Yamaha

Dokter Slamet dan Wabah Sampar 1930

  Minggu, 22 Maret 2020   Netizen Atep Kurnia
Ruang rawat inap pasien laki-laki di rumah sakit Garut sekitar 1925. (Sumber: Tropenmuseum)

Dokter Mas Slamet Atmosoediro (1891-1930) termasuk korban sampar atau penyakit pes yang mewabah di Bandung dan Garut, khususnya, pada 1930. Oleh koleganya dan media sezaman, ia disebut-sebut sebagai martir demi profesinya (het slachtoffer werd van zijn beroep).

Keterangan mengenai riwayat hidupnya, saya timba dari koran berbahasa Belanda, majalah terbitan Sekolah Dokter Jawa (School tot Opleiding van Indische Artsen, STOVIA), dan tulisan Mang Naratas dalam blognya (naratasgaroet.net), dan keterangan dari Dokter Sam Askari Soemadipradja.

Dalam “Daftar Lulusan Sekolah Dokter Jawa & STOVIA Semenjak 1877” pada buku Ontwikkeling van het Geneeskundig Onderwijs te Weltevreden 1851-1926 yang dimuat ulang dalam buku 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976 disebutkan bahwa Mas Slamet Atmosoediro lahir di Lampegan pada 1891 dan lulus dari OSVIA pada 21 Juni 1916.

Kawan seangkatan lulusnya adalah Raden Gatoet, yang kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, tahun 1890.     

Dalam daftar tersebut juga ada nama Mas Iskandar Atmosoediro, yang lahir di Lampegan pada 1893 dan lulus dari STOVIA pada 23 Mei 1918. Saya kira, Mas Iskandar adalah adiknya Mas Slamet, mengingat tempat kelahiran serta nama keluarga yang dibubuhkan pada kedua dokter pribumi tersebut. 

Dari penelusuran saya, dapat diketahui bahwa mula-mula Mas Slamet, bersama dengan Mas Dajat Hidajat, Raden Mohamad Saleh Mangoendihardjo, dll. diangkat sebagai doker pribumi (Inlandsch arts) pada Burgerlijken Geneeskundigen Dienst oleh Hoofdinspecteur, Chef van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst pada 1916.

Mereka ditempatkan di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ), Weltevreden, Batavia, atau kini menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 

Kemudian pada 1918, Dokter Slamet dialihkan ke Tobelo, Ternate, Maluku, hingga tahun 1921. Sejak 1922, ia dipindahkan lagi ke Weltevreden, Batavia. Kemudian pada 1925, dia mulai bekerja di Garut.

Yang menarik, saat terjadi kasus pembunuhan Nyonya H. Campbell-MacFie di Cibatu, Garut, pada awal 1926, Dokter Slamet dijadikan sebagai saksi ahli oleh pihak pengadilan Garut. Saat itu dia yang berumur 34 tahun diambil sumpah sebagai saksi ahli (De Indische Courant, 17 Agustus 1926). 

 

Foto-01

Dokter Slamet Atmodipoero (1891-1930). (Sumber: KITLV)

 

Pada 1927, Dokter Slamet ditugaskan untuk memberantas wabah pes (verbonden aan het ziekenhuis voor de pestbestrijding sinds 1927 te Garoet). Dan pada 1929, dia diangkat sebagai kepala rumah sakit di Garut (belast met de leiding van ziekenhuis).

Asal-usul dan proses Mas Slamet terpapar wabah sampar hingga meninggalnya saya himpun dari Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch-Indië edisi 13 dan 14 Mei 1930, Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie 1930, dan De Indische Courant edisi 19 Agustus 1930.

Kejadiannya berawal dari adanya pasien yang dibawa dari Bandung ke Garut pada awal Mei 1930. Saat itu ada seorang anak yang dibawa oleh orang tuanya dari Bojongloa, Bandung, ke Garut.

Sehari setelah dirawat, anak tersebut kemudian meninggal karena penyakit sampar. Keadaan ini mendorong Mas Slamet untuk melakukan pemeriksaan, karena ia memang sangat memperhatikan kasus tersebut.

Namun, dia tidak yakin mengenai penyakit tersebut. Yang jelas, kemudian beberapa orang di antara lingkungan orang yang meninggal tersebut mengalami demam tinggi. Dan setelah didiagnosa, mereka diduga terpapar sampar.  

Sabtu malam, 9 Mei 1930, Mas Slamet merasa sakit dan kondisinya terus memburuk. Minggu paginya (10 Mei 1930), kedaannya kian memburuk sehingga dia memutuskan untuk diperiksa di Rumah Sakit Provinsi di Tasikmalaya, karena di sana peralatannya relatif lebih lengkap dan perawatannya bisa lebih baik. Itu terjadi pada pukul 9 pagi.

Dari rumahnya, dengan menggunakan mobil milik patih Garut, bahkan sempat tertumbuk pada pintu mobil tersebut, sehingga menjerit kesakitan, Dokter Slamet dibawa ke Tasikmalaya. Setelah itu, Mas Slamet pingsan dan pada, pukul 8 malam tanggal 11 Mei 1930, meninggal dunia. 

Pada malam itu, Dokter Parjono dan Dokter Soekardjo dari Tasikmalaya, melakukan pemeriksaan terhadap Mas Slamet. Dari pemeriksaan tersebut diketahui bahwa dia terpapar sampar selama melakukan pemeriksaan pada orang yang sebelumnya terpapar.

Dokter Slamet meninggal dalam usia yang terbilang muda. Saat itu umurnya baru 38 tahun, dengan pangkat dokter kelas 1 pemerintah kolonial Hindia Belanda (1e klasse indisch gouvernements arts). Ia meninggalkan seorang istri dengan lima orang yang masih kecil-kecil, termasuk anak bungsunya yang baru berumur dua minggu.

Setelah meninggal, polisi disiagakan di sana-sini untuk menjaga dan memastikan penduduk yang diduga terpapar wabah sampar. Kemudian kepada pihak berwenang ada permintaan dari warga agar yang terdampak sampar untuk diisolasi di bekas Schakelschool di Regentstraat.

Di sisi lain, banyak orang tua yang menjaga anak-anak mereka di rumah, supaya tidak keluar, seraya menunggu keputusan pemerintah, termasuk isolasi bagi yang tertular sampar.

Karena kasus sampar yang gampang menular itu, Kampung Ciledug pun diawasi. Suasana di kota dan daerah pegunungan menjadi panik. Korban meninggal akibat merebaknya wabah sampar di sana sejumlah 20 orang, termasuk mantri, perawat, dan mahasiswa kedokteran yang turut menangani Dokter Slamet.

Atas kematian Dokter Slamet, Sekretaris Jenderal (Algemeene Secretarie) atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengirimkan telegram kepada bupati Tasikmalaya, yang berisi ungkapan bela sungkawa.

Katanya, Gubernur Jenderal memerintahkan untuk menyampaikan ungkapan duka kepada istri dan keluarga mendiang Dokter Slamet, yang meninggal karena sampar sebagai martir bagi pelaksanaan tugasnya.

Pada 12 Mei 1930, sore, jasad Dokter Slamet dikebumikan. Orang yang mengiringi dan menghadiri pemakamannya sangat banyak. Di antaranya, ada Dr. Ch. WE. Winckel (Inspektur Kesehatan Umum Jawa Barat), asisten residen, mantan bupati dan bupati Garut, Oto Subrata (anggota Volksraad), semua wadana dari Priangan Timur, beberapa adminstatur perkebunan, semua staf rumah sakit Garut, dan banyak juga kalangan orang Eropa.

Setelah penghulu Garut membacakan doa, disambung sambutan-sambutan dari Dr. Winckel, Bupati Garut Soeriakartalegawa, dan Asisten Residen A.A.C. Linek (atas nama Gubernur Jawa Barat dan Residen Priangan Timur). 

Beberapa bulan kemudian, pada Agustus 1930, diberitakan bahwa janda Dokter Slamet mendapatkan tunjangan atau uang pensiun dari pemerintah kolonial sebesar 246.50 gulden per bulan.

Untuk mengenang jasa-jasanya, kemudian, nama Dokter Slamet diabadikan sebagai nama jalan di Bandung, paling tidak, sejak pergantian nama Dr. Samjoedoweg menjadi Jl. Dr. Slamet pada 1950 (Perubahan Nama Djalan-djalan di Bandung, AID, 1950).

Sejak 1979, berdasarkan SK Menkes RI nomor 51/Men.Kes/SK/II/79, namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit di Garut.

* Atep Kurnia

Peneliti literasi Pusat Studi Sunda. Salah satu karyanya yakni buku 'Googling Gutenberg'. Di samping itu, berbagai tulisan seperti cerpen, puisi, serta feature banyak di media nasional seperti Pikiran Rakyat, Mangle, Kompas.com, dan lainnya.
Netizen : Atep Kurnia
Peminat Literasi dan Budaya Sunda

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar