Efek Interaksi Obat Bisa Positif atau Negatif, Ini Kata Pakar

- Senin, 26 Juli 2021 | 09:41 WIB
Ilustrasi --Mengonsumsi lebih dari satu obat pada saat bersamaan bisa menimbulkan perubahan manfaat atau efek samping obat. Begitu juga apabila pemberian obat berbarengan dengan makanan, minuman, suplemen, atau bahan herbal tertentu.
Ilustrasi --Mengonsumsi lebih dari satu obat pada saat bersamaan bisa menimbulkan perubahan manfaat atau efek samping obat. Begitu juga apabila pemberian obat berbarengan dengan makanan, minuman, suplemen, atau bahan herbal tertentu.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Mengonsumsi lebih dari satu obat pada saat bersamaan bisa menimbulkan perubahan manfaat atau efek samping obat. Begitu juga apabila pemberian obat berbarengan dengan makanan, minuman, suplemen, atau bahan herbal tertentu.

Kondisi demikian disebut dengan istilah interaksi obat. Akan tetapi, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Profesor Retnosari Andrajati, menjelaskan bahwa interaksi obat tidak selalu terjadi. Kalaupun terjadi, efeknya bisa positif maupun negatif.

"Ada obat yang pemberiannya sengaja dikombinasikan karena sudah terbukti bahwa jika diberikan bersamaan akan memberi efek positif. Menambah efek kedua obat dibandingkan jika pemberiannya terpisah," ujar pakar farmasi klinik tersebut.

Retno menjelaskan lebih lanjut mengenai efek negatif dari interaksi obat. Terdapat beberapa tingkatan kategori. Misalnya, interaksi obat tidak memberikan efek positif tapi tidak menyebabkan masalah apapun. Ada pula yang menyebabkan masalah tapi tidak terlalu signifikan.

Jika demikian, lebih dari satu obat masih bisa diberikan bersamaan, dengan melakukan monitoring mengenai masalah yang kemungkinan timbul. Ada juga interaksi obat yang masalahnya benar-benar besar sehingga sama sekali tidak boleh diberikan bersamaan. 

Dengan mengonsumsi lebih banyak obat, ada kemungkinan terjadi interaksi obat, meski bisa pula tidak menimbulkan interaksi apa-apa. Pasalnya, pemberian obat bukan berdasar hitungan matematis dan efek obat bervariasi pada setiap orang. 

Hal sama juga berlaku pada pengidap Covid-19. Risiko interaksi obat tidak sama untuk setiap orang. Karenanya, Retno mengimbau pasien agar menyampaikan kondisinya dengan jelas kepada tenaga kesehatan, terutama jika memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Kepala Unit Farmasi dan Central Sterilization Supply Department (CSSD) Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) itu menyampaikan, tenaga kesehatan yang paling mengetahui tentang interaksi obat adalah apoteker. Namun, dokterlah yang mengetahui penyakit pasien dan punya keputusan meresepkan obat.

Pasien dapat bertanya dan berkonsultasi mengenai kondisinya sebelum dokter meresepkan obat. Dengan begitu, dokter akan memperhitungkan apakah ada interaksi obat yg membahayakan atau berpotensi mengurangi dan menghilangkan efek obat.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Terkini

6 Bahan Dapur untuk Turunkan Berat Badan

Sabtu, 18 September 2021 | 15:00 WIB

Mimpi Basah Jarang Terjadi Setelah Menikah

Jumat, 17 September 2021 | 22:10 WIB

Tubuh Alami Hal Ini saat Nonton Film Horor

Jumat, 17 September 2021 | 14:23 WIB

Minum Air Cegah Gagal Jantung 25 Tahun Kemudian!

Jumat, 17 September 2021 | 11:05 WIB

5 Manfaat Bernyanyi untuk Kesehatan Ini

Jumat, 17 September 2021 | 10:51 WIB

Vaksin Covid-19 Sebabkan Hipoestesia, Kondisi Apa Itu?

Jumat, 17 September 2021 | 10:37 WIB

Mengumbar Kemesraan di Media Sosial Tanda Lebih Bahagia?

Kamis, 16 September 2021 | 16:55 WIB

Cara Memutihkan Gigi Alami, Bahannya Banyak di Rumah!

Kamis, 16 September 2021 | 16:30 WIB

Bela Diri untuk Wanita, 5 Teknik Ini Wajib Dikuasai!

Kamis, 16 September 2021 | 16:11 WIB

Kamu Takut Disentuh Orang Lain? Waspada Idap Fobia Ini

Kamis, 16 September 2021 | 15:53 WIB

Covid-19 Bisa Rusak Permanen Anak Muda, Apa Sebabnya?

Kamis, 16 September 2021 | 15:41 WIB

Diet Ini Atasi Disfungsi Ereksi, Pria Harus Tahu!

Kamis, 16 September 2021 | 15:19 WIB

Tanda Diabetes Semakin Parah, 5 Buah Ini Penakluknya!

Kamis, 16 September 2021 | 13:11 WIB
X