Ortu Protes PPDB, Wali Kota Menghilang

- Rabu, 8 Juli 2015 | 13:19 WIB
MENGADU: Orangtua yang mengadu ke DPRD KOta Bandung, beberapa waktu lalu.(danny/ayobandung.com)
MENGADU: Orangtua yang mengadu ke DPRD KOta Bandung, beberapa waktu lalu.(danny/ayobandung.com)

 

Ortu Protes PPDB, Wali Kota Menghilang

Bandung- Kali keduanya Wali Kota Bandung, Ridwan kamil tak mau temui orang tua siswa yang merasa di rugikan oleh href="https://www.ayobandung.com/tag/-kebijakan"> kebijakan dalam Penerimaan Peserta Didik  Baru(PPDB) 2015 Kota Bandung. Jika pertama yakni pada hari minggu(5/7/2015) di Pendopo, beberapa href="https://www.ayobandung.com/tag/-ortu"> ortu harus menelan ludah pahit karena Wali Kota tak mau bertemu, hari ini Rabu(8/7/2015) Wali Kota kembali href="https://www.ayobandung.com/tag/-menghilang"> menghilang padahal beberapa orang tua sudah sengaja mendatangi ruang kerja Pemerintahan Kota Bandung.

"Kami ingin bertemu dengan href="https://www.ayobandung.com/tag/wali-kota">wali kota, wakil atau siapapun yang bertanggungjawab di sini (Balai Kota Bandung,red). Karena kami khawatir anak kami tersingkir dari sekolah yang dimaksud, oleh mudahnya siswa yang masuk melalui jalur SKTM, " ujar Ketua Komite Sekolah SD Pasirkaliki 4 dan SD Komara Budi, Retno Sugiarti, saat menggelar aksi damai di depan ruang kerja Wali Kota Bandung.

Sayang meski sudah sengaja datang ke Balai Kota, Retno tidak bisa menemui Wali Kota Bandung, karena tidak ada di tempat, dan tidak mendelegasikan tugasnya kepada yang berwenang terkait informasi seputar PPDB.

"Saya sudah menghubungi sekpri (sekretaris pribadi href="https://www.ayobandung.com/tag/wali-kota">wali kota,red) dan saya tanya ke orang-orang yang ada di Balai Kota, tapi tidak ada yang tahu keberadaan href="https://www.ayobandung.com/tag/wali-kota">wali kota," katanya.

Kedatangan Rento dan beberapa orang demonstran kali ini, untuk meminta Wali Kota Bandung Ridwan Kamil agar konsisten terhadap Perwal yang dibuat. Di mana tertera bahwa jalur SKTM yang diterima sekolah adalah 20 persen. Retno mengaku tidak membaca adanya kata 'minimal' sebelum kata 20 persen di perwal tersebut.

"Kalau pun ada kata minimal, itu namanya Wali Kotanya Bego. Bisa-bisa sekolah bagus diisi oleh siswa-siswa bodoh. Sementara siswa pintar tidak bisa masuk sekolah, karena tkuota habis oleh jalur SKTM," paparnya.

Retno sendiri mengaku sudah mengecek ke beberapa sekolah, dan orang yang mengundurkan diri hanya sekitar 10 persen. Bahkan di SMP 9 dari 212 perkas jalur SKTM yang masuk, hanya 13 yang mengundurkan diri.

Halaman:

Editor: Yatti Chahyati

Tags

Terkini

Ketua PWI Jabar Hadiri Konferensi Wilayah PWI Karawang

Sabtu, 27 November 2021 | 18:34 WIB

72 Kepala Sekolah SMP Cianjur Dirotasi

Jumat, 26 November 2021 | 12:29 WIB

Buruh Cianjur Lumpuhkan Jalan Raya Bandung

Selasa, 23 November 2021 | 11:35 WIB

Adakah WNA di Cianjur Bermasalah? Ini Kata Imigrasi

Senin, 22 November 2021 | 19:57 WIB
X