Yamaha

Bekerja Dengan Hati ala Kampung Film Black Team Bandung

  Rabu, 26 Februari 2020   Nur Khansa Ranawati
Gumilar Sayyidul Akbar, pendiri komunitas pembuat film pendek "Black Team". (Ayobandung.com/Nur Khansa)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sejak berusia 14 tahun, warga kelurahan Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik Bandung, Gumilar Sayyidul Akbar memiliki ketertarikan yang tinggi di bidang film. Dia kerap membuat berbagai video pendek mengenai hal-hal yang disukainya.

Dari sanalah kemudian kesukaannya terhadap pembuatan film pendek berkembang. Tema yang digarap pun beragam, kebanyakan menyoroti isu kemasyarakatan, lingkungan dan budaya di tempat sekitarnya tinggal.

Berbekal peralatan sederhana, pada 2012, pria yang akrab disapa Gumgum ini kemudian mendirikan komunitas pembuat film pendek "Black Team". Handphone dan komputer warnet menjadi 'senjata' kelompok tersebut dalam membuat karya.

"Dulu sering banget ke warnet untuk ngedit film, sampai akhirnya komputer itu dihibahkan buat kita oleh pemilik warnetnya. Katanya biar enggak bolak-balik terus," kenang Gumgum ketika ditemui di Balai Kota Bandung, Selasa (25/2/2020).

Hampir delapan tahun berselang, komunitas yang kemudian namanya dirubah menjadi "Kampung Film Black Team" ini telah memiliki 200 anggota yang berdomisili di Kota Bandung. Komunitas ini juga memiliki anggota di luar Provinsi Jawa Barat. Sebanyak lebih dari 1000 judul film pendek maupun panjang berhasil diproduksi.

Gumgum mengatakan, salah satu hal yang membuatnya terus berkarya membuat film adalah sifat film yang mampu menginspirasi orang. Tokoh dalam film dan berbagai adegan yang diperankannya disebut kerap dapat memengaruhi pandangan penontonnya.

AYO BACA : Komunitas Kampung Film Black Team, Kampung Hollywood Karya Anak Bangsa

"Film itu sesuatu yang berpengaruh. Banyak orang dan anak-anak yang ingin jadi superman gara-gara film, banyak orang yang tertarik kung fu karena Jakie Chan," ungkapnya. Sehingga, dia berharap film-film yang digarap komunitasnya dapat menggerakan orang untuk melakukan kebaikan.

Selama ini, film-film hasil karya dia dan komunitasnya diunggah ke akun YouTube. Tak jarang pihaknya dimintai menggelar layar tancap di sejumlah tempat.

Tak hanya film pendek, Kampung Film Blackteam juga beberapa kali menghasilkan film panjang. Salah satunya adalah "Aku Ingin Menjadi Penari Jaipong" yang sempat ditayangkan di bioskop CGV Paris Van Java Bandung. Bahkan, komunitas ini juga sempat mendapat rekor dunia kategori pembuatan film tercepat, yakni 1 film dalam waktu 9 jam dalam acara G1000S atau Gerakan 1000 Sineas.

Gumgum mengatakan, selama ini komunitasnya tidak berorientasi profit. Berbagai film garapannya pun dibuat dengan budget yang beragam, mulai dari nol hingga Rp50 juta rupiah, tak selalu dapat sponsor.

"Justru film yang paling mahal bagi saya bukan film yang dapat sponsor besar, tapi yang enggak ada uangnya. Karena di situ dituntut keikhlasan tiap orang dalam berkarya," ungkapnya.

Dia juga mengatakan kunci solidnya komunitas Kampung Film Black Team hingga mampu menghasilkan banyak film adalah berkarya dengan hati. Dia juga meyakini hal tersebutlah yang mampu membuat pesan yang ingin disampaikan di dalam film diterima oleh khalayak.

"Kita selalu menekankan agar semua tim bekerja pakai hati, mulai dari aktornya, narator, hingga cameraman. Kunci dari sebuah karya itu ketulusan," jelasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
-->

   Komentar