Kisah Pemulasara Covid-19 Perempuan, Tak Jarang Pulang Subuh Setelah Mengurus Mayat

- Jumat, 30 Juli 2021 | 06:41 WIB
Permakaman Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Kota Bandung, Senin, 7 Juni 2021. Data yang dihimpun dari Pusat Informasi Covid-19 Kota Bandung per 6 Juni 2021 total kasus terkonfirmasi Covid-19 sebesar 20.003 kasus dengan jumlah aktif 756 kasus, terkonfirmasi sembuh sebanyak 18.892, dan 355 kasus meninggal dunia.
Permakaman Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Kota Bandung, Senin, 7 Juni 2021. Data yang dihimpun dari Pusat Informasi Covid-19 Kota Bandung per 6 Juni 2021 total kasus terkonfirmasi Covid-19 sebesar 20.003 kasus dengan jumlah aktif 756 kasus, terkonfirmasi sembuh sebanyak 18.892, dan 355 kasus meninggal dunia.

INDRAMAYU, AYOBANDUNG.COM -- Petugas pemulasara Covid-19 makin sibuk dari hari ke hari. Hal ini dirasakan Hari Nuryani, seorang pemulasara mayat pasien Covid-19 dari Indramayu.

Dilansir dari Republika.co.id, Ia kadang baru bisa pulang ke rumah saat subuh, jika harus menangani banyak jenazah pasien Covid-19 dalam sehari. Melonjaknya kasus kematian akibat Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir, membuat Hari Nuryani dan para petugas pemulasaraan jenazah bekerja ekstra keras hingga harus siaga 24 jam.

"Kalau kasus kematian lagi meningkat, sehari kita bisa memakamkan empat sampai enam orang. Dan ketika lokasinya jauh, kita juga harus pulang subuh," kata Hari Nuryani, relawan pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Sebagai relawan pemulasaraan jenazah penderita Covid-19, perempuan berusia 49 tahun yang biasa disapa Yani itu juga harus siaga 24 jam. Sebab, sewaktu-waktu dirinya bisa menerima panggilan untuk mengurus jenazah pasien.

Bahkan terkadang Yani menerima panggilan untuk mengurus jenazah, ketika hendak tidur pada malam hari. Bersama timnya, Yani bertugas mengurus jenazah pasien Covid-19, mulai dari memandikan, mengafani dan membungkus jenazah menggunakan plastik serta memasukkannya ke dalam peti jenazah hingga memakamkannya.

Sebagai anggota Unit Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu, Yani sebenarnya sudah biasa mengurusi jenazah. Namun jenazah penderita Covid-19 membutuhkan penanganan yang berbeda.

Petugas harus menerapkan protokol khusus dalam pemulasaraan dan pemakaman jenazah penderita penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona tipe SARS-CoV-2 tersebut. Prosesnya juga membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemulasaraan dan pemakaman biasa.

Selain itu, ancaman tertular virus corona, menjadi risiko yang harus dihadapi saat bekerja. Guna meminimalkan risiko tertular virus, Yani berusaha menjaga ketahanan tubuh dan menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Demi menjaga keselamatan diri dan keluarga yang menanti di rumah, ibu dari tiga anak itu selalu mengenakan alat pelindung diri lengkap saat bertugas. Yani juga tetap menjaga kondisi tubuhnya, seperti meluangkan waktu beristirahat jika telah merasa lelah.

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

UID-Gajah Tunggal Teruskan Sentra Vaksinasi di Karawang

Kamis, 23 September 2021 | 13:09 WIB

22 Persen Pengguna Narkoba Cianjur Didominasi Pelajar

Rabu, 22 September 2021 | 21:24 WIB

Bupati Yakin Cianjur Sudah Layak PPKM Level 1

Rabu, 22 September 2021 | 18:06 WIB

Kecelakaan Maut di Tol Cipali, Empat Orang Tewas

Rabu, 22 September 2021 | 11:40 WIB
X