Yamaha

Tak Ada Perda Terkait Renternir, Dadang Naser: di Islam Jelas Haram

  Minggu, 09 Februari 2020   Fira Nursyabani
Bupati Bandung Dadang M Naser. (Dok. Humas Pemkab Bandung)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Bupati Bandung Dadang M. Naser mengaku prihatin terhadap kasus pembunuhan yang menimpa salah satu warganya akibat kasus utang piutang. Ia pun mengingatkan seluruh masyarakat, agar tidak terlibat utang piutang apalagi dengan rentenir.

"Saya imbau kepada seluruh warga, hati-hati kepada siapa kita berutang. Awalnya manis berdalih menolong, padahal pinjamannya bunga berbunga dan akhirnya mencekik," ujar Bupati Dadang dalam pernyataan resminya yang diterima Ayobandung.com, Minggu (9/2/2020).

Maraknya praktik rentenir, bank emok, atau apapun sejenisnya, menurut pandangannya tidak membutuhkan penerbitan peraturan daerah (perda). Karena dalam ajaran agama Islam, sudah jelas praktik tersebut haram hukumnya.

"Kalau surat himbauan atau edaran kepada aparat desa dan kecamatan, itu sangat bisa. Tapi intinya bukan sekedar edaran, seluruh pihak harus Sabilulungan memberi keyakinan dan penjelasan. Jangan main-main dengan hal-hal yang berlawanan dengan agama, karena pasti berujung pada subhat dan madharat," tegas dia.

Ia menjelaskan, pemerintah sudah menyediakan jalur bagi warga yang membutuhkan pinjaman, yaitu melalui bank resmi. Ia pun meminta bank resmi agar proaktif mengikis keberadaan bank emok, dengan mempermudah persyaratan pinjaman.

"Selain itu saya imbau pula seluruh bank konvensional, niatkan bertransaksi secara syari'ah. Niatnya itu yang harus diaplikasikan dalam sistem perbankan. Ada kekeluargaan, pola bayar, cicil, bagi hasil. Innamal a'malu binniyat, itu yang penting," tutur Dadang.

Tidak lupa, ia pun memberi peringatan kepada pelaku praktik rentenir. "Jangan membuat bank gelap, bank emok, atau usaha haram berkedok koperasi. Carilah bisnis yang benar, bisnis sektor riil," ungkapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar