Yamaha

Konservasi Gunung Masigit Kareumbi: Upaya Kembalikan Fungsi Alam (bag. 1)

  Senin, 24 Februari 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Seorang penjunjung berjalan di tengah kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

CICALENGKA, AYOBANDUNG.COM Di Indonesia, terdapat 14 taman buru. Seperti namanya, taman ini diperuntukkan untuk berburu. Meski demikian, penamaan taman buru tidak langsung menjadikan kawasan itu tempat berburu. Ada syarat sehingga aktivitas berburu bisa dilakukan, seperti yang digiatkan di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi.

Taman Buru Masigit Kareumbi masuk ke dalam tiga kabupaten di Jawa Barat, antara lain Bandung, Garut, dan Sumedang. Namanya diambil dari dua kata, yakni Masigit yang merujuk kepada nama gunung di sebelah timur kawasan hutan, dan Kareumbi yang merujuk nama sebuah gunung di bagian baratnya. Namun, konon, Kareumbi juga merujuk nama pohon kareumbi yang dulunya banyak tumbuh di gunung tersebut.

Merujuk situs resminya, Gunung Masigit Kareumbi memiliki luas kawasan mencapai 12.420,7 hektare.  Tempat ini dikelola di bawah wewenang Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat. Namun sejak 2008, organisasi kegiatan alam bebas, Wanadri bekerja sama dengan BBKSDA mengurus kawasan dengan tujuan menjadikan ekosistem kawasan seperti sedia kala. Seiring itu, taman buru bukan sekedar sematan, namun bisa diwujudkan.

“Jadi di Kareumbi itu statusnya adalah taman buru. Se-Indonesia ada 14 taman buru, dan se-Jawa Bali yang statusnya taman buru itu cuma Kareumbi,” ungkap Wakil Manajer Lapangan Gunung Masigit Kareumbi Darmanto kepada Ayobandung.com belum lama ini.

Sejak Wanadri bermitra dengan BBKSDA, sejumlah program direncanakan, mencakup jangka pendek dan menengah. Enam program itu antara lain pendidikan dan pelatihan alam terbuka, ekowisata, konservasi, pemulihan populasi satwa buru dan wisata buru, pemberdayaan masyarakat, serta penelitian dan pengembangan.

ayobdg-Kawasan-Wisata-Alam-Masigit-Kareumbi-Kavin-Faza5
Pengujung menikmati pemandangan hutan di kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Sebelum program-program ini dicanangkan, Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi sempat dilanda masalah yakni penebangan liar. Di situs resminya, PT PMS pernah diberi izin pengusahaan taman buru, namun dalam perjalanannya terjadi penebangan hasil hutan terutama kayu yang menyeret banyak pihak kepada masalah hukum.

Akibatnya, kawasan ini menjadi terbengkalai, terutama infrastruktur yang telah dibangun para pengelola yang dulu, termasuk penghuni hutan yang terancam kehidupannya.

“….perambahan kawasan untuk pertanian dan pengambilan kayu untuk keperluan bahan bangunan serta kayu bakar juga marak. Demikian juga perburuan liar yang menyebabkan satwa terutama rusa tak berbekas,” tulis dalam website Kareumbi.

ayobdg-Kawasan-Wisata-Alam-Masigit-Kareumbi-Kavin-Faza2
Pengunjung melihat peta penyebaran program wali pohon di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Sejak itu, BBKSDA mengambil alih pengelolaan hingga bersinergi dengan Wanadri. Darmanto menyebut, untuk mengembalikan fungsi hutan, program konservasi kemudian dicanangkan. Program ini berupa penanaman pohon, disebut wali pohon. Sejak diperkenalkan hingga sekarang, jumlah pohon yang ditanam sudah sekitar 200 ribu batang lebih. Pihak luar Gunung Masigit Kareumbi pun seiring waktu terus ikut berkontribusi menghijaukan lagi kawasan.

“Kita konservasi wali pohon namanya, kita tanggung jawab selama tiga tahun pohonnya. Dia (donator pohon) nanem saat itu, kita tanggung jawab selama tiga tahun ke depan. Pohonnya mati kita ganti…. Ini, kan, kita mencari area (penanaman pohon) di dalem yang gundul, itu kita tanemi,” kata Darmanto.

Sebagai wali, para penanam pohon pun bisa mengawasi perkembangan pohonnya. Darmanto mengungkapkan, para penanam diberi sertifikat atas pohon-pohon yang ditanamnya. Uniknya, sertifikat itu teregistrasi sehingga para penanam sekalipun tak memantau langsung, namun bisa memastikan perkembangannya.

“Jadi kalau yang nanem-nya orang Kalimantan, Sulawesi, atau di luar Jawa, pengen liat pohonnya dia gak usah ke Kareumbi, dia tinggal google aja, tiga huruf terakhir  dari sertifikatnya adalah kode pin si penanam,” katanya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
-->

   Komentar