Vaksin Efektif Tak Kunjung Ada, Corona Disebut Bertahan Sampai 2022

- Minggu, 10 Mei 2020 | 15:25 WIB
Ilustrasi (ayosemarang.com)
Ilustrasi (ayosemarang.com)
<p> p><p><strong>LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- strong>Berdasarkan dua studi terbaru, disebutkan bahwa pandemi virus Corona bisa bertahan hingga tahun 2022 apabila vaksin yang efektif belum ditemukan. Penelitian itu membuat ilmuan terkejut.p> <p>Menyadur dari New York Times, dua studi terbaru itu dilakukan Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di Universitas Minnesota dan Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard.p> <p>Co-author atau penulis bersama dari dua penelitian tersebut, Dr. Marc Lipsitch menyebut pandemi virus Corona masih jauh dari kata selesai. Masyarakat dunia harus bersiap hidup bersama Covid-19 hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun ke depan.p> <p>"Tepatnya berapa lama (pandemi bertahan) masih harus dilihat," kata Dr. Marc Lipsitch sebagaimana dikutip dari New York Times, Minggu (10/5/2020).p> <p>"Ini akan menjadi masalah bagaimana mengelola (pandemi Covid-19) selama bertahun-tahun ke depan. Bukan masalah (kita) telah melwati puncaknya sebagaimana yang orang-orang percayai."p> <p>Dalam dua studi tersebut, para peneliti membuat model-model bagaimana pandemi Covid-19 bisa bertahan hingga minimal dua tahun ke depan.p> <p><strong>AYO BACA : strong>p><p>Penelitian dari Universitas Minnesota membuat tiga model atau skenario yang memprediksi bagaimana dunia bakal menghadapi Covid-19 dengan berbagai cara berbeda.p> <p>Skenario pertama menunjukan bahwa infeksi Covid-19 di dunia akan berfluktuasi dalam keadaan relatif stabil hingga 2020.p> <p>Sementara skenario kedua memperlihatkan bahwa infeksi virus Corona di dunia bakal memuncak pada akhir 2020 dan berangsur-angsur melandai sebelum terjadi sedikit lonjakan di 2022.p> <p>Sedangkan skenario ketiga adalah yang paling diharapkan para ilmuan, yakni infeksi Covid-19 berlangsung lambat atau "slow burn" dan berangsur-angsur hilang di tahun 2022.p> <p>Dalam makalah ilmiah itu, para peneliti menjelaskan bahwa realitas apapun bisa terwujud tergantung dari langkah-langkah pencegahan yang dilakukan berbagai negara, dalam rangka menunggu vaksin tercipta.p> <p>"Kita harus bersiap untuk setidaknya 18 hingga 24 bulan aktivitas Covid-19 yang signifikan, dengan hot spot bermunculan secara berkala di beragam wilayah geografis," tulis ilmuan di makalah tersebut.p> <p><strong>AYO BACA : strong>p><p>Sementara dalam studi yang dilakukan tim Harvard, mereka membuat skenario dengan menggunakan simulasi data Covid-19 terbaru dan berbagai aspek pandemi virus terkait.p> <p>Penelitian yang digawangi Dr. Stephen Kissler, Dr. Lipsitch, Christine Tedijanto dan Edward Goldstein, menemukan skenario yang hampir sama.p> <p>Dalam skenario yang mereka jabarkan, dunia disebut harus memberlakukan lockdown atau social distancing secara berkala hingga pandemi Covid-19 benar-benar selesai.p> <p>Skenario pertama menunjukan bahwa masyarakat dunia harus melakukan lockdown atau social distancing secara berkala saat infeksi Covid-19 mencapai jumlah 35 kasus per 10 ribu populasi.p> <p>Lockdown atau social distancing akan menurunkan jumlah kasus infeksi, sebelum akhirnya kembali meloncak seiring pembatasan sosial itu dilonggarkan.p> <p>Yang membedakan penelitian dari Harvard dan Universitas Minnesota adalah, mereka turut memasukan grafik terkait herd imunnity atau kekebalan kelompok apabila pandemi Covid-19 sudah menyebar secara luas.p> <p>Secara sederhana, grafis terkait herd imunnity baru bisa terwujud apabila 55 persen dari populasi dunia terinfeksi virus Corona. Dalam tahap itu, Covid-19 dinilai akan terhenti dengan sendirinya.p> <p>Celakanya, proses herd imunnity itu diperkirakan para ilmuan bakal membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk bisa mencapai target 55 persen dari populasi.p> <p>“Kami mengantisipasi periode jarak sosial yang berkepanjangan akan diperlukan, tetapi pada awalnya tidak menyadari bahwa itu bisa selama ini,” kata Dr. Kissler.p><p><strong>AYO BACA : strong>p>

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

X