Dua Pangerannya Berpulang, Keraton Kaprabonan Cirebon Berselimut Duka

- Jumat, 16 Juli 2021 | 10:36 WIB
Gerbang Kaprabonan Cirebon, Jalan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
Gerbang Kaprabonan Cirebon, Jalan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Keraton Kaprabonan Cirebon tengah diselimuti suasana duka usai ditinggal Pangeran Hempi, Raja Kaprabon, yang wafat pada Senin, 12 Juli 2021, dan Pangeran Haerudin, juru bicara Keraton, yang menyusul pada Rabu, 14 Juli 2021, malam.

Pangeran Haerudin merupakan adik kandung dari almarhum Pangeran Hempi. Kakak kandung kedua almarhum, Pangeran Heka Putra mengaku keluarga Keraton Kaprabonan Cirebon masih diselimuti kesedihan.

Menurutnya, kedua almarhum adiknya itu merupakan orang yang cukup aktif di organisasi Keraton Kaprabonan semasa hidupnya.

"Semasa hidupnya, keduanya sangat supel, ramah dan sangat aktif di Keraton Kaprabonan Cirebon. Sehingga kami merasa sangat kehilangan, apalagi keduanya pergi dalam waktu yang berdekatan," katanya, ujar Pangeran Heka Putra, dilaporkan Suara.com, Kamis, 15 Juli 2021.

Ia menjelaskan, Almarhum pangeran Haerudin semasa hidupnya tidak memiliki riwayat penyakit yang cukup serius. Hanya saja, lanjut Pangeran Eka, Almarhum sebelumnya terjatuh di Kamar mandi dan pingsan sekitar pukul 11.30 malam.

"Almarhum sebelum meninggal, sempat jatuh dan pingsan di kamar mandi. Kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong," katanya.

Sementara penyebab wafatnya Pangeran Hempi belum diketahui. Pangeran Hempi dikabarkan sempat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum wafat.

Pemerhati budaya Cirebon, Mustaqim Asteja menyatakan, kabar meninggalnya Hempi dia terima pada Senin malam.

"Saya terima kabar Mama (Bapak/Pak, bahasa Jawa Cirebon) Pangeran Hempi Raja Kaprabon meninggal dunia semalam, saya hubungi keluarganya dan disampaikan beliau sempat dirawat di rumah sakit," ungkap Mustaqim yang juga pengajar budaya dan seni pada Poltekpar Prima Internasional Cirebon ini kepada Ayocirebon.com, Selasa, 13 Juli 2021.

Namun, dia enggan memastikan penyebab kepergian Hempi dengan alasan sedang melayat dan mengantar jenazah Hempi ke peristirahatan terakhirnya.

Jenazah Hempi sempat disalatkan di Mande Layonan Astana Gunung Sembung, Selasa, 13 Juli 2021 pagi. Jenazahnya lantas dikebumikan di komplek makam Kaprabonan di Astana Gunung Sembung, komplek makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.

Mengenal Kaprabonan

Kaprabonan merupakan peguron atau perguruan/tempat belajar. Kaprabonan Cirebon diyakini sebagai tempat menimba ilmu bagi keluarga Kesultanan Cirebon dahulu.

Disarikan Ayocirebon.com dari berbagai sumber, Kaprabonan berasal dari kata Kaprabuan (Raja), yang berfungsi sebagai tempat Dinniyah atau tempat kegiatan agama Islam yang diberlakukan bagi komunitas Keraton Kanoman maupun masyarakat umum.

Kaprabonan Cirebon berdiri ketika Sultan Anom I, Sultan Abil Makarim Mohammad Badrudin yang mendirikan Keraton Kanoman Cirebon wafat, pada 1682.

Berdasarkan silsilah Kesultanan Cirebon yang dimiliki Kaprabonan, Sultan Anom I dan permaisuri keduanya, Ratu Sultan Penengah yang merupakan cucu Pangeran Losari, memiliki anak lelaki bernama Pangeran Raja Adipati Kaprabon.

Sultan Anom I menunjuk Pangeran Raja Adipati Kaprabon sebagai penggantinya ketika dia wafat. Namun, pangeran ini justru menyerahkan kedudukannya kepada sang adik yang berbeda ibu, Pangeran Raja Mandureja.

Pangeran Raja Mandureja sendiri merupakan anak ke-2 dari permaisuri ke-3 Sultan Anom I, Nyimas Ibu.

Pangeran Raja Mandureja kemudian diangkat sebagai Sultan Anom II (Sultan Muhammad Kadhiruddin).

Pangeran Raja Adipati Kaprabon memilih untuk memperdalam agama dan tarekat. Dia menjadi rama guru (Syaikhtuna) Tarekat Sathoriyah dan menjadikan sebidang tanah sebagai tempat tinggalnya, yang sampai kini dikenal sebagai Kaprabonan.

Komplek Kaprabonan dibangun sekitar 1703. Saat ini, bangunan Kaprabonan berlokasi di Jalan Lemahwungkuk, Kelurahan/Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Letak Kaprabonan berbatasan dengan kawasan Pecinan Cirebon dan Pasar Kanoman Cirebon.

Posisinya pula tak jauh dari Keraton Kanoman Cirebon, Keraton Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dan Keraton Kacirebonan.

Kaprabonan kini berhimpitan dengan pemukiman dan pertokoan yang memadati kawasan Pasar Kanoman dan kawasan Pecinan.

Berbeda dengan keraton yang ada di Cirebon yang dilengkapi alun - alun dan masjid, Keprabonan tak memiliki itu semua. Bangunannya pun cenderung bersahaja.

Namun begitu, penamaan beberapa bangunan masih memiliki kesamaan dengan bangunan - bangunan keraton, seperti halnya nama Dalem, Keputren, dan Keputran.

Beberapa ruangan yang ada pada Kaprabonan antara lain, Paseban, Bangsal Jinem, Bangsal Prabayaksa, bahkan pesantren.

Ada pula Musala, keputran dan keputren, taman bunderan, hingga bangunan tempat tempat tinggal Rama Guru Kaprabon.

Sekitar 1700, bangunan di Kaprabonan mulai bertambah seiring penambahan anggota keluarga yang sebagian memilih tinggal di sana.

Beberapa tradisi yang serupa dengan Kesultanan Cirebon digelar pula di Kaprabonan, salah satunya ritual pencucian benda pusaka dan penyajian bubur sura setiap tanggal 10 Sura pada penanggalan Jawa.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

Cianjur Kekurangan Ratusan Guru dan Nakes

Senin, 29 November 2021 | 19:35 WIB

4 Tuntutan Lengkap Demo Buruh di Gedung Sate

Senin, 29 November 2021 | 15:30 WIB

Ketua PWI Jabar Hadiri Konferensi Wilayah PWI Karawang

Sabtu, 27 November 2021 | 18:34 WIB

72 Kepala Sekolah SMP Cianjur Dirotasi

Jumat, 26 November 2021 | 12:29 WIB
X