Yamaha

Status Indonesia Jadi Negara Maju, Hubungan Bisnis Tekstil Terganggu?

  Kamis, 27 Februari 2020   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Seminar Teknologi Tekstil Guna Edukasi Para Pelaku Industri Tekstil Tanah Air di Hotel Aryaduta, Bandung, Kamis (27/02/2020). (Ayobandung.com/Eneng Reni)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Perubahan status Indonesia menjadi negara maju diklaim tidak memengaruhi hubungan bisnis tekstil Amerika-Indonesia. Sebelumnya, United States Trade Representative (USTR) memperketat kriteria negara berkembang yang berhak mendapatkan pengecualian de minimis dan negligible import volumes untuk pengenaan tarif antisubsidi atau countervailing duty (CVD), pada 10 Februari 2020.

Berdasarkan keputusan tersebut, Indonesia tidak lagi dimasukkan dalam daftar negara berkembang. Perubahan status itu dikhawatirkan akan membuat Indonesia kehilangan fasilitas Generalize System of Preference (GSP) atau keringanan bea masuk impor barang ke AS. Padahal, Indonesia dan AS banyak melakukan hubungan ekspor-impor serat kapas dengan produk tekstil.

Cotton Council International (CCI) sebagai asosiasi perdagangan nirlaba yang mempromosikan serat kapas AS dan produk kapas manufaktur internasional dengan merek Cotton USA mengatakan pebisnis tekstil Indonesia tak perlu khawatir akan hal tersebut.

Perwakilan Cotton Council International (CCI) Indonesia, Dr. Anh Dung (Andy) Do memperkirakan, perubahan status Indonesia dari negara berkembang ke negara maju oleh AS tidak akan mempengaruhi bidang tekstil kedua negara. Andy juga meyakini tak akan ada masalah antara bisnis kapas dan tekstil AS dengan Indonesia. Sebab kedua negara memiliki hubungan yang saling menguntungkan. 

"Pak Presiden kita Jokowi mengatakan, industri tekstil merupakan salah satu priotas tinggi untuk eksport, di mana kita mendapat devisa. Dan jelas, tekstil banyak menggunakan tenaga kerja. Jadi win win lah. Kita lihat Indonesia saat ini penduduknya banyak dan bisa ada kapasitas eksport untuk garmen ke dunia, jadi tidak ada masalah," kata Andy disela Seminar Teknologi Tekstil Guna Edukasi Para Pelaku Industri Tekstil Tanah Air di Hotel Aryaduta, Bandung, Kamis (27/2/2020).

Andy menjelaskan, status negara maju memang membuat Indonesia tak lagi menikmati sejumlah fasilitas dari negara adidaya tersebut. Namun begitu, tidak akan memberikan banyak perubahan bagi Indonesia. Andy menilai, Indonesia dan Amerika Serikat memiliki hubungan baik sekali di bidang cotton dan tekstil industri. Namun negosiasi kedua negara saat ini sangat menentukan terkait bidang cotton dan industri tekstil yang telah berjalan sangat baik. 

Untuk diketahui, serat kapas AS banyak diolah di perusahaan tekstil Indonesia. Dalam setahun ada senilai USD 500 juta serat kapas Cotton USA yang diimpor perusahaan Indonesia. Perusahaan tekstil itu kemudian menghasilkan produk bermerek bermerek internasional. Produk tersebut pun diekspor ke berbagai negara, termasuk ke Eropa dan Amerika Serikat.

"Kuncinya orang Indonesia rajin kerja, ilmunya ada, tiap berapa tahun harus meningkat, dan status Indonesia menjadi negara maju. Artinya apa? Kita sudah sedikit kaya, karena Amerika tidak mau lagi memberikan privilege, kan? Mungkin kita bisa negosiasi untuk itu, dalam bentuk bantuan lain, dimana ada tiga level, kita medium, jangan hanya dua kategori namun tiga, ini menurut saya pribadi ya,” ucap Andy.

AYO BACA : Status Indonesia Jadi Negara Maju, Ini Tanggapan Sri Mulyani

Karenanya, CCI terus bekerja sama dengan Indonesia melalui Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) untuk memajukan industri tekstil dalam negeri. Salah satunya dengan menggelar seminar The Economics of The Mills oleh Rieter dan Recent Discoveries about the Quality of US Cotton oleh CCI.

"CCI berharap para pengusaha lokal dan pabrik-pabrik tekstil di Indonesia juga dapat mendapatkan pengetahuan yang berguna tentang teknologi tekstil dari pakarnya. Makanya kita di sini CCI sering gelar technical seminar untuk kasih ilmu yang baru yang akhirnya bisa membuat industri tekstil Indoensia dan lebih maju," ujarnya.

Di lain pihak, Sekretaris Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Kevin Hartanto mengatakan Industri garmen dan pakaian jadi Jawa Barat memang cukup terpukul dengan kebijakan Amerika Serikat menghapus Indonesia dari daftar negara berkembang.

Kevin menilai, keputusan Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (AS) atau Office of the US Trade Representative (USTR) mencabut preferensi khusus untuk daftar anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) cukup memberi dampak.

"Pengaruh pasti, sebetulnya kita masih negara berkembang. Kalau kita dikategori sebagai negara maju eksport bakal lebih susah. Sekarang begitu dikenakan seperti itu akan tambah sulit. Sekarang tanya pada eksportit susah," katanya.

Apalagi, menurutnya dari sektor tekstil dan produk tekstil, ekspor pakaian jadi menjadi penyumbang neraca perdagangan Indonesia. Pihaknya mengaku kebijakan ini cukup mengejutkan karena pengusaha lokal tengah mengincar peluang dari perang dagang Amerika dan China.

"Makanya kita harus terus tukar pikiran. Pasti ada pro-kontra terlebih pasti ada potensi penurunan eksport karena Amerika udah pinter. Amerika menerapkan ini ada maksud terselubung, sebelumnya ekspor kita bisa menambah porsinya sekarang bisa jadi sulit karena ada pembatasan agar eskport Indonesia ke rem," ucapnya.

Karenanya, Kevin menilai kerja sama CCI dengan Indonesia melalui Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) bisa menemukan titik negosiasi untuk memajukan industri tekstil dalam negeri.

"Acara seminar ini termasuk jadi salah satu cara negosiasi atau barter. Misalmya kalau kita pakai cotton USA kita bisa runding dengan Amerika agar tak ada pembatasan eksport. Makanya rekomendasi dari asosisasi ingin ada perlindungan pasar dalam negeri. Selain itu regulasi mengenai tata tertib untuk import tekstil harus diubah, itu semua di peraturan menteri perdagangan," ujarnya.

AYO BACA : Indonesia Jadi Negara Maju, Sandiaga Uno: Masih Sangat Jauh

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar