Jati Diri Orang Indonesia Dibangun oleh Karakter Building Setiap Daerah

- Minggu, 27 Desember 2020 | 16:36 WIB
Panitia Kongres Sunda 2020
Panitia Kongres Sunda 2020

SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Setelah mengadakan sawalamaya “Deklarasi Juanda” di  hari Nusantara, 13 Desember 2020 lalu, Panitia Kongres Sunda kembali mengadakan sawalamaya yang bertema “Refleksi Kebangsaan Akhir Tahun 2020: Merajut Komitmen Berkearifan Budaya Daerah untuk Kebaikan Bangsa dalam Bingkai NKRI”, Minggu 27 Desember 2020, di Hotel Sutan Raja, Soreang Kabupaten Bandung.

Menurut Andri Perkasa Kantaprawira, yang merupakan Steering Comittee (SC) Kongres Sunda, sawalamaya kali ini bertepatan dengan “Penyerahan Kedaulatan” hasil Konferensi Meja Bundar, 27 Desember 1949. Panitia  mengundang tokoh-tokoh bangsa dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Terutama mereka yang mewakil  daerah dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di antaranya:  Ir. A.A. La Nyalla Mahmud Mattalitti; Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie, S.H.; Sultan Bachtiar Najamudin, S.IP., M.Si.; H. Fachrul Razi, M.IP.; Dr. H. Aliman Sori, S.H., M.Hum., M.M.; Gusti Kandjeng Ratu Hemas; Anak Agung Gde Agung, S.H.; Dr. Filep Wamafna, S.H. M.Hum. Dan  dari tuan rumah hadir: Dra. Hj. Eni Sumarni, M.Kes.; Yudi Latif, Ph.D.

“Tema Kongres Sunda adalah ‘Sunda Mulya. Nusantara Jaya’. Mulya artinya suku Sunda harus bisa dihargai oleh suku bangsa lain seperti yang dilakukan Ir. Juanda karena berhasil membangun Indonesia Jaya. Nusantara Jaya artinya suku bangsa Sunda harus jaya bersama-sama dengan suku bangsa lain dengan mengeksplorasi budaya lokal masing-masing,” kata Andri.

Menurut Andri, dalam sawalamaya kali ini, panitia Kongres Sunda mengajak berefleksi di akhir tahun--mengundang semua tokoh bangsa. Artinya diplomasi keluar sudah dilakukan. “Tinggal agenda yang lebih teknis bersipat ke dalam, yaitu bagaimana membangun jati diri Sunda? Bagaimana menjaga tanah tatar Sunda?  Dan bagaimana nama provinsi Jawa Barat menjadi provisi tatar Sunda?”

Ke depannya, panitia Kongres Sunda berharap Indonesia menjadi lebih baik. Artinya menjadi Indonesia yang maju, tapi sekaligus menghargai “kak-kaki” atau suku-suku bangsa dan budaya yang dipunyai. ”Dengan demikian, Indonesia maju otomatis suku-suku bangsa yang terdapat di dalamnya menjadi maju,” katanya.

Sementara, menurut Andri, Kongres Sunda yang sedianya akan dilaksanakan tahun 2020, tapi berhubung masa pandemi, dimundurkan menjadi tahun 2021. “Kita  masih menunggu perkembangan pandemi Covid-19. Inginnya Kongres Sunda bisa terlaksana di bulan Agustus 2021. Insya Allah, Kongres Sunda dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan ditutup oleh K.H. Ma’ruf Amin,” pungkas Andri.

Sementara itu, wakil DPD dari Jawa Barat, Dra. Hj. Eni Sumarni, M. Kes., mengatakan, Kongres Sunda adalah pintu masuk yang menginspirasi semua daerah untuk menyumbangkan kontribusinya masing-masing, membangun kesamaan pandang, kepada kejayaan Indonesia. Sehingga terbangun karakter building, jati diri orang Indonesia yang berbudaya.

“Jati diri orang orang Indonesia dibangun oleh karakter building masing-masing daerah. Setiap daerah punya karakter buildingnya masing-masing. Orang Sunda punya konsep, misalnya, ‘Cageur Bageur Pinter’, ‘Repeh Rapih Kerta Raharja’,  ‘Kukuh kana Jangji’, ‘Leber Wawanen’,  ‘Medangkeun Kamulyaan’, dan lain-lain,” kata Eni.

Editor: Dudung Ridwan

Tags

Terkini

Pemadaman Listrik Hari Ini di Bandung 30 November 2021

Selasa, 30 November 2021 | 09:47 WIB

Bangunan SDN 7 Rancaekek Ambruk!

Senin, 29 November 2021 | 14:21 WIB

UMK Kabupaten Bandung 2022 Direkomendasikan Naik 10%

Sabtu, 27 November 2021 | 15:00 WIB

Pertama Kali, Fashion Show di Kebun Teh Pangalengan

Jumat, 26 November 2021 | 17:05 WIB

Pemadaman Listrik Hari Ini di Bandung 25 November 2021

Kamis, 25 November 2021 | 08:30 WIB
X