Yamaha

Mewujudkan Taman Buru di Gunung Masigit Kareumbi (bag. 2)

  Senin, 24 Februari 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Seorang pengunjung melihat penangkaran rusa di Kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

CICALENGKA, AYOBANDUNG.COM -- Darmanto mengatakan, tak ada taman buru andai ekosistem hutan masih kacau. Selebihnya yang diburu mesti overpopulasi, disamping hewan itu tak dilindungi.

Wakil Manajer Gunung Kareumbi Masigit ini menyebut, Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi entah kapan bakal terealisasi. Namun upaya konservasi hutan yang diintensifkan bukan janji palsu, alih-alih taman buru semakin dekat perwujudannya.

“Ya, minimal kita hijaukan dulu hutannya, kalau udah hutannya hijau, kan, binatang  masuk semua,” katanya.

Dia mengatakan, dukungan pemerintah atau pun pihak lainnya untuk mewujudkan taman buru sangat dibutuhkan. Sejak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat menyetujui Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadari memanajerial kawasan pada 2008, Darmanto menyebut, usaha mengurus Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi dapat disebut mandiri.

Meski demikian, Wanadri dibantu masyarakat lewat program pemberdayaan bisa mengoptimalkan pengurusan kawasan. Namun, lagi-lagi, terbatasnya sokongan memaksa upaya-upaya itu dilangsungkan seadanya.

“Kenapa kita tetap tersendat-sendat dalam pengelolaan, karena memang kita duitnya dari mana,” katanya.

Namun harapan mewujudkan taman buru tak pupus. Yang lebih penting, kata Darmanto, upaya mengembalikan fungsi hutan masih tetap berjalan. Satu program yang menjanjikan akan hal itu yakni pemulihan satwa buru.

ayobdg-Kawasan-Wisata-Alam-Masigit-Kareumbi-Kavin-Faza6
Pengujung berjalan di tengah kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYO BACA : Konservasi Gunung Masigit Kareumbi: Upaya Kembalikan Fungsi Alam (bag. 1)

Mengutip dari situs resminya, sekitar tahun 1966 saat kawasan ini masih di bawah pengelolaan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie memprakarsai pengembangan usaha kawasan. Pada masanya, dibangun rumah di salah satu pintu masuk kawasan, yang selanjutnya disebut blok KW. Karena kesukaan terhadap olahraga berburu, Ibrahim Adjie mengembangkan dan mengintroduksi berbagai jenis rusa, di antaranya  Rusa Sambar, Rusa Timor, dan Rusa Tutul.

Usaha ini dilakukan bersama-sama dengan Dinas Kehutanan Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bandung dengan tujuan memanfaatkan sumberdaya satwa liar yang dibina secara baik, sekaligus mengelola secara efisien. Jumlah rusa yang diintroduksi sebanyak 25 ekor pada lahan berpagar kurang lebih seluar 4 hektare. Namun setahun kemudian, pagar tersebut dibuka dan rusa dilepasliarkan ke hutan.

Kekinian, melalui program pemulihan satwa, rusa kembali dikembangbiakan. Darmanto mengungkapkan, ada 38 ekor rusa hidup di lahan seluar 45 hektare. Melalui program pemberdayaan masyarakat, rusa-rusa itu pun diurus. “Kita bayar masyarakat yang ngarit, yang jaga, dan sebagainya. Mereka adalah masyarakat sekitar kawasan,” katanya.

Namun, kata Darmanto, andaikan taman buru bisa dipraktekan di Gunung Masigit Kareumbi, aktivitas itu tidak serta merta seperti berburu pada umumnya dengan memakai senjata api sehingga hewan di hutan yang sudah lestari lantas mati.

“Taman buru, kan, taman berburu. Berburu itu bukan hanya menembak. Orang kalau bilang berburu itu hanya menembak pake bedil dan sebagainya, padahal berburu itu bisa pakai kamera, ngambil foto itu berburu juga. Orang mancing pun bisa kita sebut berburu, jadi artikulasi dari berburu itu banyak sekali. Karena kalau riil berburu dengan senjata api, itu harus ada izinnya, baik dari kepolisian atau Perbakin, harus ada jelas, dan itu masih sulit di Indonesia untuk dijalankan,” katanya.

Dalam perkembangannya, pengelolaan di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi pun berbuah manis. Yang diharapkan ekosistem kembali utuh, lambat laun terjadi. Menurut Darmanto, selain lewat program konservasi “wali pohon”, kepulihan ekosistem hutan Gunung Masigit Kareumbi dapat dilihat dari perilaku satwa-satwa yang menghuninya. Suatu waktu, sejumlah rusa di kawasan ini dimangsa macan yang terekam kamera hutan.

“Ada macannya di sana, kita pake kamera trap, kita dapat macannya lagi makan rusa kita. Itu riil ada, bahwa ekosistem sana sudah mulai berjalan dengan baik. Ada bagusnya, ada enggaknya. Enggaknya, kan, kita miara rusa, itu dilindungi, macan kumbang pun dilindungi. Sekarang yang saling dilindungi saling makan, kan, gak boleh di bunuh dua-duanya, tapi itu artinya ekosistem sudah mulai berjalan,” katanya.

Merujuk website Kareumbi, selain aneka flora, beragam fauna pun hidup di hutan Gunung Masigit Kareumbi. Berdasarkan buku ICWRMIP (2013), mamalia yang hidup di kawasan ini sebanyak 18 spesies yang berasal dari 13 famili dan 7 ordo. Di samping itu, terdapat 114 jenis spesies burung dari 31 famili.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar