Epidemiolog Jelaskan Soal Kematian Anak Tinggi Akibat Covid-19 

- Minggu, 27 Juni 2021 | 20:04 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Tingkat kematian anak yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia, yakni 3 sampai 5 persen. Terkait hal ini, Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani angkat bicara.

Dia mengatakan, perlu dilihat tingkat kesehatan anak Indonesia secara umum.

Dilansir Republika, Minggu 27 Juni 2021, secara global, tingkat keparahan Covid-19 pada anak rendah karena mereka bisa membentuk imunitas tubuhnya. Imunitas tubuh, kata Laura, dipengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Menurutnya, perlu dibuka informasi secara transparan apakah kematian anak terpapar Covid-19 disebabkan komorbid atau virus itu sendiri.

"Kalau menurut saya, memang harus diinformasikan secara transparan. Kasus Covid-19 pada anak itu apakah hanya murni karena infeksi Covid-19 ataukah sama halnya dengan kelompok lansia yang ada komorbid. Ini harus diungkap, harus disampaikan apakah ada korelasi dengan penyakit lain atau dengan kondisi kesehatan yang lain," kata Laura. 

Saat ini, kasus stunting di Indonesia masih tinggi yakni sekitar 27 persen pada tahun 2020. Anak stunting berkaitan dengan nutrisi yang kurang. Laura mengatakan, jika anak kekurangan nutrisi maka infeksi Covid-19 juga akan berisiko lebih besar. Akhirnya tingkat keparahan dari infeksi Covid-19 menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok anak negara lain.

Ia menambahkan, dalam kehidupan sehari-hari perlu dilihat aktivitas anak selama tidak pergi ke sekolah. Selama pandemi, hampir semua sekolah di Indonesia ditutup dan dilakukan pembelajaran daring. Terkait hal ini, perlu dilihat apakah selama pandemi anak hanya diam di rumah atau banyak pergi keluar.

"Kalau kita lihat riilnya di lapangan, itu kan sebetulnya anak-anak ini beraktivitas di luar rumah. Misalkan masih bertemu dengan temannya. Ini kan ada risiko terinfeksi. Ataupun anak-anak ini bisa terinfeksi dari orang tuanya, dari keluarganya yang mobile," kata dia lagi.


 

Editor: Nur Khansa Ranawati

Tags

Terkini

Mimpi Basah Jarang Terjadi Setelah Menikah

Jumat, 17 September 2021 | 22:10 WIB

Tubuh Alami Hal Ini saat Nonton Film Horor

Jumat, 17 September 2021 | 14:23 WIB

Minum Air Cegah Gagal Jantung 25 Tahun Kemudian!

Jumat, 17 September 2021 | 11:05 WIB

5 Manfaat Bernyanyi untuk Kesehatan Ini

Jumat, 17 September 2021 | 10:51 WIB

Vaksin Covid-19 Sebabkan Hipoestesia, Kondisi Apa Itu?

Jumat, 17 September 2021 | 10:37 WIB

Mengumbar Kemesraan di Media Sosial Tanda Lebih Bahagia?

Kamis, 16 September 2021 | 16:55 WIB

Cara Memutihkan Gigi Alami, Bahannya Banyak di Rumah!

Kamis, 16 September 2021 | 16:30 WIB

Bela Diri untuk Wanita, 5 Teknik Ini Wajib Dikuasai!

Kamis, 16 September 2021 | 16:11 WIB

Kamu Takut Disentuh Orang Lain? Waspada Idap Fobia Ini

Kamis, 16 September 2021 | 15:53 WIB

Covid-19 Bisa Rusak Permanen Anak Muda, Apa Sebabnya?

Kamis, 16 September 2021 | 15:41 WIB

Diet Ini Atasi Disfungsi Ereksi, Pria Harus Tahu!

Kamis, 16 September 2021 | 15:19 WIB

Tanda Diabetes Semakin Parah, 5 Buah Ini Penakluknya!

Kamis, 16 September 2021 | 13:11 WIB

Batuk Ini Bisa Jadi Tanda Gejala Pneumonia, Waspada!

Kamis, 16 September 2021 | 11:32 WIB

Vaksin Tak Picu Keguguran pada Ibu Hamil

Kamis, 16 September 2021 | 10:25 WIB
X