Yamaha

Setiap Kita Punya Cerita

  Jumat, 22 Mei 2020   Netizen Dadan Saepudin
Ilustrasi. (Dok. Ayobandung.com)

AYOBANDUNG.COM -- Setiap datangnya bulan Ramadan, tentu ada perasaan gembira yang dialami oleh setiap umat muslim, karena bulan Ramadan ini syarat dengan pendidikan Ilahiyah yang harus berbekas dalam diri setiap muslim sehingga dapat menggapai predikat Muttaqiin, yaitu orang-orang yang bertakwa. Kegembiraan itu juga tampak bukan saja bagi para orang tua, namun juga dirasakan oleh setiap anak-anak (remaja).

Kegembiraan kemudian diekspresikan oleh anak-anak dengan berbagai kegiatan yang tidak biasa dilakukan pada bulan lainnya, seperti yang dialami oleh penulis misalnya membuat “lodong”, ngabuburit, lari santai pada pagi hari selepas Salat Subuh, kegiatan pengajian, membuat mobil dari bambu, menunggu Imam Salat Tarawih untuk minta tanda tangan di buku agenda kegiatan (amaliah) Ramadan, nakol bedug, takbiran, nganteuran, ngantre selepas Salat Idulfitri dibagi “cangkedong” (nasi bungkus yang terbuat dari bambu), ziarah kubur, dan kegiatan lainnya.

Setiap generasi tentu memiliki cerita tersendiri, yang tentunya membekas dalam diri masing-masing dan menjadi pengingat ketika zaman terus berlalu, dan melihat aktivitas generasi masa kini ketika suasa di bulan Ramadan.

Barangkali tidak berlebihan jika kegiatan yang dilakukan oleh setiap generasi menjadi sebuah tradisi. Di perkotaan barangkali kegiatan tersebut secara gradual mulai tidak ada, begitupun di pedesaan hampir sebagian besar punah namun ada beberapa tradisi yang masih dilakukan seperti permainan lodong yang berubah menjadi petasan dan ngadulag menjelang shahur.

Tradisi yang dilakukan oleh setiap generasi, sejatinya ada pendidikan karakter di dalamnya. Walau pun terkesan ada yang sifatnya permainan namun tersirat pendidikan yang dapat dipetik oleh setiap generasi. Misalnya, permainan lodong (permainan yang menghasilkan suara yang terbuat dari bambu dengan menggunakan karbit), sering dilakukan dekat aliran saguling. Bahkan acapkali sering mengadu suara dengan anak-anak yang berbeda kampung.

Penulis rasakan, walau pun suara lodong saling bersaing dengan yang lainnya, tidak tergambar sebuah perasaan marah, namun ada tali pertemanan yang perlahan erat kuat dibangun oleh setiap anak-anak. Bahkan terkadang ketika bertemu menjadi bahan obrolan dengan sesama mengenai suara lodong tersebut, sehingga menambahkan hanyatnya suasana.

Selanjutnya, ada tradisi nganteuran, yaitu mengirim masakan ketika menjelang lebaran kepada tetangga dan saudara. Tradisi yang sudah mulai hilang di makan zaman itu, ternyata ada pelajaran yang bisa kita petik, di antaranya mempererat hubungan bertetangga dan persaudaraan.

Tradisi tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga persaudaraan baik dalam konteks persaudaraan nasab, agama, dan juga bangsa. Di tengah ancaman disintegrasi kehidupan sosial seperti menjalarnya berita yang tidak bertanggung jawab (hoaks), individualistik, dan sebagainya.  

Tradisi nganteuran memiliki pesan penting terkait dengan mengikis perilaku individualistik, yaitu perilaku mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan orang lain. Tradisi nganteuran mengajarkan tentang pentingnya berbuat baik terhadap tetangga, saudara, dan terutama bagi kaum duafa sehingga terwujud kepedulian sosial dan diharapkan dapat menjadi solusi di tengah problematika yang dihadapi oleh masyarakat terutama dalam hal ekonomi.

Apalagi tradisi tersebut dilakukan di bulan Ramadan menjelang Lebaran, yang mengandung pesan moral terkait dengan peningkatan tali persaudaraan dan kepedulian sosial. Walaupun saat ini tradisi tersebut perlahan mulai hilang di gerus zaman, namun pesan moralnya dapat kita petik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka penting dalam kehidupan ini kita membangun kepedulian sosial, saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 2  “...dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya. (Kemenag RI, 2012: 142).

Bahkan ketika kita berjalan kemudian menemukan duri, kita ambil karena dikhawatirkan akan terinjak oleh orang lain hal itu merupakan perbuatan baik sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw ketika seseorang menelusuri jalan, dia mendapati kayu berduri, kemudian dia menyingkirkannya dari jalan, lalu Allah membalas perbuatan baiknya dan mengampuni dosanya. (HR. Bukhori).

Atas dasar itu, sejatinya banyak pelajaran yang bisa kita petik dari setiap tradisi di bulan suci Ramadan, semoga di penghujung Bulan Ramadan ini, kita dapat memetik berbagai pelajaran dan mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu ‘alam.

***

111

Dadan Saepudin,  Praktisi Pendidikan tinggal di Kabupaten Bandung Barat. 081222720775 (WA).

Netizen : Dadan Saepudin
Dadan Saepudin, Praktisi Pendidikan tinggal di Kabupaten Bandung Barat. 081222720775 (WA).

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE