Yamaha

PVMBG Imbau Jasa Marga Batasi Kendaraan Berat di Tol Cipularang KM 118

  Kamis, 13 Februari 2020   Tri Junari
Longsor di Kampung Hegarmanah, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (13/2/2020). (Ayobandung.com/Tri Junari)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) melakukan pantauan di lokasi terjadinya bencana pergerakan tanah di Kampung Hegarmanah, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (13/2/2020).

Penyelidik Bumi PVMBG, Anjar Hariwaseso mengatakan, PVMBG belum mengeluarkan hasil resmi penyebab utama terjadinya bencana longsor pada Selasa (11/2/2020) malam lalu.

Namun dari pengamatan di lapangan, Anjar menilai tanah tebing yang longsor mengandung air permukaan atau kontur tanah yang jenuh.

AYO BACA : PVMBG Sebut Longsor Susulan Berpotensi Terjadi di Ngamprah

Meski begitu, ia belum bisa menarik kesimpulan jika penyebab tanah mengandung air ini berasal dari genangan di sebelah utara jalan Tol Cipularang KM 118.

"Kalau genangan di seberang itu lebih tinggi, mungkin pengaruhnya ada. Kalau genangan itu lebih rendah tidak mempengaruhi," ujar Anjar saat ditemui di lokasi longsor, Rabu (11/2/2020).

Saat ini, PVMBG baru melakukan pengenalan area untuk mengecek batuan, hidrologi dan bentuk struktur tanah.

AYO BACA : Longsor Ngamprah, Bupati Bandung Barat Tuntut Jasa Marga Bertanggung Jawab

Pengamatan tanah pasca longsor juga memungkinkan pergerakan tanah atau longsor susulan terjadi.

"Kalau kita lihat dari kondisi tanahnya sangat jenuh sekali. Kemudian sehabis longsor banyak sekali muncul kolam-kolam yang menampung air sehingga menyebabkan tanah di lokasi itu jenuh. Kalau sudah jenuh bisa terjadi longsor," paparnya.

Menurutnya, mitigasi pertama yang mesti dilakukan Jasa Marga adalah mengeringkan dulu tampungan air.

"Setelah pengeringan dilakukan, baru kita bisa lakukan terasering ataupun penahan lereng, atau bronjong itu bisa dilakukan setelahnya," kata Anjar.

Anjar juga mengimbau Jasa Marga melakukan antisipasi longsor susulan dengan melakukan pengaturan lalu lintas. Kendaraan berat pada lajur Bandung-Jakarta jangan melintas terlalu kiri.

"Jika melihat dari kondisinya, titik longsor dengan badan tol berada tidak kurang dari 10 meter. Itu harus dimitigasi juga. Takutnya, gawir jurang mundur mendekat ke badan tol. Kalau bisa arus kendaraan berat agak ke kanan, getarannya bisa memicu pergerakan tebing," katanya.

AYO BACA : Dituding Jadi Penyebab Bencana di Ngamprah, Jasa Marga Buka Suara

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar