Yamaha

Ciptakan Model Bisnis Hybrid 5.0, Direktur Kepatuhan bank bjb Agus Mulyana Raih Gelar Doktor

  Senin, 10 Februari 2020   Fira Nursyabani
Direktur Kepatuhan bank bjb Agus Mulyana raih gelar doktor di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Senin (10/2/2020). (dok. bank bjb)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Direktur Kepatuhan Bank Jawa Barat dab Banten (bank bjb) Agus Mulyana berhasil meraih gelar Doktor dalam Ujian Sidang Promosi Doktor (S3) Program Studi Manajemen, di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Senin (10/2/2020).

Di hadapan tiga orang promotor yakni Prof. Dr. Hj. Ratih Hurriyati, M.P. Prof. Dr. H. Disman, M.S., dan Dr. Lili Adi Wibowo, S.Pd., S.Sos., M.M., serta dua orang penguji Prof. Dr. Ir. Nandan Limakrisna, M.M., CQM., dan Dr. HenyHendrayati, S.Ip., M.M., Agus mampu mempertahankan penelitian disertasinya dengan judul “Model Bisnis Fintech dalam Meningkatkan Marketing Performance di Indonesia” dan meraih yudisium 3,92 (cumlaude).

Dalam penelitiannya, Agus berhasil melahirkan model baru yang diberi nama Model Bisnis Hybrid 5.0 yang menggabungkan antara Intelectual Capital yang melahirkan Innovation dan Information Technology Capability yang menghasilkan Value Creation.

“Dengan kedua unsur tersebut akan menghasilkan suatu kekuatan yang besar untuk meningkatkan perekonomian suatu bangsa,” ujarnya kepada wartawan usai sidang.

Menurutnya, perkembangan finansial technology (Fintech) saat ini, tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perubahan global teknologi inovasi keuanga. Namun untuk mengukur konfigurasi perkembangan Fintech di Indonesia masih sangat terbatas.

Berdasarkan data yang ada dan dapat digunakan untuk mengetahui serta mengukur konfigurasi Fintech, baru sebatas pada jumlah perusahaan, market size, dan data keuangan Fintech (peer to peer lending).

AYO BACA : Bandung bjb Tandamata Taklukkan Gresik Petrokimia Puslatda KONI Jatim

“Dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 terdapat banyak kelemahan dalam bidang Fintech, di mana semuanya dituntut serba otomasi. Dalam satu sisi perkembangan digital ini sangat menguntungkan dalam segi efisiensi dan efektifitas, namun pada sisi lain, rendahnya Intelectual Capital SDM dari suatu negara akan menjadi kelemahan di negara tersebut pada kemajuan teknologi digital yang sangat cepat, sehingga peran manusia akan digantikan oleh Robot berbasis Artificial Intelligence, menyebabkan manusia sangat tergantung dengan robot tersebut,” katanya.

Agus menjelaskan, Jepang dan Amerika memiliki teknologi tinggi di bidang Industri dan mesin otomatisasi, namun pertumbuhan ekonominya tidak serta merta tumbuh tinggi, bahkan cenderung menurun. Hal ini disebabkan semakin tinggi peran kekuatan industri yang dipengaruhi oleh mesin dan digitalisasi, maka akan semakin rendah peran dan fungsi dari manusianya, karena digantikan oleh mesin.

Pertumbuhan penduduk akan terganggu (krisis sosial), ketika masyarakatnya lebih memilih untuk hidup sendiri, tidak mau memiliki keluarga atau keturunan, bahkan memilih pasangan hidupnya atau sahabat curhat dengan robot atau asisten virtual.

“Pertumbuhan jumlah penduduk dan angkatan kerja yang minim akan menghambat pertumbungan produksi barang dan jasa sehingga akan mengancam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ketergantungan terhadap teknologi yang terlalu tinggi akan mengikis norma-norma Agama, Budaya, dan Kehidupan Sosial yang menjadi tujuan hidup manusia dalam bernegara,” terangnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, berdasarkan hasil penelitiannya, ditemukan suatu model yang baru yang saya namakan Model Bisnis 5.0. Model ini merupakan sinergisitas antara Intelectual Capital yang melahirkan Innovation dan Information Technology Capability yang menghasilkan Value Creation, sehingga dengan sinergisitas kedua unsur tersebut akan menghasilkan suatu kekuatan yang besar untuk meningkatkan perekonomian suatu bangsa.

“Untuk membangun ekonomi suatu negara agar tumbuh lebih baik dan maju, tidak hanya dibangun dengan kekuatan mesin dan teknologi yang tinggi, akan tetapi juga harus berkolaborasi dengan Intelectual Capital Society yang berbasis Human / manusia. Inilah yang saya sebut sebagai Hybrid Busines Model atau Business Model 5.0. Model ini cocok diterapkan di Indonesia dan dapat digeneralisasikan pada seluruh Perusahaan yang bergerak baik di bidang jasa, ritel maupun manufaktur,” tambahnya.

AYO BACA : bank bjb dan Universitas Muhammadiyah Bandung Kerja Sama di Bidang Ini

Business Model 5.0. sudah memiliki unsur kebaruan terkait perkembangan sekarang khususnya tentang adopsi Model Bisnis Industri 4.0. berbasis Digital yang diadopsi dari negara-negara maju seperti Amerika dan Cina dan Model Bisnis Society 5.0. berbasis Human yang diadopsi dari negara Jepang.

Business Model 5.0. menggabungkan model bisnis Industri 4.0. di mana peran manusia sudah digantikan oleh robot yang bisa menjawab dan menyelesaikan semua kebutuhan manusia, sedangkan pada model Society 5.0. peran manusia ditimbulkan kembali sehingga dari kolaborasi keduanya baik Model Bisnis Industri 4.0 dan Model Society 5.0 akan menghasilkan Hybrid Business Model yang dapat diimplementasikan di Indonesia.

Hybrid Business Model cocok diterapkan di Indonesia dikarenakan adanya batasan budaya dan agama sehingga peran manusia tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh Teknologi. Peran manusia yang tidak bisa digantikan oleh teknologi dinamakan Intellectual Capital.

Intellectual Capital tersebut yang menghasilkan Innovation. Hybrid Business Model berbasis Inovasi tersebut disebut sebagai Business Model 5.0.

Agus berharap, sejalan dengan kebijakan Pemerintah, Indonesia  mulai memprioritaskan pengembangan Intellectual Capital sejak dini dalam mengantisipasi transformasi teknologi digital yang sangat cepat untuk menuju tahun 2021.

Untuk bisa membangun Intelectual Capital berupa moral, sikap, perilaku, tata krama, agama, integritas, serta kepatuhan pada aturan dan ketentuan, bisa mulai dibangun sejak pendidikan usia dini sampai Perguruan tinggi.

Sebagai ilustrasi, di lima negara dengan pendidikan terbaik di dunia, yaitu Finlandia, Cina, Kanada, Korea Selatan dan Selandia Baru memiliki tingkat Intelectual Capital yang tinggi, dengan menggunakan pola pendidikan seperti waktu belajar di sekolah yang hanya 3-4 jam per hari, tidak ada rangking di sekolah, tidak ada ujian nasional, tidak ada Pekerjaan Rumah, menulis tetap menggunakan Papan Tulis, mendorong Kreatifitas untuk menghasilkan Inovasi dan Penciptaan Nilai.

“Saya memprediksi, jika Busines Model 5.0 di implementasikan sejak sekarang, maka di tahun 2021 Indonesia akan sejajar dengan negara negara maju lainnya,” tegas Agus.

AYO BACA : bank bjb Wujudkan Impian Ratusan Nasabah Setia ke Tanah Suci

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar