Yamaha

Dari Mitigasi Bencana sampai Antisipasi Pandemi Corona bagi Anak Usia Dini

  Minggu, 15 Maret 2020   Netizen Deni Hadiansyah

AYOBANDUNG.COM -- Darurat wabah virus Corona sedang dihadapi dunia. WHO (World Health Organization) pun telah mengubah statusnya dari Public Health of International Concern menjadi Pandemi. Dengan penetapan itu, Indonesia pun responsif dengan upaya pencegahan dan penanggulangan. Beberapa kampus telah mengambil kebijakan untuk melaksanakan pembelajaranm jarak jauh (e-learning). Setelah pemerintah kota Solo, DKI Jakarta pun mengambil kebijakan meliburkan sekolah selama 2 pekan. 

Demi mencegah meluasnya penyebaran virus corona, inisiatif tanggap darurat dan usaha preventif pun dilaksanakan oleh baik oleh pemerintah, kampus dan komunitas ataupun organisasi kemasyarakatan. Bencana tidak mungkin bisa ditolak, tetapi segenap kemampuan untuk pencegahan dan perlindungan menjadi hal yang sangat mungkin dilakukan. Dengan rencana mitigasi, korban bencana yang lebih besar bisa dihindari. Selain itu, edukasi untuk anak-anak TK/PAUD menjadi amat penting sebagai generasi bangsa. Pesan itulah yang didiskusikan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Save the Children bersama dengan PPPPTK TK-PLB Kemdikbud, pada hari Jumat, 12 Maret 2020, di Aula Pendidikan PPPPTK TK-PLB, Lt. 3, Jl. Dr. Cipto No. 9 Bandung. 

Sebagai organisasi penggerak, Save the Children sendiri bermula tahun 1919 didirikan oleh Eglantyne Jebb untuk membantu anak-anak korban Perang Dunia I. Di Indonesia sendiri, Save the Children telah bekerja membantu anak-anak sejak tahun 1976. Secara entitas lokal, Save the Children dikenal sebagai Yayasan Sayangi Tunas Cilik. Adapun PPPPPTK TK-PLB (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Luar Biasa) merupakan lembaga pendidikan dan pelatihan khusus untuk guru TK dan PLB. Unit pelaksana teknis ini berada di bawah Dirjen GTK. Setiap tahun, lembaga ini melatih guru-guru TK dan guru SLB dari seluruh Tanah Air.

weyh3y321y6

"Acara ini merupakan praktik baik bagi dunia pendidikan. Isu sekolah siaga bencana perlu terus disosialisasikan kepada guru-guru dan siswa di tingkat TK. Mengingat Indonesia termasuk rawan bencana, karena berada di ring of fire (cincin api). Ditambah sekarang lagi santer wabah virus Corona-19, tentu harus menjadi konsen pemerintah,” ujar Abu Khair, Kepala Pusat PPPPTK TK PLB Kemdikbud dalam pidato pembukaannya.

"Kegiatan ini bersifat sharing and learning. Artinya kehadiran Save the Children pada dasarnya ingin berbagi tentang hasil yang telah dikerjakan dan ingin memastikan bahwa pengalaman dan keahlian yang dimiliki bisa tersampaikan kepada masyarakat luas. Harapan ke depan, ada kemitraan berkelanjutan antara Save the Children dengan PPPPTK TK PLB,” tegas Imelda Tirra Usnadibrata, Head of Education Save the Children Indonesia.

Kegiatan tersebut menjadi penting, mengingat isu wabah Corona (Corona-19) memang terus meluas. Berdasarkan data Johns Hopkins University (JHU), virus corona kini telah menyebar ke 119 negara. Total kasus infeksi yang telah dikonfirmasi per Jumat (13/3/2020) sebanyak 128.343 kasus dengan 4.720 kematian dan 68.324 pasien sembuh. Salah satu upaya efektif yang bisa dilakukan untuk untuk menghentikan laju wabah virus corona salah satunya yakni dengan penguncian (lockdown) seperti Italia, Denmark, Irlandia, dan negara tetangga Filipina. Resolusi yang diambil termasuk larangan pertemuan massal, penutupan institusi pendidikan, dan karantina masyarakat. 

Meski belum mengikuti langkah negara lain dengan kebijakan lockdown, pemerintah Indonesia pun telah melakukan upaya preventif. Di lingkungan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan, yang telah ditujukan pada semua pihak yang menaungi bidang pendidikan. Bahkan sampai tulisan ini diturunkan, kota Solo dan DKi Jakarta telah melakukan upaya preventif dengan meliburkan sekolah dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat masal.

"Dengan kondisi geografis dan demografis Indonesia, tentu sinergitas antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatn perlu diperkuat. Tujuannya agar segenap usaha dapat dilakukan secara optimal. Pada dasarnya, Save the Children Indonesia telah menyiapkan buku panduan Kesiapsiagaan Bencana bagi orang tua, guru, dan siswa. Intinya bagaimana guru dapat memberikan layanan kepada peserta didik berkaitan dengan layanan darurat kebencanaan,” ujar Rina Utami, Koordinator Sinergy Project Save the Children Indonesia yang oleh teman-temannya biasa dipanggil Mak Rinut.

"Poin pentingnya, jika terjadi lockdown seperti negara lain, meski masih memungkinkan, perlu dipikirkan bagaimana upaya memindahkan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah masing-masing secara individual bisa berhasil,” tegas Mbak Rinut di hadapan widyaiswara PPPTK TK-PLB dengan semangat. 

Materi lain disampaikan oleh Agnes Widyastuti, Koordinator CEF Project Save the Children Indonesia. Dalam pemaparannya, Agnes menjelaskan bahwa Disaster Risk Reduction (DRR) atau Pengurangan Risiko Bencana (PRB), atau biasa disebut dengan Pendidikan Kebencanaan untuk mendorong terwujudnya Satuan Pendidikan Aman Bencara (SPAB). Pendidikan Kebencanaan sangatlah penting mengingat kondisi geografis dan alam Indonesia yang sangat rentan/rawan terhadap bencana alam, khususnya banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsumani, letusan gunung berapi, dan angin puting beliung,” jelas Agnes dengan atraktif.

Dalam mewujudkan SPAB tersebut, Save The Children mengembangkan Safe School Common Approach. Adapun untuk meningkatkan akses pendidikan berkualitas di tingkat PAUD, Save The Children mengembangkan Emergent Literacy and Numeracy (ELM) Common Approach dan juga Play Method khususnya di daerah Timur Indonesia sebagai area rural dan di daerah Jawa Barat dan Jakarta Utara sebagai area slump urban.

"Terkait dengan adanya wabah virus Corona-19, semuanya mungkin masih berpikir tidak mungkin, tetapi kita harus siap menghadapi semua kemungkinan,” cetus Agnes menimpali penjelasan Mbak Rinut.

Dari peserta yang diikuti parawidyaiswara TK, tercetus beberapa hal penting, di antaranya bahwa jika terjadi lockdown dan siswa TK dirumahkan akibat wabah virus Corona-19, maka beberapa usaha yang bisa dilakukan antara lain pelaksanaan pembelajaran berbasis media sosial, optimalisasi fungsi TV edukasi, dan inovasi sumber belajar oleh guru-guru TK. Selain itu, perlu sinergitas antara guru dan orangtua demi memastikan proses pembelajaran berjalan lancar.

"Guru-guru TK secara umum masih berusia muda, artinya memungkinkan untuk pemakaian media dan sumber belajar berbasis medsos atau internet. Hanya saja, yang menjadi catatan penting, perlu sosialisasi yang komprehensif terhadap orang tua. Hal ini bisa dijembatani oleh guru-guru di lapangan. Selama ini, widyaiswara di lingkungan PPPTKTK-PLB telah menyampaikan berbagai informasi yang valid tentang wbaha voirus Coronan-19 kepada guru-guru TK di lapangan,” ujar salasseorang peserta workshop, Yuli Rianawati, S.T., Kasi Program PPPTK TK-PLB.

"Pada dasarnya, jika pembelajaran di TK dirumahkan akibat kebijakan lockdown, maka langkah yang bisa ditempuh bisa melalui pembelajaran jarak jauh menggunakan media sosial yang sudah populer dan gampang digunakan yaitu WhastApp. Media ini kan hampir semua guru dan orang tua menggunakan, juga penggunaannya sederhana, maka bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran jarak jauh,” ujar Dr. Cep Unang Wardaya, M.Si., salaseorang widyaiswara yang juga menjadi peserta workshop. 

Simpulan awal dari hasil workshop dan FGD, pada dasarnya semua sepakat bahwa PAUD Aman Bencana perlu disosialisasikan lebih luas lagi. Di sini tentu perlu penguatan aspek koordinatif dan sinergitas antara lembaga pemerintah dengan organisasi masyarakat. Merespon gagasan tersebut, pada tingkat implementasi tentu programnya dilaksanakan dalam berbagai bentuk, diikuti dengan penyempurnaan modul atau panduan, training of trainer, hingga penyiapan PAUD aman bencana percontohan di daerah. Tentu kegiatan atas kemitraan Save the Children dan PPPPTK TK-PB ini, menjadi praktik baik sekaligus usaha preventif agar tidak panik menghadapi segala kemungkinan bencana dan wabah corona.

Deni Hadiansah, S.Pd., M.Pd., Department of Nonformal Education, Faculty of Education and Teacher Training, Bandung Raya University.

Catatan Redaksi:

Bila Anda merasakan gejala awal Covid-19, untuk memastikan atau mengetahui informasi seputar virus ini bisa mengakses nomor hotline Dinas Kesehatan Jabar di 0811-2093-306 atau Emergency Kesehatan: 119.

Netizen : Deni Hadiansyah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar