Pemprov Jabar Sebar 5.000 Paket Ayam Cegah Stunting

- Minggu, 30 Mei 2021 | 12:20 WIB
Ketua Umum Sekoper Cinta (Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita) Atalia Praratya Ridwan Kamil.
Ketua Umum Sekoper Cinta (Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita) Atalia Praratya Ridwan Kamil.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pemprov Jawa Barat (Jabar) menyebarkan 5.000 paket ayam untuk kabupaten/kota di Bandung Raya. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan kecebolan pada anak atau stunting menuju Jabar Zero Stunting 2023.  

Dilansir dari Republika.co.id, dalam 5.000 paket tersebut terdapat 50 ribu butir telur ayam kaya protein untuk diberikan kepada anak. Diharapkan ini menjadi stimulus keluarga menjaga kebutuhan protein pada anak-anaknya hingga besar.

Saat ini ada 14 daerah rawan stunting di Jabar. Menjadi target kali ini Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bandung Barat. Masing-masing mendapat 1.000 paket ayam.  

Menurut Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil, kali ini pihaknya fokus di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Paket- paket ayam tersebut digulirkan di Bandung Barat setelah acara Jabar Punya Informasi (Japri) dengan tema stunting di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Sabtu, 29 Mei 2021.

Menurut Atalia, upaya seperti ini perlu konsisten dilakukan di kabupaten/kota guna menurunkan angka stunting di daerah masing-masing. Saat ini angka stunting di Jabar menurun. Pada 2019 tercatat angka stuntung Jabar 31,1, kini sudah menurun di angka 26,6.

Atalia mengatakan, ada tiga hal yang perlu disosialisasikan dan diedukasi kepada masyarakat, yakni pola makan, pola asuh, dan pola sanitasi. Pembagian 5.000 paket ayam ini masuk aspek pola makan. Menurutnya, asupan protein pada anak harus tetap terjaga dan tidak kalah penting 1.000 hari pertama kehidupan bayi.

Yakni, kata dia, mulai dari hamil, menyusui diberikan air susu ibu eksklusif selama 6 bulan. Setelah itu diberikan makanan pendaming air susu ibu  (MPASI), lalu Penjaminan Mutu Pendidikan (PMP). “Jadi semuanya diberikan edukasi yang lengkap, supaya anak-anak ini tumbuh kembangnya bisa terpantau,” ujar Atalia.  

Pendataan ibu dan anak terintegrasi dan terdigitalisasi, kata Atalia, juga harus dimiliki kabupaten/kota. Data harus terbuka ke publik sehingga transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi.

“Seperti di Sumedang, kemarin saya lihat datanya sudah baik sekali. Mereka punya e-Government (Sumedang ommand Center) yang sangat mumpuni sehingga (data stunting) dapat diketahui by name by adress,” katanya.

Halaman:

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Hari Keempat Gempa Cianjur, 272 Meninggal Dunia

Kamis, 24 November 2022 | 18:24 WIB
X