Yamaha

Jaarbeurs, Cerita di Balik Kemeriahan Pasar Malam Bandung Baheula

  Senin, 10 Februari 2020   Nur Khansa Ranawati
Mobil dan pengunjung di depan pintu masuk utama gedung Jaarbeurs Bandoeng. Potret diambil antara 1920-1926. (Dok. Tropenmuseum)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Selain sebagai pusat pendidikan dan pelatihan militer, masyarakat Kota Bandung banyak mengenal gedung Kodiklat TNI AD di Jalan Aceh nomor 50 sebagai tempat resepsi pernikahan. Gedung yang memiliki nama resmi "Gedung Mohammad Toha" ini ternyata menyimpan sejarah panjang di dalamnya.

Pada masa 1920 hingga 1941, tempat tersebut banyak dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar Hindia Belanda. Bukan untuk datang ke resepsi--tentu saja, melainkan untuk menghadiri acara pasar malam yang dikenal meriah, lengkap dengan berbagai atraksi dan permainannya.

Pasar malam tersebut dinamai "Jaarbeurs", yang dalam bahasa Belanda secara harfiah berarti "pameran tahunan". Tulisan Jaarbeurs beserta tiga patung torso pria yang ikonik hingga saat ini masih terpajang di bagian depan gedung.

2

Wanita dengan kostum hoop skirt di depan tenda teh di pameran Jaarbeurs Bandoeng 1924. (Dok. Tropenmuseum)

Berdasarkan tulisan Sudarsono Katam dan Lulus Abadi alam buku Album Bandoeng Tempo Doeloe, Jaarbeurs, sesuai namanya, diselenggarakan setahun sekali. Pasar malam ini memiliki konsep pameran dagang dan hiburan yang diprakarsai oleh Wali Kota Bandung kala itu, B.Coops dan komunitas wisata Bandoeng Vooruit.

AYO BACA : Bandung Baheula : Secuil Sejarah Pahit di De Majestic

Bila diumpamakan, pameran ini menyerupai Pekan Raya Jakarta di mana pemerintah mendukung berbagai produk usaha industri dan masyarakat (yang didominasi warga Eropa) untuk dipamerkan di dalamnya. Atraksi dan hiburan rakyat seperti aneka permainan, bianglala, area kuliner dan sebagainya juga turut dihadirkan.

Berdasarkan sejumlah foto dokumentasi gelaran Jaarbeurs, beberapa produk yang hadir membuka stand di antaranya adalah  "Madame Blanche Cream", "Hollandsche Zuurkraam B.H. Slegt,", "Ramboet Netjis", "Obat Mata", "Bedak Violet Lam Hwa Semarang", "Java Bier", dan sebagainya. Masing-masing stand berdiri dengan dekorasi tematik yang didesain semenarik mungkin.

Pameran ini sebelumnya berlangsung di bangunan-bangunan semi permanen, hingga akhirnya menempati lokasi yang sekarang setelah gedung Jaarbeurs selesai dibangun pada 1925. Arsiteknya adalah perancang bangunan kenamaan asal Belanda yang juga banyak mendesain berbagai gedung ikonik di Bandung, C.P Wolff Schoemaker.

Bersama sang adik. R.L.A Schoemaker, Wolff mendesain gedung tersebut dengan gaya Art Deco. Dulu, gedung Jaarbeurs terletak di Jalan Menado Straat (sekarang Jalan Aceh).

Batu Loncatan Basoeki Abdullah

Pelukis kenamaan Indonesia, Basoeki Abdullah juga memiliki sejarah dengan pasar malam ini. Bisa dibilang, Jaarbeurs merupakan salah satu momen batu loncatan kariernya.

AYO BACA : Pertahankan Sistem Hitung Sempoa, Toko Persegi Berjaya Sejak Zaman Belanda

Hal tersebut merupakan hal yang berani, mengingat kesempatan memamerkan karya di pameran yang didominasi kaum Eropa merupakan hal yang langka. Dia mendapat kesempatan tersebut karena sang arsitek gedung, C.P Wolff Schoemaker adalah salah satu pengagum karya lukis Basoeki.

Berdasarkan keterangan yang dimuat dalam laman web Museum Basoeki Abdullah, kesempatan emas itu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Basoeki. Dia sempat berkonsultasi dengan kakak dari Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Sosrokartono untuk memilih lukisan mana yang akan dipajang di Jaarbeurs pada 1933 tersebut.

Sosrokartono kemudian memberi saran agar lukisan berjudul Lukisan Pertempuran Gatotkaca dan Antasena menjadi karya yang dipilih. “Bas, dengan lukisan ini kamu akan dapat berkah," ungkapnya kala itu.

gatotkaca-antasena

Lukisan Pertempuran Gatotkaca dan Antasena yang dipamerkan Basoeki Abdullah pada Jaarbeurs Bandung, 1933. (museumbasoekiabdullah.or.id)

Di sisi lain, Basoeki juga menilai karya tersebut berpotensi dilirik sebagai sesuatu yang eksotis bagi orang-orang Eropa, dan oleh karenanya dapat bersinar di antara lukisan lainnya. Dia juga sekaligus berupaya mematahkan dominasi pelukis-pelukis Eropa di Jaarbeurs.

Akhirnya, keyakinannya tersebut membawa hasil. Diceritakan bahwa banyak pengunjung yang terkagum-kagum dengan lukisan yang menggambarkan semburan api dan sambaran halilintar dari dua sosok yang berperang tersebut.

Para pengunjung kemudian menaruh uang di bawah lukisan milik Basoeki, dan hal itu berlangsung selama berhari-hari. Walhasil, Basoeki membawa pulang uang dalam jumlah yang besar selepas acara tersebut usai.

Dari sana jugalah, Basoeki mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan lukis di Belanda sebagaimana yang selalu dicita-citakannya. Di tahun yang sama, dia berhasil bertolak ke Belanda untuk menempuh pendidikan di Koninklijke Academie Van Beeldenden Kunsten, Den Haag.

AYO BACA : Menyusuri Sejarah Toko Foet Bandung yang Langgeng Sejak 1934

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar