PPPKM Level 4 di Kota Tasik Dinilai Efektif

- Kamis, 5 Agustus 2021 | 15:46 WIB
Ilustrasi -- Satgas Covid-19 Kota Bogor saat melakukan pemantauan di posko penyekatan.
Ilustrasi -- Satgas Covid-19 Kota Bogor saat melakukan pemantauan di posko penyekatan.

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM level 4 sebagai upaya menekan mobilitas masyarakat dalam penanganan pandemi Covid-19, dinilai Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat sangat berdampak terhadap penurunan kasus Covid-19 di Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, selama satu bulan pelaksanaan PPKM darurat dan PPKM level 4 di Kota Tasikmalaya mempu meminimalisir mobilitas masyarakat sehingga penyebaran Covid-19 cukup bisa ditekan.

"PPKM leveling ini faktanya memang sangat berdampak terhadap pengurangan kasus khususnya di Kota Tasikmalaya, ujar Uus, Kamis, 5 Juli 2021.

Ia menuturkan, saat ini kasus harian Covid-19 di Kota Tasikmalaya mengalami penurunan dibandingkan dengan awal-awal pelaksanaan PPKM. Beberapa waktu memang penambahan kasas baru bisa mencapai 125 kasus sampai 190 kasus per hari. Namun, kasus baru kini sekira 50 kasus dampai 70 kasus per hari.

"Bed Occupancy Rate (BOR) dibeberapa rumah sakit juga sekarang sudah turun. Saat ini rata-rata BOR di rumah sakit sekitar 54,58 persen. Kalau dulu BOR di kita rata-rata 80 persen sampai 90 persen. Bahkan ada yang BORnya di atas 100 persen. Ini kan sudah gak sehat. Alhamdulilah sekarang sudah turun, " ucapnya.

Uus mengatakan, kendati BOR sudah turun, tapi kasus kematian di Kota Tasikmalaya berkaitan dengan Covid-19 masih cukup tinggi. Angka kematian di Kota berjuluk kota santri ini berada di 3,62 persen.

"Memang angka kematiannya masih tinggi, tapi orang yang meninggal tidak sampai belasan per hari. Saat ini paling 3 sampai 4 orang yang meninggal," kata dia.

Ia menjelaskan, kendati orang yang meninggal sudah menurun, tapi yang namanya kematian baik itu 3 atau 4 masih sangat tinggi. Pihaknya akan terus berupaya untuk menekan angka jumlah kematian dengan memaksimalkan seluruh potensi yang ada di dinas kesehatan dan rumah sakit.

"Mudah-mudahan kita bis tekan terus kasus baru dan kasus kematiannya," harap Uus.

5M Dinilai Masih Relevan dan Efektif Cegah Penularan Covid-19 

Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya terus mengingatkan dan mengajak masyarakat untuk selalu disiplin mematuhi protokol kesehatan (prokes) selama pandemi Covid-19. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Asep Hendra Hendriana mengatakan, sejauh ini prokes dengan 5M yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas, masih relevan dan efektif dalam mencegah dari terpaparnya virus Corona. 

"5M ini masih efektif dan relevan untuk menangkal terpapar dari virus varian apapun," ujar Asep. 

Menurutnya, disaat sama-sama menggunakan masker, insiden untuk terjangkitnya atau terpaparnya virus ini tidak terlalu tinggi, apalagi menjaga jarak, mencuci tangan, diam di rumah, dan mengurangi mobilitas. Sehingga dengan mematuhi prokes bisa mengurangi atau meminimalisir penularan. 

"Saya mengajak semuanya untuk lebih disiplin prokes terutama memakai masker. Meningkatnya kasus saat ini salah satunya tidak patuh prokes. Masyarakat sudah jenuh memakai masker, tapi 5M ini masih relevan mencegah penularan," ucapnya.

Ia menuturkan, sejau ini pihaknya belum menemukan adanya kasus baru akibat terpapar virus varian baru seperti delta. Pihaknya juga mengaku belum melakukan pengambilan sampel karena harus melibatkan pihak penelitian dan pengembangan kesehatan (litbangkes). 

"Varian delta ke Tasikmalaya belum ada, tapi kalau melihat angka-angka penambahan kasus hampir merata di seluruh Indonesia. Di kota-kota besar sudah diambil sampelnya dan itu mendeteksi memang betul ada varian deltanya. Tapi bukan hanya delta, varian kappa juga ada yang seperti campak seperti yang dialami artis Dewi Persik, di mana wajahnya merah-merah seperti campak padahal itu terpapar Covid-19,"kata dia. 

"Jadi beberapa varian-varian yang telah dirilis oleh kementerian Kesehatan itu sudah ada dibeberapa daerah di Indonesia. Kalau di kami belum melakukan pengambilan sampel karena harus melibatkan litbangkes. Tapi kalau melihat angka-angka yang hampir sama dengan daerah lain, kemungkinan besar sudah ada di Tasikmalaya. Namun, untuk memastikannya harus melalui pemeriksaan," pungkasnya. 

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Harga Minyak Goreng Meroket di Cianjur

Kamis, 28 Oktober 2021 | 15:53 WIB

Ribuan Siswa SD Tidak Bisa Login Simulasi ANBK

Selasa, 26 Oktober 2021 | 21:07 WIB
X