Yamaha

Guru dan Ceritanya

  Sabtu, 08 Februari 2020   Netizen Feri Anugrah
[Ilustrasi] Anggota Praja Muda Karana (Pramuka) SLB Negeri A Kota Bandung saat bernyanyi didampingi oleh gurunya di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (15/1/2020). Kegiatan Pramuka ini bertujuan memberikan pendidikan karakter bagi anak, mereka dilatih kepemimpinan dan kemandirian. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.COM -- Saya termasuk orang yang bersyukur pada Sang Khalik memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai guru. Apa sebabnya? Saya jadi lebih mengetahui bagaimana repotnya menjadi guru, apalagi guru SD yang notabene seluruh muridnya masih anak-anak.

Pada suatu sore ketika saya menjemput istri ke sekolah, tidak biasanya dia diam. Biasanya kalau di motor, sambil menggendong si kecil, dia sering langsung curhat tentang apa yang terjadi di kelas hari itu. Namun, saat dia itu diam. Ah, saya juga diam. Mungkin si cinta sedang tidak ingin diganggu siapa pun. Ya, sudah.

Sesampainya di rumah, barulah dia curhat tentang apa yang terjadi hari itu. ”Abi sebel da ih hari ini mah,” kata istri saya. “Sebel kumaha kitu?” saya menimpali sambil memperhatikan raut mukanya yang memang terlihat agak kesal.

”Abi dicarekan ku orang tua gara-gara anakna pas pulang ka rumah bajuna baseuh. Padahal, mah abi teu apal kunaon baju budak eta baseuh,” kata dia. Saya mendengar hal itu sedikit tertawa. Mendengar saya tertawa, dia langsung mencubit saya.

Ternyata istri saya dimarahi oknum orang tua salah satu muridnya. Sebabnya baju murid tersebut basah begitu sampai rumah. Kemudian, ditanya oleh orang tuanya mengapa baju murid itu basah, si anak menjawab karena “dibanjur” temannya.

Sontak saja orang tua tersebut menelepon gurunya, yakni istri saya, untuk menanyakan hal itu dengan nada marah-marah. Akhirnya, ditanyalah si murid itu baik-baik, ternyata baju dia basah karena memang dia “huhujanan” alias main air bersama temannya. Si anak berbohong pada orang tuanya karena dia takut dimarahi.

Namun, tetap saja nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin diubah lagi menjadi beras. Informasi mengapa baju si murid bisa basah belum tergali, marah sudah tidak bisa dibendung lagi. Terjadilah salah paham meskipun akhirnya oknum orang tua tersebut meminta maaf pada istri saya karena dia memang terlalu percaya jawaban si anak.

Ya, begitulah jadi guru: harus siap dengan risiko apa pun. Ketika istri saya dimarahi oknum orang tua, dituduh tidak bertanggung jawab kalau ada murid cedera akibat terjatuh ke lantai, atau dibicarakan di grup whatsapp karena selalu pasang status, saya hanya bisa “ngupahan” istri dengan kalimat dukungan.

Memang risikonya seperti itu. Guru yang lain pun kurang lebih sama dengan apa istri saya alami. Bahkan, di tempat lain ada guru yang sampai adu jotos dengan oknum orang tua yang tidak terima anaknya didisiplinkan oleh guru. Bisa saja seperti itu. Jadi, apa pun bisa terjadi. Tinggal kita bisa bersikap bijak dan saling menghargai.

Tugas guru memang sangat berat. Pertanggungjawabannya sampai akhirat nanti di hadapan Sang Khalik. Belum sampai akhirat, di dunia saja tugas guru memang segudang. Apa contohnya? Menyusun RPP, silabus, laporan ini dan itu, menyusun kegiatan ini kegiatan itu, bahkan sampai menceboki anak yang tidak mau cebok sehabis pipis atau buang air besar—maklum masih kelas satu SD.

Apa lagi? Banyak sebetulnya. Ditambah kalau ada oknum orang tua yang selalu mengomel ini dan itu, padahal perkaranya sangat sepele. Menghadapi hal itu istri saya sering kewalahan. Apalagi istri saya mengajar di sekolah swasta yang pulangnya hampir sama dengan jam pulang karyawan kantoran: sekira pukul 15.30 selepas asar.

Walaupun jam mengajar yang sangat panjang, tugas administrasi yang rumitnya tidak ketulungan, dan seabrek kegiatan lainnya yang menyitwa waktu, tetapi istri saya tetap semangat mengajar. Berangkat pagi, pulang menjelang magrib.

”Neng, ngajar mah niatna karena Allah we. Tong karena gajih da gajih guru mah teu sabaraha,” sering saya nasihatkan ucapan ini untuk memotivasi istri.

Tujuannya apa kalau niat mengajar karena Allah? Ya, supaya tetap kuat mengerjakan tugas pokok seorang guru, tidak balik marah kalau ada oknum orang tua yang marah-marah, dan tidak putus asa menghadapi murid yang bandel.

Selain itu, dengan niat mengajar karena Allah, ketika banyak orang tua memberi istri saya bingkisan sebagai ucapan terima kasih, dia bisa tambah bersyukur. Kemudian, dia sadar sebagai guru bahwa di antara oknum orang tua yang suka marah, ternyata lebih banyak orang tua yang baik hatinya, yang mudah diajak kerja sama, dan orang tua yang selalu memberikan dukungan terhadap cara istri saya dalam mendisiplinkan anak didiknya.

Kalau niat dasar dalam mengajar seperti itu, bukankah sangat indah? Oh, tentu saja. Ketika ada oknum orang tua yang marah, anggaplah itu sebagai kritik dan masukan karena guru juga memiliki kekurangan. Ketika banyak orang tua yang baik hatinya dan sering memberikan bingkisan, misalnya, anggaplah itu sebagai cara Allah memuliakan guru. Dibawa santai saja supaya menjadi indah.

Netizen : Feri Anugrah
Feri Anugrah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar