Yamaha

Brasil di Naik ke Posisi 3 Negara dengan Kasus Covid-19 Terbanyak

  Kamis, 21 Mei 2020
Ilustrasi -- Petugas memeriksa suhu tubuh seorang pengunjung di Bandara Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (4/3/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

BRASILIA, AYOBANDUNG.COM -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pada Rabu (20/5/2020), pandemi Covid-19 masih jauh dari selesai. Tercatat 106.000 kasus baru dalam 24 jam di seluruh dunia, peningkatan terbesar hanya dalam sehari sejauh ini.

"Kita masih memiliki jalan panjang untuk menghadapi pandemi ini. Kami sangat prihatin dengan meningkatnya kasus di negara berpenghasilan rendah dan sedang," kata direktur jenderal WHO, Tedros Ghebreyesus, dikutip dari The Guardian.

Tingkat infeksi telah berkembang pesat di Amerika Latin. Brasil menjadi negara dengan kasus terbanyak ketiga, melampaui Spanyol pada Selasa (19/5/2020) kemarin.

Wabah virus corona penyebab Covid-19 di Brasil memburuk pada Rabu (20/5/2020) dengan catatan kasus baru harian mencapai hampir 20.000 kasus infeksi dan 888 kematian baru pada hari yang sama, menurut keterangan resmi Kementerian Kesehatan.

Jumlah total kasus infeksi kini mencapai 291.579 dengan 18.859 pasien meninggal dunia. Pada Senin (19/5/2020), Brazil bahkan telah menyalip Inggris sebagai negara dengan kasus Covid-19 tertinggi ketiga di dunia.

Saat ini secara global, pandemi Covid-19 telah menyentuh angka 5 juta kasus infeksi dan hampir 330.000 kematian. Amerika Serikat menjadi negara terparah dengan mencatatkan 1,5 juta kasus lebih, disusul Rusia dengan 308.000 kasus lebih.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro mendapat banyak kritik atas sikapnya dalam merespons pandemi. Mantan pemimpin militer itu meremehkan langkah pembatasan sosial, dan bersikukuh untuk membuka kembali perekonomian di tengah kasus yang terus melonjak.

Bolsonaro juga giat mempromosikan penggunaan obat malaria, klorokuin, sebagai pengobatan yang berpotensi menyembuhkan Covid-19, sekalipun para ahli kesehatan tidak menyarankan demikian.

Kementerian Kesehatan juga mengeluarkan pedoman baru penggunaan obat tersebut untuk kasus Covid-19 ringan. Menteri Kesehatan Interim, Eduardo Pazuello--seorang jenderal militer aktif, memberikan persetujuannya untuk protokol baru tersebut.

Sebelumnya, dua dokter meninggalkan jabatan penting di Kementerian Kesehatan setelah berada di bawah tekanan untuk mempromosikan penggunaan klorokuin dan hydroxychloroquine.

"Kita sedang dalam situasi perang. Yang lebih buruk dari kalah adalah aib karena tidak berupaya berjuang sama sekali," kata Bolsonaro, dalam sebuah cuitan di Twitter tentang keputusan pemerintahannya terkait penggunaan klorokuin, kendati belum ada pembuktian ilmiah.

Menanggapi langkah pemerintah, Gonzalo Vecina Neto, mantan kepala Badan Regulasi Kesehatan Brazil--Anvisa, menyebutnya sebagai tindakan "barbar", yang lebih mungkin menimbulkan masalah kesehatan karena efek samping jenis obat itu.

"Tidak ada bukti ilmiah. Dan, sangat sulit dipercaya bahwa pada abad ke-21 ini kita masih saja menghidupkan pemikiran yang magis," kata Vecina Neto.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan   Suara.com.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE