Simak, Makanan Bisa Pengaruhi Emosi hingga Kesehatan Mental

- Selasa, 11 Mei 2021 | 05:55 WIB
Ilustrasi -- menu diet sehat.
Ilustrasi -- menu diet sehat.

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Makanan yang sehat tidak hanya dibutuhan bagi fisik manusia. Sejumlah studi menunjukkan, makanan juga mempengaruhi emosi orang. Jadi makanan mana yang tepat?

Orang kadang marah, tapi kadang ramah. Apakah ini sekadar emosi? Atau dipengaruhi oleh faktor lain? Psikolog dan peneliti otak Soyoung Park mengatakan, tingkah laku dan emosi dipengaruhi makanan yang kita santap.  

"Kalau orang ditanya, apakah mereka percaya bahwa apa yang mereka makan berpengaruh atas kesehatan, sebagian besar orang menjawab ‘ya‘". Tapi sebagian besar tidak bisa membayangkan, bahwa makanan juga mempengaruhi pikiran dan keputusan yang diambil seseorang," ucap dia.

Makanan pengaruhi emosi
Untuk membuktikan, bahwa makanan berpengaruh atas tingkah laku kita, 87 orang responden ikut dalam percobaan dengan memakan sarapan yang berbeda. Sebagian lebih banyak karbohidrat, dan sebagian lebih banyak protein. Beberapa jam setelah sarapan, mereka harus ikut dalam permaian yang tidak adil, dan mengambil sebuah keputusan.

Di depan dua orang ada 10 uang koin 1 Euro. Salah seorang hanya dapat 2 Euro, seorang lainnya dapat 8 Euro. Jika mereka menerima, keduanya mendapat uang. Jika menolak, keduanya tidak dapat uang sama sekali. Salah satu kelompok lebih bersedia menerima tawaran tak adil.  

Asam amino tirosin memicu perasaan senang
"Kelompok yang menyantap sarapan dengan kadar protein tinggi, lebih toleran terhadap penawaran yang tidak adil,” kata Prof. Soyoung Park.

Sedangkan kelompok yang menyantap lebih banyak karbohidrat, lebih merasa terganggu dengan ketidakadilan itu. Penelitian darah mereka memberikan penjelasaannya.

Asam amino tirosin menjadi basis pemicu perasaan senang. Dalam sarapan yang mengandung lebih banyak karbohidrat, kadar tirosinnya lebih rendah. Sebaliknya, jika lebih banyak mengandung protein, kadarnya lebih tinggi.

Bagi Prof. Soyoung Park ini bukti, bahwa makanan ikut mempengaruhi metabolisme di otak, dan dengan demikian juga tingkah laku orang.

Sebuah studi di Skotlandia tahun 2002 lalu juga memberikan petunjuk sama. Di sini diteliti, apakah beberapa unsur dalam makanan menyulut sikap agresif. Dengan suplemen nutrisi khusus, ternyata sikap kasar di antara narapidana bisa dikurangi.

Sisi biologis perilaku kriminal
Studi itu diulang 2014 dengan cakupan lebih luas. Hasilnya dikirimkan kepada Ap Zaalberg, Ph.D., yang ketika itu bertugas sebagai psikolog di sejumlah penjara.   

Perilaku kriminal bukan hanya tergantung pada masalah lingkungan, bagaimana didikan orang tua, tingkat pendidikan dan intelegensia. "Melainkan ada sisi biologisnya juga. Dan itu sisi yang sangat menarik bagi saya," kata Ap Zaalberg.

Ap Zaalberg mengulang studi itu di Belanda, dan melibatkan lebih dari 200 narapidana. Separuh mendapat suplemen nutrisi khusus. Separuhnya lagi hanya plasebo.  

"Dalam kelompok yang mendapat suplemen sungguhan, tingkat agresi dan jumlah insiden menurun sekitar 35 persen. Dan jika kita melihat insiden dengan kekerasan, saling tendang dan baku pukul, efeknya bahkan lebih dramatis lagi. Jumlah insiden serius berkurang sekitar 50 persen.”

Ternyata makanan yang disiapkan dengan suplemen nutrisi punya pengaruh atas emosi dan sikap para narapidana.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Terkini

Daftar Tepung untuk Penderita Diabetes, Semua Enak!

Senin, 18 Oktober 2021 | 13:58 WIB

Cara Mengatasi Cegukan dengan Mudah, Tak Sulit!

Senin, 18 Oktober 2021 | 09:28 WIB

Waspada Kebiasaan Mengucek Mata, Ini Bahayanya!

Senin, 18 Oktober 2021 | 08:28 WIB

5 Olahraga Ringan dan Mudah untuk Kecilkan Paha

Minggu, 17 Oktober 2021 | 13:15 WIB
X