atlet satu ini yang tak kenal usia untuk bertanding di pentas olahraga internasional itu. Berikut ayobandung.com tampilkan atlet termuda dan tertua yang berlaga di Olimpiade Tokyo 2020.

Atlet Termuda

Ialah atlet tenis meja asal Suriah, Hand Zaza, kontestan termuda dalam sejarah gelaran Olimpiade Tokyo 2020. Ia bertarung di kelas tunggal putri tenis meja dengan usianya yang saat ini masih 12 tahun atau sepantaran dengan anak SMP di Indonesia.

Untuk bertanding mewakili Suriah di Olimpiade Tokyo 2020, Hand Zaza melewati jalan berlubang. Ia mesti mengalahkan pemain-pemain yang lebih tua, salah satunya wakil asal Lebanon, Mariana Sahakian.

Zaza mengalahkan Mariana Sahakian di partai final babak Kualifikasi Zona Asia Barat pada Februari 2020 lalu. Pada saat itu, Zaza berusia 11 tahun sedangkan Mariana berusia 42 tahun.

Mengutip dari laman resmi Olimpiade, berikut profil Hand Zaza:

• Nama: Hend Zaza

• Tempat lahir: Hamah, Suriah

• Tanggal lahir: 1 Januari 2009

• Kewarganegaraan: Suriah

• Cabor: Tenis meja tunggal putri
 
• Hobi: Basket, renang, menonton film, membaca

• Awal karier: Bermain tenis meja sejak 2014 (usia 5 tahun). Mulai berkompetisi sejak usia 7 tahun di World Hopes Week and Challenge di Doha, Qatar.

• Ambisi: Mencari pengalaman di Olimpiade Tokyo 2020 dan meraih medali di Olimpiade Paris 2024

• Pemain Idola: Ding Ning (petenis meja asal China), Dina Meshref (petenis meja asal Mesir)

Atlet Tertua

Sebaliknya atlet tertua di pentas Olimpiade 2020 adalah sosok perempuan berpengalaman, Mary Hanna.

Atlet equestrian atau penunggang kuda ini berasal dari Australia berusia 66 tahun dan sudah memiliki tiga cucu.

Jam terbang Mary Hanna bukan guyonan semata. Olimpade Tokyo 2020 bukanlah ajang Olimpiade pertamanya. Ia pernah merasakan atmosfer Olimpiade sejak 1996, tepatnya Olimpiade Atlanta 1996, Sydney 2000, Athena 2004, London 2012, Rio 2016, dan kini Tokyo 2020.

Namun, dari lima Olimpiade sebelumnya, Hanna belum pernah mencicipi manisnya menggigit medali pesta olahraga terakbar dunia itu.

Di ajang kali ini, Hanna akan bermain di kelas individual, dressage team, dan dressage individual. Dia akan menunggangi kuda kesayangannya, Calanta, dan mencoba peruntungan meraih medali di kesempatan kali ini.

Mengutip dari laman resmi Olimpiade, berikut profil Marry Hanna:

• Nama: Mary Hanna

• Tempat lahir: Melbourne, Australia

• Tanggal lahir: 1 Desember 1954

• Kewarganegaraan: Australia

• Cabor: Equestrian

• Asal klub: Statene Park (Australia)

• Awal karier: Mengenal dunia kuda sejak usia 4 tahun. Mengawali karier sebagai atlet profesional pada 4 Juli 2012

• Ambisi: Berkompetisi di Olimpiade Tokyo 2020 dan Piala Dunia 2022 di Denmark.

• Pemain Idola: Carl Hester (joki asal Inggris) Edward Gal (Belanda), dan Anky can Grunsven (Belanda)

• Ritual: Sepasang kaos kaki keberuntungan yang dipakau sejak Olimpiade Sydney 2000

• Moto: Tetap tenang dan lanjutkan

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Atlet Dayung Purwakarta Raih Medali Emas PON Papua 2021

Selasa, 28 September 2021 | 15:28 WIB

Hasil Piala Sudirman 2021: Sumbang Poin di Laga Penutup

Senin, 27 September 2021 | 15:00 WIB
X