Yamaha

Pandemi Corona, UMKM Kerajinan Sunda di Bandung 'Menjerit'

  Rabu, 08 April 2020   Vina Elvira
Cecep Ginanjar, pelaku UMKM kerajinan sunda di Kelurahan Sekeloa, Kota Bandung. (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Wabah virus corona yang terjadi saat ini, berdampak buruk terhadap kehidupan para pelaku usaha, termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di bidang kriya atau kerajinan. Sebagian dari mereka, terpaksa harus menutup sementara usahanya guna menghindari kerugian yang semakin besar.

Kisah ini, salah satunya datang dari Cecep Ginanjar. Warga Kelurahan Sekeloa, Kota Bandung ini, merupakan seorang pelaku UMKM di bidang kriya atau kerajinan budaya sunda. Cecep mengaku sudah merintis usahanya sejak 2015 lalu.

“Awalnya sih saya bergerak di bidang percetakan, tapi mungkin karena teknologi media cetak kan berubah, makannya saya pindah ke bidang kriya. Alhamdulillah sampe sekarang bisa bertahan,” kata Cecep kepada Ayobandung.com, Rabu (8/4/2020).

Saat ini, Cecep fokus produksi kerajinan dengan tema kebudayaan sunda seperti kujang, wayang, dan angklung. Seluruh kerajinan tersebut dikreasikan kembali ke berbagai bentuk, mulai dari suvenir, cinderamata, plakat, hingga penghargaan.

“Produk sih sementara ini, kalau kriya ini kan sebenarnya banyak macamnya, karena permintaan pasar banyaknya tuh di kriya yang berkaitan dengan kebudayaan sunda,” terang Cecep.

Dari banyak produk yang dihasilkan, tambah Cecep, kujang merupakan kerajinan paling diminati pasar. Sebab, kujang sendiri merupakan senjata khas Jawa Barat yang sudah dikenal banyak orang.

AYO BACA : Merugi Akibat Corona, Sejumlah Kedai Kopi di Bandung Tutup Sementara

Salah satu UMKM binaan Kelurahan Sekeloa ini, biasa mendapatkan pesanan dari berbagai instansi pemerintahan di Kota Bandung maupun Jawa Barat. Tak tanggung-tanggung sekali pesanan itu bisa mencapai ratusan produk dengan berbagai model dan ukuran.

“Alhamdulillah, dari perorangan ada tapi sedikit, banyak dari instansi. Jumlah terbanyak dari dinas pariwisata. Saya pernah untuk 1 item itu ada yang sampe 200. Jadi sekali pesan 3 item, masing-masing 100 ada juga yang 200,” ungkap Cecep.

Usaha Mati Total

Ketika ditanya soal pengaruh wabah virus corona  terhadap UMKM yang dirintisnya, dengan nada sedih Cecep menjawab bahwa kondisi saat ini sangat berpengaruh terhadap usaha kerajinannya. Pendapatannya anjlok hingga 100%.

Semenjak wabah ini datang, Cecep kesulitan mendapatkan bahan baku untuk kerajinannya. Sebab, sudah banyak dari produsen bahan baku langganannya yang tutup akibat pandemi yang terjadi.

“Karena memang kalau misalkan ada pesanan juga, saya lihat dari bahan baku udah mulai jarang. Karena sebagian teman-teman yang menyediakan bahan juga banyak yang tutup, dan saya juga menghindari barang-barang impor,” kata Cecep.

AYO BACA : Pandemi Covid-19, Toko Modern di Bandung Harus Tutup Pukul 20.00

Lebih parah dari itu, Cecep mengaku saat ini usaha yang dirintisnya bisa dikatakan mati total. Hal ini, dipicu sepinya pesanan dari instansi pemerintahan yang sudah menjadi konsumen tetap setiap tahunnya.

“Kalau saya sih sistemnya kebanyakan pesanan itu dari dinas, dan dinas itu kebanyakan pesannya setaun dua kali atau tiga kali. Biasanya itu di bulan Maret,  Juni, Juli itu ada. Sementara sekarang wabah corona otomatis tidak ada,” tuturnya.

Cecep berkata, saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan, selain berharap pandemi ini segera berakhir di Indonesia. Sebab, kebutuhan pemerintah dan masyarakat di kondisi seperti ini adalah alat-alat kesehatan seperti APD. Sedangkan usaha yang dirintis di bidang kerajinan, yang tidak senada dengan hal tersebut.

“Tapi kan memang saat ini yang dibutuhkan kebanyakannya alat-alat kesehatan, jadi tetep saya mentok juga. Mungkin teman-teman yang lain (UMKM di bidang lain) bisa ke produksi hand sanitizer, masker, APD seperti itulah. Kalau kriya yang dipegang ini kan unsurnya beda dan saya tidak mau ambil lintas sektor,” katanya.

Sebenarnya, Cecep sempat berencana untuk memproduksi aksesoris atau suvenir dengan harga murah, guna menambah penghasilan. Namun, rencana tersebut gagal, karena rekanan bisnisnya lebih memilih menutup usaha mereka untuk sementara.

“Tapi ternyata dari rencana itu semua meleset. Karena memang semuanya juga bisnis teman-teman saya pada tutup, tidak bisa bergerak. Walaupun kita banting harga semurah-murahnya tetep tidak bisa terjual,” ungkap Cecep.

Cecep berharap, pandemi yang terjadi saat ini bisa segera berakhir, agar dia dan pelaku UMKM lain yang terdampak bisa merintis usaha mereka kembali.

AYO BACA : Objek Wisata Ditutup, Pengelola Batu Mahpar Tasik Akui Rugi 100%

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE