Ahli Biologi Peringatkan Munculnya Strain Resisten Vaksin

- Selasa, 3 Agustus 2021 | 07:27 WIB
Ilustrasi -- virus.
Ilustrasi -- virus.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Para ahli biologi dari University of East Anglia, Inggris, memperingatkan bahwa dunia tengah berada dalam "perlombaan bersenjata" melawan SARS-CoV-2, virus penyebab pandemi Covid-19. Dalam jurnal yang mereka tulis di Virulence, ketidakmampuan melakukan pengetatan pembatasan kegiatan masyarakat dan rendahnya cakupan vaksinasi berisiko besar mengembangkan varian virus yang lebih mematikan ke depannya.
 
"Pembatasan yang dilonggarkan akan meningkatkan penularan dan memungkinkan populasi virus berkembang, juga meningkatkan potensi evolusioner adaptif dan meningkatkan risiko strain resisten vaksin yang muncul melalui proses yang dikenal sebagai antigenic drift,” tulis mereka, dikutip dari Medical News Today, Senin (2/8).
 
Penyimpangan antigenik (antigenic drift) mengacu pada mutasi acak terus-menerus dalam genom virus yang mengubah protein pada permukaan partikel virus. Meski banyak negara yang melakukan vaksinasi besar-besaran dan mengurangi keterisian rumah sakit, namun jumlah kasus yang masih tinggi di banyak negara bisa menjadi medium pencampuran wabah.
 
Para penulis studi pun mengingatkan kemungkinan adanya banyak varian baru ke depannya. Mereka menunjukkan, selama pandemi, suksesi varian yang lebih menular telah menjadi strain dominan dalam populasi.
 
"Perhatian utama saya adalah tentang jumlah kasus yang tinggi saat ini," kata salah satu penulis utama Dr. Cock Van Oosterhout, Ph.D., yang merupakan profesor genetika evolusioner di University of East Anglia.
 
Van Oosterhout menyebut, kasus Covid-19 yang masih meninggi bisa mengakibatkan evolusi lanjutan dari virus. Hal itu dinilainya berisiko, terlebih ketika adanya kekhawatiran evolusi varian yang lebih ganas atau varian yang dapat lolos dari imunitas yang diperkenalkan oleh vaksin.
 
Para penulis menunjukkan bahwa selama pandemi, suksesi varian yang lebih menular telah menjadi strain dominan dalam populasi. Meski vaksinasi diklaim Oosterhout bisa mengurangi tingkat kematian Covid-19 di beberapa negara, namun masih banyak yang rentan terkena wabah Covid-19.
 
"Ini menunjukkan kita masih memiliki pertempuran di tangan kita. Untuk alasan itu, kita tidak boleh lengah di tengah perlombaan senjata co-evolutionary," katanya.
 
Studi itu menyatakan, anak-anak yang secara klinis sangat rentan terhadap Covid-19, termasuk siapapun yang memilih untuk tidak divaksinasi. Di samping itu, ada risiko peningkatan kasus bagi wilayahnya ketika pelonggaran pembatasan dilakukan.

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Terkini

6 Bahan Dapur untuk Turunkan Berat Badan

Sabtu, 18 September 2021 | 15:00 WIB

Mimpi Basah Jarang Terjadi Setelah Menikah

Jumat, 17 September 2021 | 22:10 WIB

Tubuh Alami Hal Ini saat Nonton Film Horor

Jumat, 17 September 2021 | 14:23 WIB

Minum Air Cegah Gagal Jantung 25 Tahun Kemudian!

Jumat, 17 September 2021 | 11:05 WIB

5 Manfaat Bernyanyi untuk Kesehatan Ini

Jumat, 17 September 2021 | 10:51 WIB

Vaksin Covid-19 Sebabkan Hipoestesia, Kondisi Apa Itu?

Jumat, 17 September 2021 | 10:37 WIB

Mengumbar Kemesraan di Media Sosial Tanda Lebih Bahagia?

Kamis, 16 September 2021 | 16:55 WIB

Cara Memutihkan Gigi Alami, Bahannya Banyak di Rumah!

Kamis, 16 September 2021 | 16:30 WIB

Bela Diri untuk Wanita, 5 Teknik Ini Wajib Dikuasai!

Kamis, 16 September 2021 | 16:11 WIB

Kamu Takut Disentuh Orang Lain? Waspada Idap Fobia Ini

Kamis, 16 September 2021 | 15:53 WIB

Covid-19 Bisa Rusak Permanen Anak Muda, Apa Sebabnya?

Kamis, 16 September 2021 | 15:41 WIB

Diet Ini Atasi Disfungsi Ereksi, Pria Harus Tahu!

Kamis, 16 September 2021 | 15:19 WIB

Tanda Diabetes Semakin Parah, 5 Buah Ini Penakluknya!

Kamis, 16 September 2021 | 13:11 WIB
X