Yamaha

Ciptakan Petani Milenial, Bupati Aa Umbara Ajak Tanam Sayuran Ekspor

  Kamis, 27 Februari 2020   Tri Junari
Ciptakan Petani Milenial, Bupati Aa Umbara Ajak Tanam Sayuran Ekspor. (Ayobandung.com/Tri)

CISARUA, AYOBANDUNG.COM -- Menangkap peluang bonus demografi Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna akan melakukan akselerasi pembangunan bidang pertanian dengan strategi mencetak pemuda di wilayahnya menjadi petani milenial komoditi sayuran ekspor.

Kekayaan alam dan potensi ekonomi pada sektor pertanian di Bandung Barat memang dikenal luas sebagai penghasil sayuran dengan pasar ritel modern bahkan mancanegara.

Sayangnya potensi itu masih kurang dilirik bagi sebagian besar milenial di Bandung Barat. Tercatat ada lebih dari 62.000 warga berusia 17-30 atau 30 persen dari jumlah penduduk.

"Strategi mencetak petani milenial ini butuh upaya dari hulu ke hilir, dimulai dari wawasan dan pelatihan, pengemasan hingga menyiapkan pasarnya,"ungkap Bupati saat acara Ngariung Bareng Bupati (Ngabati) bersama petani di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, KBB, Rabu (26/2/2020).

Menurutnya, langkah awal ialah membangun kebersamaan antara eksekutif dan legislatif untuk menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas arah pembangunan di tahun 2021-2022. 

Melalui rapat ketahanan pangan dan rapar paripurna tentang pokok pikiran DPRD pekan lalu, langkah politik menuju skala prioritas pertanian sudah terbangun.

"Kemarin kita rapat ketahanan pangan bersama DPRD, hasilnya keberpihakan anggaran dan arah pembangunan kedepan sektor pertanian menjadi prioritas," sebutnya.

Menurutnya, komoditas sayuran Bandung Barat sudah memiliki pasar yang menjanjikan terbukti dengan ekspor beberapa jenis sayuran seperti paprika, baby bean dan edamame menembus pasar Singapura, Jepang, China bahkan Eropa.

Tantangan yang kini dihadapi dalam mencetak petani milenial adalah kurangnya pendampingan dan wawasan pengolahan pertanian pada milenial. 

Mindset yang masih terbangun ialah mencoba profesi lain yang pada akhirnya menjadikan sebagai pegawai saja.

"Kita akan bangun green house terpadu seluas 1-2 hektar yang akan menjadi lokasi pembinaan milenial ini, mereka akan diajak bertani kemudian melihat langsung hasilnya secara ekonomi. Dengan begitu saya meyakini mindset bahwa petani itu tidak menjanjikan hilang dengan sendirinya," kata Aa.

Sebagai contoh, sebut Umbara, di Desa Pasir Langu ada seorang petani milenial berusia 25 tahun yang telah sukses menembus pasar ekspor dengan luas lahan sekitar satu hektare. 

Panen Paprika berwarna Hijau, Kuning dan Merah itu bisa berlangsung sepekan sekali dengan pasar yang telah ada. 

Pemasaran juga mudah seiring bantuan teknologi digital seperti aplikasi pertanian yang disediakan pemerintah daerah. 

"Disini usianya 25 tahun, dengan serius bertani pemuda ini bisa sejahtera. Daya dukung alam kita memang untuk pertanian, saya berharap kedepan semakin banyak petani milenial seperti ini," ujar dia.

Pemerintah Daerah juga tengah merancang sentra sayuran sebagai destinasi wisata seiring terbangunnya insfrastruktur di Cikalong Wetan-Cisarua. Produk hasil pertanian dari petani milenial akan ditempatkan dalam satu sentra kemudian menjadi daya tarik wisata sekaligus perluasan pasar.

"Tahun ini jalan Cikalongwetan-Cisarua terbangun dan terintegrasi dengan Kereta Cepat dan Kawasan Wisata Lembang. Sentra ini akan menjadi etalase produk unggulan pertanian Bandung Barat," katanya.

Dari sisi penguatan SDM, melalui program Skill Development Center (SDC) kerjasama dengan pemerintah pusat akan ada 1.000 wirausaha dan terbesar bidang pertanian.

"Programnya sudah lengkap, SDC itu mulai dari pelatihan, permodalam bahkan pasarnya disiapkan, tinggal generasi muda ini yang terbuka pada peluang bertani ini," tegas Aa.

Ditempat sama, pemuda warga Desa Pasir Langu, Wisnu (25) mengaku memilih jadi petani milenial sejak tahun 2011. 

Lahan seluas 1.200 meter persegi warisan orang tuanya disulap jadi green house modern untuk ditanami buah paprika. Dalam satu kali panen, ia bisa menghasilkan dua sampai tiga kuintal paprika dengan keuntungan Rp.2 juta. 

"Paprika ini bisa dipanen tiap satu Minggu sekali. Dalam satu kali penen saya menghasilkan Rp.2 juta dengan penjualan Rp.50 ribu per kilo," kata Wisnu.

Wisnu sadar, saat ini minat kaum Milenial dalam bertani, masih sangat kurang. Padahal potensi bisnis dan lahan masih sangat besar di Bandung Barat.

"Saya yakin Milenial juga bisa. Asal jangan malu untuk bertanya dan belajar," ucapnya.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan KBB, ada 20 hektar lahan pertanian yang khusus budidaya paprika. Lahan tersebut tersebar di Kecamatan Cisarua dan Lembang, dengan jumlah kelompok tani sebanyak 108 kelompok. 

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan KBB, Heru BP mengatakan khusus untuk lahan di desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, rata-rata petani paprika adalah anak muda. 

"Khusus untuk Desa Pasirlangu kita akan dorong paprika ini jadi produk unggulan karena di sini didominasi paprika. Apalagi pembudidaya rata-rata petani Milenial," terangnya.

Selain paprika, Bandung Barat punya produk unggulan lain seperti anaeka sayuran, bunga potong, padi, kopi, aren, cengkeh dan karet. Dinas Pertanian bakal mendorong produk unggulan itu untuk digarap petani Milenial.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
-->

   Komentar