Yamaha

Problematika Kemiskinan dan Pendidikan

  Sabtu, 08 Februari 2020   Netizen Ade Mulyono
[Ilustrasi] Problematika pendidikan dan kemiskinan. (Pixabay)

AYOBANDUNG.COM -- Dalam pendapat umum kita sering mendengar bahwa keluarga miskin akan melahirkan generasi yang tak kalah miskinnya. Secara empirik saya rasa jawaban itu benar. Sebagaimana dijelaskan disiplin ilmu sosial; kemiskinan selalu satu titik garis lurus dengan rendahnya pendidikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan jika di suatu daerah penduduknya hidup dalam garis kemiskinan, maka bisa dipastikan pendidikan di wilayah tersebut terabaikan. Tentu kita bisa berdalih, bahwa pendidikan bukan faktor tunggal penyebab terjadinya kemiskinan. Ada faktor ekonomi, politik, dan sosial-budaya yang juga tidak bisa disampingkan. Akan tetapi, kita sulit untuk mengelak karena hanya pendidikan jawaban rasional yang bisa kita terima untuk memutus rantai kemiskinan.

Salah satu penyebab utama tingginya angka kemiskinan di Indonesia ialah eksistensianya masyarakat struktural (masyarakat yang sukar merubah hidupnya melalui pendidikan). Tentu kita bisa memahami kuatnya pengaruh 'local wisdom' yang merangkeng alam pikir masyarakat struktural (tradisional). Seperti ada anggapan jika banyak anak akan mendatangkan banyak rezeki; Hidup perempuan pada akhirnya di dapur dan di ranjang; Orang tua lebih memilih anaknya membantu pekerjaannya daripada harus sekolah. Hal semacam itulah yang masih kita jumpai di masyarakat struktural khususnya di daerah perdesaan.

Polarisasi kemiskinan

Pertanyaannya, bagaimana polarisasi kemiskinan bekerja? Selama ini dalam pandangan masyarakat struktural menganggap kemiskinan adalah nasib (takdir). Jawaban yang beredar luas mengepung masyarakat struktural semacam itu bagi saya ialah suatu pola pikir irasional (cognitive bias).

Coba kita renungkan ulang, ada seorang yang bekerja puluhan tahun lamanya sebagai tukang becak. Selama itu pula ia menjalani hidup dalam keadaan miskin. Apakah ia mencintai pekerjaan itu yang dipercayainya sebagai takdir? Jika saya diminta untuk memberikan jawaban rasional, maka jelas orang tersebut tidak punya pilihan karena ketiadaan akses dan 'keterbatasan' pendidikan (sebagaimana kebutuhan kehidupan modern yang mengutamakan legitimasi ijazah sekolah karena mencakup keterampilan di dalamnya).

Tanpa disadari problematika rantai kemiskinan yang menjerat masyarakat bekerja secara terstruktur. Artinya ada suatu keadaan ketika seseorang tidak bisa melepaskan diri dari jerat kemiskinan seumur hidupnya. Misalnya begini; ada seorang anak dari keluarga miskin yang putus sekolah, maka si anak akan memilih bekerja, kemudian menikah tanpa kematangan mental dan persiapan materil. Yang terjadi kelak ia akan melahirkan generasi yang tidak akan jauh dari nasib dirinya: miskin.

Pada kasus lain yang tak kalah kompleksnya saya ilustrasikan begini; ada dua keluarga yang satu kaya dan lainnya miskin. Dua keluarga itu sama-sama menyekolahkan anaknya. Si anak dari dua keluarga tersebut sama-sama punya potensi secara akademik di sekolahnya. Namun, dalam 10 tahun ke depan si anak dari dua keluarga yang berbeda tersebut sama-sama akan menjalani warisan polarisasi hidup orangtuanya; yang satu hidup sebagai orang kaya dan satunya lagi harus menjalani hidup dalam lingkaran kemiskinan.

Sebab, dalam berbagai riset ditemukan, jika genetika dari keluarga kaya mempunyai kemampuan untuk menunjang pendidikan dan kehidupan anaknya; mewajibkan ikut kursus, pola makan sehat, dan mempunyai 'jaringan sosial' luas yang memberinya kemudahan akses untuk mewujudkan kehidupan lebih baik. Sebaliknya, si anak dari keluarga miskin tidak mempunyai banyak kemampuan untuk menunjang pendidikan dan kehidupannya. Serta minimnya akses 'jaringan sosial' untuk dapat mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Hal itu juga yang menjadi 'catatan' Nicolaus Driyarkara: disintegrasi. Setiap perubahan sosial (disintegrasi) dengan sendirinya mengakibatkan seribu persoalan dalam pendidikan.

kritik terhadap pendidikan

Persoalan lain yang perlu dipertanyakan ulang ialah sistem pendidikan seperti apa yang kita punyai sehingga gagal mengangkat harkat manusia untuk hidup lebih baik?

Pendidikan kita (Indonesia) masih jauh dari ide system thinking dan keluwesan proses belajar nonkognitif. Peserta anak didik selalu diarahkan dalam memandang dunia secara positivistik yang mandek pada sistem pembelajaran kognitif semata.

Selama ini sekolah sebagai lembaga otoritas yang dipercaya masyarakat dapat merubah nasib manusia seringkali alpa dari koreksi kritik. Tidak adanya monitoring yang mapan dalam pendidikan menyebabkan tertundanya cita-cita mengentaskan kemiskinan.

Saya pikir tidak perlu alergi untuk mengikuti role model pendidikan 'Barat' yang lebih luwes pada aspek nonkognitif (menyiapkan peserta anak didik dengan mengolah keterampilan untuk mengatasi suatu masalah dan menguji konsistensi dalam menghadapi berbagai tekanan). Karena peserta anak didik bukanlah robot yang bekerja secara mekanik. Itulah yang terjadi dalam sistem pendidikan kita yang kaku. Padahal, menurut Nicolaus Driyarkara, bahwa pendidikan merupakan proses kegiatan sadar untuk memanusiakan manusia (hominisasi dan humanisasi).

Perlu menjadi peremenungan bersama mengingat pentingnya (mutu) pendidikan sebagai titik tolak kemajuan sebuah bangsa. Dengan kata lain, pendidikan ialah investasi (tabur-tuai) dalam proyeksi jangka panjang yang harus terus menerus dirawat (upgrade). Seperti yang dikatakan oleh Amartya Sen dalam bukunya  'Identity of Violence'. Menurutnya, keterbelakangan ekonomi tidak semata-mata dipengaruhi oleh pengaruh 'budaya'. Ada peran pendidikan dan politik yang mempunyai pengaruh besar.

Misalnya, pada tahun 1960 pendapatan per kapita antara Ghana dan Korea Selatan setara. Akan tetapi, 30 tahun kemudian Korea Selatan telah menjadi salah satu rakasa industri dengan peringkat 14 besar perekonomian dunia. Perubahan itu tidak diikuti oleh Ghana, yang saat ini pendapatan per kapitanya sekitar seperlima belas dari pendapatan per kapita Korea Selatan. Masih menurut Sen, salah satu faktor keberhasilan ekonomi Korea Selatan ialah tingkat literasi yang jauh lebih tinggi dan sistem pendidikan (sekolah) jauh lebih maju ketimbang Ghana. Inilah yang saya sebut pendidikan ialah investasi (tabur-tuai) bangsa dalam proyeksi jangka panjang.

Akan tetapi, dalam berbagai hal pendidikan sering dibenturkan dengan 'local wisdom' seperti pandangan masyarakat struktural yang selalu melihat Indonesia dari aspek sumber daya alamnya, bukan melihat potensi sumber daya manusianya. Akibatnya, ada 'imajinasi kebudayaan' yang mendorong kita untuk berpikir, bahwa hidup akan baik-baik saja meski tidak mengenyam pendidikan (kendati harus hidup dalam garis kemiskinan). Saya pikir di situ denyut nadi persoalannya.

Ade Mulyono

ade

Ade Mulyono.  Pemerhati Pendidikan.  Menulis fiksi dan nonfiksi. Tulisanya dimuat di Media Indonesia, Harian Rakyat Sultra, Suara Merdeka, Republika, Koran Merapi, Radar Surabaya, Bangka Pos, Padang Ekspres, Harian Analisa,  Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Pontianak post, Solo Pos, Medan Pos, Denpasar Post, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Banjarmasin Post, Malang Pos, Tribun Jateng dan media online SuaraKebebasan.org, Geotimes. Novel perdananya "Lautan Cinta Tak Bertepi" terbit tahun 2018 dengan nama pena Arian Pangestu. Sedangkan menyiapkan buku nonfiksi "Hidup Seperti Apa yang Kita Inginkan?".

Netizen : Ade Mulyono
Ade Mulyono

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar