Yamaha

Terbang dari Amsterdam demi Bandung, Angklung, dan ‘Peuteuy’

  Kamis, 12 Maret 2020   Netizen Djoko Subinarto
Tiga bersaudara asal Den Haag, Belanda, Yani Schrader (35), Sarah Schrader (34), dan Kartika Schrader (28) datang ke Indonesia demi Bandung, angklung, dan juga mencicipi peuteuy. (Djoko Subinarto)

Di tengah "hantu" wabah corona yang membuat banyak warga asing membatalkan kunjungannya ke Indonesia, tiga bersaudara asal Den Haag, Belanda, Yani Schrader (35), Sarah Schrader (34), dan Kartika Schrader (28) tetap membulatkan tekad mereka untuk datang ke negeri ini demi Bandung, angklung, dan juga mencicipi peuteuy.

Setelah terbang dari Amsterdam lebih dari 15 jam, mereka mendarat di Jakarta dan lantas melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api ke Kota Kembang. Mereka menyengaja jauh-jauh datang ke ibukota Jawa Barat ini guna melihat langsung dari dekat kota tempat ayah mereka, Willy Schrader, lahir dan juga mukim untuk beberapa waktu lamanya.

Meski lahir di Bandung, Willy adalah warga negara Belanda. Sempat tinggal untuk beberapa tahun lamanya di Indonesia, Willy kemudian balik kandang ke negerinya. Akhir tahun 1970-an saat ia datang untuk dolan-dolan ke Indonesia, ia malah kecantol gadis asal Klaten, Sulastri, yang akhirnya diboyong ke Belanda sebagai istrinya. Mereka kemudian dikarunia tiga anak perempuan: Yani, Sarah dan Kartika. Willy sendiri telah tiada sejak setahun lalu.

Selain melihat langsung kota kelahiran ayah mereka, kedatangan Yani, Sarah dan Kartika ke Bandung juga untuk melihat bagaimana angklung dimainkan. 
Sudah sejak lama mereka memendam rasa penasaran kepingin melihat angklung secara langsung.

Kendati gurat-gurat kelelahan masih tampak menyelimuti wajah ketiganya, toh mereka tampak antusias tatkala menyaksikan pertunjukan angklung di Saung Angklung Udjo, Padasuka, Bandung, di suatu siang di tengah gerimis yang mengguyur sebagian besar kawasan Bandung. Ketiganya kian antusias saat mengikuti sesi bagaimana memainkan instrumen musik yang terbuat dari bambu ini.

Tatkala ditanya bagaimana perasaan mereka setelah melihat dan mencoba memainkan angklung. Ketiganya secara kompak menjawab bahwa pertunjukkannya keren dan menyenangkan. Mereka menikmatinya. 

"It was cool and fun. We enjoyed it," kata Yani yang diamini oleh kedua adiknya. 

Kelar melihat pertunjukan angklung di Saung Angklung Udjo, ketiganya kemudian bergegas mencari rumah makan Sunda. Mumpung sedang berada di Bandung, mereka ingin mencicipi masakan khas Sunda. Lebih khusus lagi, mereka ingin menikmati seupan peuteuy.

Cuma, mereka menikmati seupan peuteuy tersebut tanpa dibarengi cocolan sambal terasi. Kendati telah terhidang dengan lekoh di depan mereka. Mereka emoh men-cocol-nya. "It's too spicy," alasan ketiganya. Rupanya mereka belum berani merasakan pedasnya sambal terasi.

Walau begitu, dua papan seupan peuteuy tandas tanpa sisa mereka santap bersama nasi putih panas, perkedel jagung, perkedel kentang, dan lele goreng. Mereka pun berusaha makan menggunakan tangan, tanpa bantuan sendok maupun garpu.

Sejurus kemudian, hanya dua kata yang terucap dari mulut ketiganya: “lekker” dan “kenyang”.

Djoko Subinarto

Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) sekaligus Kolumnis dan Blogger tinggal di Cimahi. Beberapa artikel banyak di muat di Tribun Jateng, Republika, Koran Jakarta, dan media nasional lainnya.

Netizen : Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar