Vaksinasi Bisa Kurangi Gejala Berat hingga Kematian Akibat COVID-19

- Minggu, 25 Juli 2021 | 15:29 WIB
Antusias masyarakat Kabupaten Tasikmalaya untuk mendapatkan vaksin cukup tinggi. Namun hal ini tidak dibarengi dengan ketersediaan vaksin. Keterbatasan suplai vaksin membuat upaya vaksinasi terhambat.
Antusias masyarakat Kabupaten Tasikmalaya untuk mendapatkan vaksin cukup tinggi. Namun hal ini tidak dibarengi dengan ketersediaan vaksin. Keterbatasan suplai vaksin membuat upaya vaksinasi terhambat.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Meskipun telah mendapat vaksinasi COVID-19, seseorang masih bisa terpapar hingga terinfeksi virus Corona penyebab COVID-19. Namun, vaksinasi terbukti bisa menurunkan risiko munculnya gejala berat atau bahkan kematian ketika seseorang terinfeksi COVID-19.

Hal tersebut disampaikan Ahli Virologi dan Molekuler Biologi Universitas Udayana Prof. I Gusti Ngurah Mahardika. Dia juga mengatakan vaksinasi mampu mengurangi tekanan terhadap rumah sakit karena meringankan gejala infeksi pada pasien. 

"Untuk itu amat penting untuk divaksin untuk mengurangi risiko berat," ujarnya sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Minggu 25 Juli 2021.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan kepada penduduk DKI Jakarta pada kurun waktu 12 Januari sampai 8 Juli 2021, dari 3,21 juta orang yang telah menerima dosis pertama ada 15.088 tetap terinfeksi COVID-19 atau 0,47%.

Dari jumlah tersebut, pasien tidak bergejala sebanyak 8.051 orang dan yang memiliki gejala 6.658 orang. Adapun pasien yang meninggal dunia sebanyak 50 orang atau 0,0016 persen. 

Adapun dari yang telah menerima vaksin dosis kedua sebanyak 1,94 juta dosis, yang tetap terinfeksi sebanyak 1.896 atau sekitar 0,1 persen. Dari jumlah tersebut, sebanyak 837 orang tidak bergejala dan sebanyak 1,055 bergejala. Sementara yang meninggal dunia sebanyak 4 orang atau 0,0002%. 

Menyinggung masih tingginya angka kematian harian, menurut Prof. Mahardika, efek vaksinasi memang baru terlihat terhadap laju penyebaran COVID-19 jika yang divaksin paling tidak 50%. Dia mencontohkan, di negara yang capaian vaksinasi COVID-19 di atas 50 persen, seperti Amerika Serikat dan Inggris, angka kematian rendah walau lonjakan kasus positif kembali tinggi.

Menurut Prof. Mahardika, saat ini berdasarkan data Kementerian Kesehatan jumlah yang menerima vaksinasi dosis pertama sebanyak 43,1 juta. Sementara untuk dosis kedua mencapai 16,8 juta atau telah vaksinasi lengkap. Jadi sudah hampir 60 juta dosis yang sudah disuntikkan. 

Namun jika dilihat persentase dari jumlah penduduk Indonesia yang amat banyak, angka tersebut baru 8 persen dari target vaksinasi masyarakat yang sudah lengkap vaksinasi dan 20,7 persen yang sudah divaksin dosis pertama.

Halaman:

Editor: Nur Khansa Ranawati

Tags

Terkini

6 Bahan Dapur untuk Turunkan Berat Badan

Sabtu, 18 September 2021 | 15:00 WIB

Mimpi Basah Jarang Terjadi Setelah Menikah

Jumat, 17 September 2021 | 22:10 WIB

Tubuh Alami Hal Ini saat Nonton Film Horor

Jumat, 17 September 2021 | 14:23 WIB

Minum Air Cegah Gagal Jantung 25 Tahun Kemudian!

Jumat, 17 September 2021 | 11:05 WIB

5 Manfaat Bernyanyi untuk Kesehatan Ini

Jumat, 17 September 2021 | 10:51 WIB

Vaksin Covid-19 Sebabkan Hipoestesia, Kondisi Apa Itu?

Jumat, 17 September 2021 | 10:37 WIB

Mengumbar Kemesraan di Media Sosial Tanda Lebih Bahagia?

Kamis, 16 September 2021 | 16:55 WIB

Cara Memutihkan Gigi Alami, Bahannya Banyak di Rumah!

Kamis, 16 September 2021 | 16:30 WIB

Bela Diri untuk Wanita, 5 Teknik Ini Wajib Dikuasai!

Kamis, 16 September 2021 | 16:11 WIB

Kamu Takut Disentuh Orang Lain? Waspada Idap Fobia Ini

Kamis, 16 September 2021 | 15:53 WIB

Covid-19 Bisa Rusak Permanen Anak Muda, Apa Sebabnya?

Kamis, 16 September 2021 | 15:41 WIB

Diet Ini Atasi Disfungsi Ereksi, Pria Harus Tahu!

Kamis, 16 September 2021 | 15:19 WIB

Tanda Diabetes Semakin Parah, 5 Buah Ini Penakluknya!

Kamis, 16 September 2021 | 13:11 WIB
X