Yamaha

Bagaimana Menjadi PR yang Andal?

  Selasa, 24 Maret 2020   Netizen Sjafruddin Hamid
[Ilustrasi] Public Relations. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Untuk menjadi pekerja yang andal pada bagian yang berhubungan dengan masyarakat ternyata harus menempuh perjalanan yang panjang. Perjalanan yang tidak selalu mulus, terkadang terjal, berbatu-batu dan menghantui pikiran. Bermalam-malam tak bisa tidur.

Darimana harus memulainya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) andal artinya dapat dipercaya. Secara umum juga berarti mampu memberi hasil yang baik sekalipun menghadapi berbagai jenis tantangan, hambatan dan rintangan. Dia bisa diandalkan.

Kemampuan itu rupanya berawal dari aspek yang mendasar sekali yakni lingkungan keluarga. Di lingkungan itu ada pepatah/petitih orang tua dan interaksi antar saudara yang membentuk kepribadian calon PR. Bukankah ketika itu, calon PR masih seperti kertas kosong?

Bila proses dalam keluarga menghasilkan pribadi yang mudah marah. Terlalu mementingkan diri sendiri. Tak mau berbagi. Berego tinggi dan sebagainya. Lupakan cita-cita menjadi PR.

Menurut beberapa PR yang andal, pegawai bagian hubungan masyarakat itu perlu mempunyai kepribadian yang baik. Mampu meyakinkan orang lain. Sabar. Cerdik. Kreatif. Pandai dalam bidangnya seperti membuat pers rilis, pidato, membuat laporan dan membikin media internal.

Bercerita tentang kecerdikan. Seorang PR pada sebuah grup perusahaan mengungkapkan, dia berhari-hari datang ke ruangan wartawan beristirahat di gedung bursa. Akhirnya dia tahu wartawan perlu sarana permainan.

Keesokan hari dibawanya beberapa papan catur dan turut bermain melawan wartawan. Kebersamaan itu dipakai sambil menguping, mendengarkan cerita para wartawan mengenai pergerakan harga saham dan isu yang meyertainya.

Ketika mendengar selentingan berita negatif tentang saham perusahaannya. Dia dengan cepat bereaksi,..ah..sudahlah masa harus dimuat. Emang enggak ada berita lain?

Komentarnya itu membuat berita tentang perusahaannya menjadi layu sebelum berkembang. Memang kemudian di media, berita tersebut  tak tampak sama sekali.

Peran Pemula

Lulusan baru universitas biasanya akan menjadi sekrup terkecil bagian komunikasi suatu perusahaan atau instansi. Sebagaimana biasanya, akan berlangsung ‘pertempuran’ di alam pikirannya. Perang Bharatayudha antara idealisme yang sempit dengan kenyataan di kantor serta di lapangan.

Dalam kaitan itu, yang bersangkutan selayaknya menyadari bahwa dia memiliki atasan, hingga harus tunduk kepada kebijaksanaannya. Terkadang pemula tidak paham bahwa jika bila terjadi maka atasannya yang bertanggung jawab. Bukan yang lain.

Pegawai pada posisi ‘sekrup’, layak mengikuti apa yang diperintahkan. Bila hari ini mengurus A. Tekuni juga bila nanti diperintahkan menangani B meskipun harus lembur. Pergeseran pindahan tugas tersebut memberi berkah pengalaman. Tak perlu menggerutu.

Mereka yang berada pada posisi ’sekrup’ sebaiknya menyadari pemimpin juga sudah keberatan beban. Perlu diingat beban yang berat membuat atasan tidak bisa berpikir ‘out of the box’. Dalam konteks ini ‘sekrup’ dapat membantu dan meyakinkan atasan agar menerima gagasan-gagasanya dalam memecahkan masalah.

“Sekrup” yang bersifat menunggu perintah, apalagi dengan alasan karena menerima gaji pas-pasan, telah mengambil posisi yang salah. Kelak kelemahannya itu menjadi penghambat karier. Dia akan menyalahkan siapa saja, kecuali dirinya sendiri.

Kelak jika ‘sekrup’ sudah menjadi pemimpin maka dia bakal mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang diambil bersifat holistik ini dengan mempertimbangkan banyak aspek. Kemampuan memilah dan memilih ini terjadi berkat pengalaman panjang di masa lalu. Pengalaman yang seiring berisi kekesalan, kejengkelan dan macam-macam lagi.

Seorang pemimpin bagian Humas akan beruntung bila berada dalam lingkup keterbukaan dan pembagian kerja yang jelas. Dia memiliki kontak langsung dengan direktur utama. Meyakinkan direktur untuk menemui insan pers. Memperoleh wewenang tentang apa yang akan dikerjakan. Tentu saja diberi anggaran yang memadai.

Pemimpin juga mesti mampu mendidik dan mengkoordinir bawahannya menjadi orang-orang andal di bidang Perhumasan. Dia juga harus meyakinkan setiap pegawai rendah hingga yang tertinggi mau berperan sebagai Humas perusahaannya. Mengingat pertanyaan yang muncul tidak hanya dari wartawan yang lazim menghubungi Humas.

Humas pada prinsipnya bersifat terbuka. Untuk itu harus membuka hubungan dengan berbagai pihak, baik yang terkait langsung dengan pers maupun tidak. Dapat disangkal Humas adalah pihak mempunyai koneksi tak tertandingi dalam perusahaannya.

Keterbukaan ini sangat bermanfaat lantaran dapat mencegah masalah sebelum dia membesar. Kalau sudah terekspose luas maka akan sulit memperbaiki keadaan.

Pemimpin Humas juga harus bisa mengendalikan diri. Tahu mana yang harus diberitahukan dan mana yang sebaiknya tidak diberitakan. Jangan menggunakan istilah off the record sebab terkadang tidak efektif. Sejalan itu perlu kemampuan menggeser masalah.

Seorang yang andal tak sulit mengalihkan isu. Misal, ada pertanyaan tentang pabriknya mengeluarkan limbah yang memenuhi danau dan merusak lingkungan. Maka dia akan menjawab dengan menggunakan, dalil hukum Archimedes.

Fungsi keterbukaan ini tak akan berjalan bila dia berada pada lingkungan orang-orang yang tidak memahami manfaat komunikasi dengan pihak eksternal. Kasus ini seringkali terjadi pada perusahaan-perusahaan keluarga atau yang belum go public.

Menguasai Banyak Bidang

Rasanya mustahil Humas harus menyelesaikan sengketa kepemilikan tanah, tetapi itulah yang terjadi. Makanya Humas harus memiliki hubungan baik dengan aparat pusat maupun daerah. Lembaga Swadaya Masyarakat. Tokoh-tokoh adat dan sebagainya.

Bukan cuma masalah tanah atau hukum. Humas juga mesti paham situasi politik, ekonomi, sumber daya manusia, dan manajemen. Maka sangat beruntung bila mahasiswa komunikasi diwajibkan mengambil mata kuliah seperti ekonomi, politik, hukum, atau manajemen.

Sjafruddin Hamid, Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

Netizen : Sjafruddin Hamid
Sjafruddin Hamid

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar