Yamaha

Kampung Cimulu, Hidup di Tengah Hutan dan Bergantung ke-3 Kabupaten

  Selasa, 25 Februari 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Kampung Cimulu di Desa Pangereunan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

GARUT, AYOBANDUNG.COMKampung Cimulu berkedudukan di RT/RW 04/09, Desa Pangereunan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut. Namun Kampung ini berada di tengah kawasan hutan Gunung Masigit Kareumbi yang membentang di antara tiga kabupaten di Jawa Barat, yakni Bandung, Sumedang, dan Garut.

Untuk sampai ke Kampung Cimulu, kendaraan hanya bisa diakses melalui Kabupaten Bandung atau Kabupaten Sumedang. Meskipun Kampung Cimulu secara administrasi berada di Garut, untuk sampai ke pusat pemerintahan, warga kampung lebih memilih jalan dari dua kabupaten itu. Bila ingin memaksa, maka setidaknya kaki kuat mesti disiapkan karena area bukit yang mesti dilintasi.  

Saat berkunjung ke kampung ini, Ayobandung.com masuk melalui Kabupaten Bandung, tepatnya lewat Desa Leuwiliang yang berujung ke Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi. Lantaran kawasan hutan, jalan yang dilalui pun sebatas batu kerikil bercampur tanah. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 20-30 menit dari gerbang masuk taman buru ke Kampung Cimulu.

ayobdg-Mengunjungi-Kampung-Cimulu-Kavin-Faza-1
Plang Kampung Cimulu. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Ayobandung.com membayangkan betapa terkucilnya warga karena jauh dari peradaban kota. Selain gara-gara akses jalan menantang, sinyal seluler tak ada sama sekali. Anggapan itu pun dimentahkan sampai Mak Nyai, ketua RT dan sepuh Kampung Cimulu, berbincang dengan Ayobandung.com.

Tos kabiasaan ti aalit, janten anu ngaraoskeun kaget teh anu teu biasa. Ari emak mah di dieu, sareng warga tos biasa sapertos kieu (Sudah kebiasaan dari kecil, jadi yang merasakan kaget itu yang tidak biasa. Kalau emak di sini, bersama warga sudah biasa seperti ini)” kata Mak Nyai.

Memang masalah perasaan siapa yang bisa menebak. Anggapan bahwa warga terkucil lambat laut hilang karena obrolan bersama Emak. Namun siapa sangka, Mak Nyai mulai menceritakan bagaimana perjuangan warga Cimulu, dari mulai cara warga mengakses pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga menyalurkan hak politik, yang kebanyakan orang mungkin bakal berpikir dua kali bisa tinggal di sini.

Memfasilitasi Hidup ke Tiga Kabupaten

ayobdg-Mengunjungi-Kampung-Cimulu-Kavin-Faza7
Seorang warga Cimulu tengah berkebun. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Mak Nyai merupakan orang kesekian yang disepuhkan di Kampung Cimulu. Perannya selain sebagai sepuh, yakni sebagai ketua RT atau orang yang mempunyai hubungan langsung dengan pemerintah, mengharuskan Mak Nyai menjadi sosok yang bisa dipercaya oleh warga.

Warga Kampung Cimulu sendiri terhitung sedikit, hanya 45 jiwa dari 14 kepala keluarga (KK). Meski berdiri sudah berpuluh-puluh tahun, terakhir kali rumah yang dibangun atau bertambahnya KK di kampung ini terjadi pada 2013. Saat itu sebelumnya, KK hanya sebanyak 9.

Meski sedikit, Mak Nyai mengatakan bahwa warganya tak pernah meluputkan kewajiban sebagai warga negara. Contohnya saat pemilu. Warga berduyun-duyun mendatangi TPS di Kampung Kubang, Garut. Untuk menempuhnya, warga mesti berjalan kaki melewati deretan bukit dan belantara hutan. Jaraknya pun cukup menantang, kurang lebih satu jam perjalanan.

Kadang, kata Emak, di perjalanan, dirinya atau warga bertemu dengan hewan liar. Seringnya dengan babi hutan. Itu yang membuat perjalanan ke Kubang tidak dianjurkan dilakukan seorang. Meskipun begitu, warga sudah terbiasa. Namun, hal itu jadi perhatian tersendiri bagi orang luar saat melihat warga Cimulu.

Mun dongkap ka ditu, teras ku petugas-petugas TPS nu kitu teh diperhatoskeun. Jadi dongkap ti Cimulu diparayunkeun. Mah enggal kanggo uih deui (Kalau sudah sampai ke sana, sama petugas-petugas TPS diperhatikan. Jadi yang datang dari Cimulu didahulukan. Supaya Cepet buat pulang lagi)” kata Emak.

AYO BACA : Konservasi Gunung Masigit Kareumbi: Upaya Kembalikan Fungsi Alam (bag. 1)

Untungnya menyalurkan hak politik dilakukan dalam hitungan tahun. Warga tak mesti selalu berkunjung ke Kubang bila tak ada keperluan penting atau mendesak.

ayobdg-Mengunjungi-Kampung-Cimulu-Kavin-Faza3
Mak Nyai. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Sementara untuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, maka warga akan pergi ke Bandung dan Sumedang. Contohnya untuk bersekolah. Sekolah-sekolah di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang lebih dekat dengan Cimulu. Lainnya, seperti urusan niaga, hasil ternak dan tani warga dijual di dua daerah itu. Tani dan ternak adalah profesi yang mayoritas digeluti warga. Setidaknya lewat dua profesi itu, warga pun dapat berinteraksi dengan dunia luar karena roda ekonominya terus berjalan.

Namun di antara penyaluran kebutuhan-kebutuhan itu, upaya mengakses kesehatan yang patut diacungi jempol. Kata Mak Nyai, sebagai warga kampung yang hidup sehat, jarang ada penyakit parah menerpa. Yang paling dibutuhkan yakni saat warga hendak melahirkan. Bila tak memanggil bidan dari Desa Tanjung Wangi, Kabupaten Sumedang, maka bidan dari Desa Cinulang, Kabupaten Bandung, yang dipanggil. Untuk berkomunikasi, warga pun mesti menaiki bukit di kampung itu sehingga dapat menelepon bidan.

Janten milari sinyal hela, nelpon bidan, nembe tiasa ngadongkapkeun. Kadang dijemput, kadang ka ditu langsung (Jadi nyari sinyal dulu, nelpon bidan, baru biasa mendatangkan. Kadang dijemput, kadang ke sana langsung)” kata Emak.

Tak Punya Listrik Resmi

ayobdg-Mengunjungi-Kampung-Cimulu-Kavin-Faza4
Mak Nyai menyalakan lampu hasil pembangkit solar cells. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Mengakses tiga kabupaten agar hidup lebih terfasilitasi, bukan hanya cerita “sulit” yang dialami oleh warga Cimulu. Soal lainnya tentang listrik yang jadi kebutuhan dasar masyarakat kekinian.

Mak Nyai bercerita, pertama kali listrik bisa menyala di kampungnya pada 2007. Saat itu dikenalkan teknologi listrik hidro atau teknologi yang memanfaatkan air, tepatnya menggunakan tenaga aliran air Sungai Citarik sehingga rumah warga bisa terang.

Itu pun tak selalu bisa diandalkan. Bila musim penghujan berhenti alias masuk kemarau, aliran Citarik lambat laun dangkal. Bila tiba masa itu, maka warga bakal memanfaatkan lampu minyak lagi seperti sedia kala. Tak beruntungnya warga, listrik hidro pun hanya bisa digunakan sampai musim kemarau tahun 2018. Alat pembangkit listrik rusak. Seiring itu, tak ada lagi orang yang mampu membenarkannya.

Kekinian, Mak Nyai menggunakan solar cells atau sinar surya untuk penerangan rumah bersama satu keluarga lainnya di Kampung Cimulu. Itu pun terbatas, hanya bisa digunakan untuk menyalakan lampu. Sementara KK yang lain kembali memanfaatkan lampu minyak.

Pami nu di pengker mah nganggo lisah tanah, bari jeng awis pisan (Kalau yang di belakang pakai minyak tanah, berikut mahal banget)” ujar Emak.

Kendati begitu, sepanjang jalan menuju Kampung Cimulu, terdapat tiang-tiang listrik, tanda bahwa kampung ini bakal terang seperti kampung-kampung lainnya. Tapi Emak pun tak tahu pasti kapan proyek itu selesai.

Mak Nyai pun berharap, tak hanya listrik yang masuk di kampungnya. Segala kemudahan bisa didapatkan warga Cimulu untuk ke depannya. Termasuk sinyal seluler sebagai sarana muda-mudi di kampungnya “bergaul” dengan dunia luar.

Ari harepan mah ageung, siga ngajengkeun listrik. Hoyong lah siga masyarakat Indonesia pada umumnya, hoyong siga di batur aya sinyal, hoyong sami (Kalau harapan mah besar, seperti ngajuin listrik. Pengen lah seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, pengen seperti di tempat orang lain ada sinyal, pengen sama)” kata Emak.

AYO BACA : Mewujudkan Taman Buru di Gunung Masigit Kareumbi (bag. 2)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
-->

   Komentar